Ketulusan Hati

Ketulusan Hati
94


"Ra aku minta maaf, aku... "


"Tidak apa-apa Nis, aku faham kok" ucap Dara memotong ucapan Nissa. Ia menggenggam tangan Nissa. Nissa memeluk Dara.


Beberapa jam yang lalu Dara mendapatkan pesan singkat dari Syila jika Nissa ada di rumahnya. Tanpa pikir panjang, Dara pun langsung meluncur untuk menemui kedua sahabatnya.


Canda tawa ketiga wanita cantik itu kini memenuhi ruangan. Tidak ada lagi kesedihan, tak ada lagi perpisahan. Mereka kembali berjanji untuk terus bersama.


"Cantik" ucap Dara saat melihat Nissa kini sudah mengenakan balutan hijab.


"Aku sudah memutuskan untuk menggunakan ini Ra. Aku ingin seperti kalian. Tolong ajari aku" ujar Nissa. Dara yang mendengar itu sangat terharu.


"Kita akan sama-sama untuk belajar Nissa, iya kan kakak Ipar?" ucap Dara mengedipkan matanya pada Syila.


"Iya Nis, adik Ipar benar kok. Kita juga masih belajar kok. Yang penting tetap istiqomah" ucap Syila. Lalu mereka pun berpelukan. Ah, bahagianya bisa memiliki ikatan persahabatan yang begitu hangat.


"Mama, Alan boleh kan nanti ikut main kerumah Ara?" suara itu berhasil membuat ketiga wanita itu melepaskan pelukan mereka.


"Jangan sayang, nanti kamu merepotkan bunda Dara" ucap Nissa membawa Alan ke pangkuannya.


"Enggak kok, Bunda gak pernah merasa direpotkan. Malah bunda senang kalau Alan main kerumah, jadi tambah rame" ucap Dara mencubit pipi Alan dengan gemas.


"Iya, Ara juga senang. Jadi Ara gak kesepian lagi deh. Dek Azka gak bisa diajak main" ucap Ara ikut duduk dipangkuan Dara.


"Adek kan masih kecil sayang" ucap Syila mengelus kepala Ara.


"Alan nginap aja di rumah Ara, kan biar bisa main. Nanti Alan bobok di kamar Ara aja, biar Ara ada teman. Boleh kan bunda?" celetuk Ara yang berhasil membuat semua orang terkejut.


"Jangan dong, kan Ara perempuan. Alan bobok di kamar dek Azka aja. Lagian kan kamarnya sebelahan" ucap Dara.


"Ya udah, Alan jadi perempuan aja. Biar kita bisa bobok bareng" ucap Ara membuat ketiga ibu muda itu tertawa bersama.


Saat sedang asik bercanda ria, suara bel pintu pun berbunyi. Ketiga wanita itu saling melempar pandangan.


"Biar aku aja yang buka" ucap Nissa saat melihat Syila hendak bangun dari duduknya. Syila tersenyum dan mengangguk. Nissa pun berjalan menuju pintu. Suara bel terus berbunyi.


"Ya ampun gak sabar amat sih tamunya" ucap Nissa memutar handle pintu. Ia membuka pintu dengan pelan. Senyuman dibibirnya sedari tadi tak juga pudar.


"Maaf mau... " mulut Nissa seketika terdiam saat melihat sosok yang kini tengah berdiri dihadapannya. Senyuman yang tadi mengembang pun kini perlahan mulai menghilang.


Mata tajam itu terus memandang wanita yang saat ini ada dihadapannya. Cantik. Satu kata yang sangat ingin ia ucapkan. Namun mulutnya seakan terkunci rapat.


"Mau apa kesini?" tanya Nissa begitu dingin. Ia juga memalingkan wajahnya.


"Aku ingin menjemput istriku? Apa itu salah?" ucap Arnold tetap setia menatap wajah cantik sang istri. Nissa terdiam.


"Maafkan aku" ucap Arnold hendak menggenggam tangan Nissa. Namun Nissa langsung menghindar. Nissa melangkah mundur, ia hendak menutup pintu namun dengan cepat ditahan oleh Arnold.


"Jangan seperti ini, aku mohon. Berikan aku kesempatan kedua Nissa. Aku ingin memperbaiki semuanya." ucap Arnold dengan nada memohon. Ini adalah kali pertama seorang Arndol memohon pada seseorang.


Dara dan Syila pun langsung beranjak keluar saat mendengar suara ribut. Mereka cukup terkejut saat melihat Arnold disana. Syila mendekati Nissa dan memeluknya.


