Ketulusan Hati

Ketulusan Hati
61


"Wah anak bunda sudah cantik" ucap Dara mencium pipi Ara dengan gemas, saat ini Ara baru selesai mandi. Dara membawa Ara keluar dari kamar, seperti biasa setiap pagi Dara akan membawa Ara ke taman untuk berjermur.


"Assalamualaikum" ucap seseorang saat Dara keluar dari kamar.


"Wa'alaikumusalam" ucap Dara berjalan menuju pintu, Dara membuka pintu dan mendapati seorang wanita berdiri didepan pintu. Terlihat jika wanita itu sedikit terkejut saat melihat Dara menggendong Ara.


"Pak Arham nya ada?" tanya wanita itu sambil melihat kedalam, Dara mengernyit bingung.


"Ada, silahkan masuk" ucap Dara mempersilahkan wanita itu masuk.


"Tunggu sebentar" ucap Dara yang hendak memanggil Arham, namun Arham sudah terlebih dahulu turun dari lantai atas.


"Em, ada tamu" ucap Dara canggung.


"Siapa?" tanya Arham bingung, Dara menggelengkan kepalanya karena ia tidak tahu siapa wanita itu. Arham menatap Dara sebentar, lalu ia berjalan menuju ruang tamu.


"Linda?" ucap Arham saat melihat wanita yang kini tengah duduk manis di sofa.


"Pagi pak, maaf saya tidak beri tahu bapak jika saya mau kesini. Saya cuma mau bilang sesuatu pada bapak" ujar Linda bangun dari duduknya.


"Bilang apa?" tanya Arham datar, ia duduk lumayan jauh dengan Linda. Lumayan lama mereka saling terdiam hingga Linda memutuskan untuk melanjutkan ucapannya.


"Em, saya... Saya suka sama bapak. Saya tahu ini salah, tapi saya mengatakan ini karena saya ikhlas mencintai bapak. Saya ingin menikah dengan bapak"


PRANGG


Linda dan Arham langsung menoleh kearah suara, Arham sangat terkejut saat melihat Dara sedang berdiri disana. Arham bangun dari duduknya dan berjalan menghampiri Dara.


"Apa yang kamu lakukan, apa kamu terluka? Kamu tidak perlu repot membuatkan dia minuman" ucap Arham begitu panik.


"Ma... Maaf" ucap Dara yang langsung berlari kekamar.


Dara menjatuhkan dirinya di atas ranjang, air matanya mengalir begitu deras saat mengingat ucapan Linda tadi.


"Sakit sekali" ucap Dara memukul dadanya yang sesak, ia juga bingung karena dirinya begitu marah saat melihat Arham dengan wanita lain. Ditambah lagi wanita itu berani mengungkapkan perasaannya dengan lantang pada Arham.


Pintu kamar terbuka dan menampakkan Arham sudah berdiri disana, Dara langsung bangun dan menghapus air matanya.


"Dia hanya mahasiswiku di kampus, aku tidak pernah memiliki hubungan apapun dengannya" ucap Arham hendak menyetuh lengan Dara, namun Dara langsung menghindar. Dara pergi melewati Arham, namun dengan cepat Arham mencekal lengan Dara. Seulas senyuman tersungging di bibir Arham.


"Kamu cemburu?" tanya Arham menarik Dara kedalam dekapannya. Dara membulatkan matanya karena ulah Arham.


"Sa--saya tidak cemburu, tolong lepaskan saya" ucap Dara begitu gugup dan terus berusaha melepaskan diri dari Arham.


"Aku hanya mencintaimu sayang, jangan pernah berpikir jika aku akan berpaling darimu" ucap Arham, terlihat semburat merah dipipi mulus Dara.


"Ara menangis, saya mau liat Ara" ucap Dara melepaskan dekapan Arham dan langsung berjalan menuju box tempat Ara tertidur. Arham tersenyum saat melihat tingkah istrinya yang begitu lucu.


"Ara tidur, dia sama sekali tidak menangis" ucap Arham menghampiri Dara.


"Ta--tadi Ara menangis" ucap Dara duduk di tepi ranjang dan menghindar agar tak melihat kearah Arham. Arham menghela nafas panjang, ia ikut duduk di sebelah Dara.


"Aku harus pergi kekampus, dia juga sudah menunggu di depan. Apa kamu.. " belum selesai Arham bicara, Dara sudah memotong ucapan Arham.


