Ketika Takdir Kembali Memilih

Ketika Takdir Kembali Memilih
Extra Part


Sudah enam bulan berlalu sejak malam pernikahan yang Nico dan Diandra lakukan. Semua kembali berjalan seperti biasa. Nico dan Dian kembali pada pekerjaan dan anak-anak memulai ajaran barunya.


Mungkin hanya satu orang yang merasa berjalan di tempat.


"Makanlah lebih dulu sebelum Nico pulang," ucap Dian setelah meletakkan beberapa hidangan yang di masaknya sendiri.


"Thank you."


Dian mengangguk sekali sambil menyesap susu hangatnya, namun matanya tak lepas mengamati orang di depannya ini.


"Kau pandai memasak," pujinya, "tak heran Lily sering memamerkan bekal sekolahnya." Mita terkekeh kecil.


Orang itu adalah Mita. Beberapa bulan ini Mita sering mengunjungi mansion untuk sekedar bertemu atau bermain dengan Lily dan Emi. Tentu saja itu tanpa sepengetahuan Nico. Mita tidak seberani Ricard yang datang kapan saja.


Rico sendiri sudah ikut dengan Johan sejak enam bulan yang lalu, namun setiap minggu Rico akan datang untuk menginap.


"Itu juga berkatmu." Dian tersenyum tipis.


Jika tidak dipaksa untuk memasak di masa lalu, mana mungkin Dian bisa melakukan itu sekarang.


"Aku benar-benar merasa bersalah padamu—"


"Aku tidak ingin dengar permintaan maaf lagi."


Mita menyuap lagi makanannya dengan wajah sendu. Bisa dibilang hubungannya dengan Dian hampir membaik. Wanita itu sudah menerimanya dengan tangan terbuka dan tak lagi menatapnya sebagai musuh. Hanya Nico yang masih sulit menerimanya. Sikap dingin itu masih sama.


Dian hampir terbiasa melihat wajah sendu Mita. Ia tahu itu tidak dibuat-buat. Sejujurnya ia tidak pernah membenci ibu mertuanya ini. Percayalah segelas susu hamil yang pernah dibuat Mita untuk bayi yang tak diharapkan itu telah menyentuh sedikit hatinya.


Syukurlah kau masih menunjukkan kebaikan meski hanya segelas susu.


"Aku sudah berjanji soal Nico, kan? Aku sudah bicara padanya, tapi siapa sangka dia lebih sulit daripada aku."


Mita mengangguk paham. Ia juga tidak bisa memaksa Dian untuk membujuk Nico. Sudah mendapat maaf Dian saja sudah membuat Mita bersyukur.


"Terima kasih," ucap Mita tulus.


-


-


-


-


"Hari ini aku mengundang ibumu."


"Ohiya?"


Alasan apa yang dibuat istrinya kali ini?


"Aku membuat menu baru, jadi kuminta dia mencobanya."


"Lalu?"


"Dia bilang aku pandai memasak."


"Oh."


Ck! Lihatlah sikapnya jika membahas ibunya sendiri. Bagaimana jika Nico yang berada di posisinya? Akan ia apakan Reana sebagai ibunya. Perbuatan Rea lebih kejam daripada Mita!


Uhuk!


Diandra dengan santai memukul dada suaminya yang sedang memakai piyama di depan kaca hingga pria itu terbatuk.


"Ada apa, Sayang?" Nico sedikit menggeram.


Apalagi kali ini? Rasanya Nico sudah menanggapi semua ucapan istrinya. Kenapa wanita ini kesal lagi!


"Setelah kupikir-pikir kau butuh kaca yang lebih besar."


"Hm?"


Apa, apa?! Wanita ini kenapa sih?


"Atas dasar apa kau tidak mau memaafkan ibumu?"


"Tidak!" bantah Dian yakin, "aku sendiri yang bicara sekarang!"


Nico berdecak kesal dan melangkah keluar dari walk in closet. Dian langsung mengikuti.


"Dengarkan aku!"


Sudah kudengarkan sejak tadi! batin Nico.


"Kita sudah sepakat memulainya dengan benar kali ini, kan?" Membawa Nico menghadapnya.


Mereka saling menatap tanpa suara, kemudian terdengar helaan nafas Nico.


"Ayo tidur." Hendak merangkul istrinya, namun Dian menepis dan melangkah sendiri ke ranjang.


"Dian ..." Nico masih berusaha sabar.


"Tidurlah!" gumamnya dari bawah selimut.


Terasa pergerakan di sampingnya. Setelah cukup lama membelakangi Nico, Dian menyembulkan sedikit kepalanya dan menoleh. Bibirnya langsung mengerucut kesal melihat Nico yang juga membelakanginya.


-


-


-


Dian terusik dari tidurnya saat merasakan ada pergerakan di bagian perutnya. Ia membuka sedikit matanya untuk melihat siapa pelakunya meski tidak perlu ditebak lagi siapa orangnya.


Posisi Dian masih sama seperti semalam, namun entah sejak kapan Nico sudah memeluknya seperti biasa. Kini tangan pria itu sudah bermain di perutnya membentuk pola acak.


Nico sendiri bermain sambil menatap istrinya yang masih terpejam. Setiap kali melihat wanita ini, ia merasa jatuh cinta setiap hari. Tidak peduli semenyebalkan apa Dian, pada kenyataannya ia terus terpukau tanpa syarat.


Tapi saat tangannya yang bermain tiba-tiba ditepis, hal itu menyadarkan Nico kembali. Satu lagi kenyataan bahwa Dian masih duplikat singa betina yang sering menunjukkan taringnya. Jangan terlalu berharap untuk Dian-nya yang lembut seperti dulu karena Dian sekarang adalah versi sebenarnya.


"Geli!" ketus Dian menaikkan selimutnya hingga ke leher.


"Kau marah?"


"Tidak!"


"Lalu kenapa bicara ketus begitu?"


Buk! Dian membuka kasar selimut yang dikenakannya dan menendangnya kesal. Ia menoleh sinis pada Nico yang ternyata pria itu sedang menahan senyum. Semakin kesal Dian melihatnya.


Baiklah. Masih soal semalam, batin Nico.


"Menyebalkan!"


Pecah sudah tawa Nico yang tertahan. Diraihnya wajah sang istri dalam rengkuhannya, kemudian mengapitnya gemas hingga bibir Dian berkerucut lucu.


Lagi-lagi Nico terkekeh. Cup! Satu kecupan singkat.


"Maafkan aku, oke?" bujuk Nico.


Meski Dian masih merasa kesal, namun ia tidak bisa marah atau memaksa suaminya ini. Dirinya pun pernah berada pada pase dimana ia begitu marah bahkan hampir membenci ibunya sendiri. Hal itu memang tidak mudah karena Dian sendiri juga butuh waktu hinga bertahun-tahun.


"Aku juga bersalah," lirihnya, "tapi, Nic. Sebenci apapun kita pada ibu sendiri, mereka masih orang yang bertaruh nyawa untuk melahirkan kita. Beberapa waktu ini aku berpikir bagaimana jika suatu hari aku melakukan kesalahan yang membuat Emi atau Lily membenciku. Pasti sangat sakit."


"Enam tahun sudah cukup untuk mereka."


Nico membawa Dian ke pelukannya. Ya, semalaman ini ia sudah memikirkannya. Jika ingin melakukan hal yang benar, maka selesaikan semuanya.


"Aku akan bicara padanya."


...—Extra Part End—...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mau lagi?


Mampir ke novel aku yang ini Sayy⬇️⬇️