"Sudah jangan menangis" ucap Syila mengusap kepala Nissa. Lalu pandangan Syila pun beralih pada Arnold.


"Izinkan Nissa berada disini beberapa saat. Biarkan dia menenangkan diri, kami akan bicara padanya" ucap Nissa pada Arnold.


"Tidak, aku yang akan bicara padanya. Dia harus tahu jika aku benar-benar ingin meminta maaf. Aku mengakui semua kesalahanku, biarkan aku meyakinkan dia sendiri" ujar Arnold penuh harap.


"Aku tidak mau dengar, pergi!! Aku membencimu mas.. Aku benci!!" teriak Nissa. Syila dan Dara pun kembali khawatir dengan keadaan Nissa.


"Saya mohon, tolong berikan Nissa waktu" ucap Dara menangkup kedua tangannya. Lalu ia langsung menutup pintu. Arnold hendak menahan, namun semuanya sudah terlambat. Pintu itu kini telah kembali tertutup rapat. Arnold mengacak rambutnya kesal, ia benar-benar putus asa.


"Istirahat ya" ucap Syila mengajak Nissa kekamar.


"Aku buatkan susu dulu buat Nissa" ucap Dara yang di jawab anggukkan oleh Syila. Dara menghela napas berat. Jujur ia tidak tega melihat keadaan Nissa dan juga suaminya. Dara tahu kedua insan itu saling memendam rasa, tapi kekecewaan kini tengah menyelimuti hati Nissa. Mungkin waktu yang akan menjawab semuanya.


***


Hujan begitu deras menguyur ibu kota. Suara gemuruh terdengar begitu jelas. Nissa menarik kedua kakinya dan menopang dagunya disana. Ia menatap jendela yang sedikit berembun karena hujan.


'Aku ingin sekali membencinya. Tapi tidak bisa, rasa cintaku lebih besar untuknya. Kecewa, ya aku kecewa dengan semua sikapnya padaku. Aku masih takut untuk memaafkan dia, aku takut dia hanya merasa bersalah. Bukan karena benar-benar mencintaiku'


Hiks. Nissa hanya bisa menangis, hatinya begitu sakit saat mengingat tentang suaminya. Suami yang selalu menyakiti hati, dan jiwa raganya. Tak berapa lama Nissa pun sayup-sayup mendengar suara teriakan seseorang. Ia menyibak selimutnya dan berjalan menuju jendela.


"NISSA AKU SANGAT MENCINTAIMU, JIKA KAU MASIH TIDAK PERCAYA. AKU AKAN TETAP BERDIRI DISINI SAMPAI KAU KELUAR. AKU TIDAK PERDULI JIKA PETIR AKAN MENYAMBARKU. AKU INGIN KAU KEMBALI PADAKU!!" teriak seorang pria dibawah guyuran air hujan yang begitu deras. Nissa menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang. Arnold berdiri disana dengan keadaan yang berantakan. Jas ia pakai kini sudah tersampir di lengannya. Dasi yang ia kenakan pun sudah tak lagi berada di tempatnya.


Ingin sekali rasanya Nissa berlari dan menghampiri untuk memeluk suami nya itu. Namun rasa sakit itu kembali hadir. Ia menutup gorden jendela dengan kasar, Ia kembali duduk diranjang. Air matanya terus berjatuhan seakan enggan untuk berhenti.


"Tidak Nissa, jangan cengeng. Dia tidak pantas untuk di tangisi. Cukup, berhentilah menangis" ujar Nissa mengusap pipinya dengan kasar. Ia menarik selimutnya dan kembali berbaring. Nissa berusaha untuk menutup matanya, namun tak kunjung terpejam. Suara petir terus menggelegar. Ada sedikit rasa takut di hati Nissa.


"Dia sudah pergi Nissa, jangan memikirkan dia lagi" ucap Nissa semakin merapatkan selimut di tubuhnya. Bibirnya bergetar. Matanya terus berusaha untuk terpejam, namun lagi-lagi bayangan wajah Arnold muncul.


Ceklek. Pintu kamar pun tiba-tiba saja terbuka. Syila berdiri diambang pintu dengan wajah sedih, Nissa mengernyit bingung. Lalu ia kembali mengingat sesuatu...


"Mas Arnold... " ucap Nissa menyibak selimutnya dan langsung beranjak keluar. Ia tidak lagi menghiraukan Syila yang hendak bicara. Nissa terus berlari dengan jantung yang berdegup kencang.


"Mas...."


Nih bagi yang Kepo dengan Ara dan Azka aku kasih visual nya ya




Oh iya, baby Azka nya lupa..😂😂😂😉