"Saya mau ikut" ucap Dara dengan cepat, Dara sangat terkejut dengan ucapan yang keluar begitu saja dari mulutnya.


"Ma--maaf" ucap Dara yang langsung menundukkan kepalanya.


"Bersiaplah jika kamu ingin ikut, jangan lama. Dia sudah menunggu kita didepan" ucap Arham yang langsung beranjak keluar.


"Dara ikut?" tanya Hesti yang di jawab anggukkan oleh Arham.


"Baik lah, mama akan menjaga Ara" ucap Hesti tersenyum. Arham pun mengangguk dan langsung beranjak keluar dari kamar Hesti.


Dara melihat kiri dan kanan untuk mencari keberadaan seseorang, namun ia sama sekali tak melihatnya.


"Masuk lah, kita sudah terlambat" ucap Arham dari dalam mobil. Dara pun mengangguk dan hendak membuka pintu belakang.


"Didepan Dara, aku suamimu bukan supir" ucap Arham, Dara yang terkejut pun langsung mengangguk.


"em, wanita tadi mana?" tanya Dara dengan takut sambil melihat kebelakang untuk mencari keberadaan Linda.


"Dia sudah pulang, aku mengusirnya" ucap Arham santai dan langsung melajukan mobilnya.


"Kenapa?" tanya Dara begitu polos dan berhasil membuat Arham sangat gemas.


"Karena dia sudah membuat istriku cemburu, jadi aku mengusirnya" ucap Arham melirik Dara. Dara menundukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Apa kamu lapar?" tanya Arham membuat Dara terkejut.


"Tidak" ucap Dara menatap Arham.


"Aku sangat lapar, bisa kau temani aku makan?" tanya Arham melirik Dara, Dara pun langsung memalingkan wajahnya saat Arham memergoki dirinya sedang menatap Arham. Dara mengigit bibirnya karena sangat gugup, ia juga menyentuh dadanya yang berdebar hebat.


"Apa kau sakit?" tanya Arham khawatir.


"Ti--tidak" ucap Dara semakin gugup saat tangan Arham menyentuh tangannya. Arham yang sadar akan hal itu pun langsung menyingkirkan tangannya dan menatap lurus kedepan.


"Makan, aku tahu kau lapar" ucap Arham pada Dara, saat ini mereka berada di salah satu warung makan.


"Saya tidak... "


"Kamu harus makan, setidaknya pikirkan anak kita dia membutuhkan asi darimu" ucap Arham menatap Dara, Dara yang mendengar itu pun merasa sangat malu.


"Jangan kencang-kencang, nanti orang lain dengar" ucap Dara, Arham yang mendengar itu tersenyum geli.


"Jangan pedulikan mereka, jika kamu masih tak ingin makan aku akan menyuapimu" ucap Arham.


"Tidak perlu, saya bisa makan sendiri" ucap Dara yang langsung menarik piring yang hendak Arham ambil.


"Makan yang banyak, kamu sangat kurus. Aku tidak menyukainya" ucap Arham sambil menyantap sarapannya. Dara hanya bisa menunduk karena sangat canggung, bagi Dara ini adalah pertama kalinya ia duduk berdua dengan pria yang bukan keluarganya.


***


Siang hari Dara dan Arham pun pulang kerumah, Dara berjalan terlebih dahulu karena ia sangat merindukan Ara.


"Assalamualaikum" ucap Dara masuk ke dalam rumah.


"Wa'alaikumusalam" ucap Hesti dengan Ara dalam gendonganya. Dara tersenyum dan langsung menghampiri Hesti, Dara mencium anaknya dengan sangat lembut.


"Kenapa belum tidur sayang?" tanya Dara mengambil alih Ara kedalaman gendonganya.


"Mama juga tidak tahu, biasanya Ara jam segini sudah tidur. Mungkin dia merindukan bundanya" ucap Hesti.


"Maafkan bunda sayang, sekarang Ara bobok ya?" ucap Dara mengecup pipi Ara, Arham yang melihat itu tersenyum bahagia. Ia tidak pernah mengira jika sekarang ia akan meraskan sebuah kebahagiaan yang begitu besar.


'Aku tidak akan melepaskanmu, apa pun yang terjadi aku akan selalu melindungi kalian. Kalian adalah tujuan hidupku dan akan selalu menjadi prioritasku' batin Arham.