
Rico terbangun saat semua masih tertidur. Waktu menunjukkan jika hari masih tengah malam. Bocah itu mengusap matanya dengan punggung tangan, setengah sadar. Ia terbangun karena tidak tahan hendak ke toilet.
Rico melihat Dian yang tertidur pulas dengan Nico yang memeluknya. Begitupun Emi dan Lily yang tak kalah pulas.
Untungnya kamar mereka termasuk VIV sehingga Rico tidak perlu takut pergi keluar karena ruangan mereka sendiri sudah seperti kamar pribadi.
Tidak tega membangunkan yang lain, Rico turun dari ranjang menuju toilet kamar. Biasanya ia selalu ditemani Emi ataupun Lily yang lebih besar darinya. Tubuhnya yang kecil sedikit kesulitan jika harus pergi sendiri.
Seperti sekarang, Rico harus bersusah payah menggapai keran air di wastafel. Ditengah kesulitannya, tiba-tiba seseorang mengangkat tubuh mungilnya. Rico terkesiap, terkejut melihat Nico lah yang melakukannya.
"Kenapa tidak membangunkan kami?" Nico membantunya membersihkan tangan.
"Rico tidak mau mengganggu," jawabnya menunduk.
"Bisa aku bertanya?" tanya Nico. "Apa kau mencintai mama Dian?" Menatap Rico yang balas menatapnya.
Rico mengangguk. "Rico mencintainya." Ia tidak berbohong.
Nico tak mau banyak bertanya. Rico masih kecil untuk pertanyaan orang dewasa.
"Kenapa menunduk?" Nico melembutkan suaranya sembari memberi usapan lembut di kepala Rico. "Maafkan papa membuatmu takut," sesalnya.
Rico mendongak tidak percaya. Apa ia tidak salah dengar?!
"Emi, Lily dan Rico. Kalian semua anak papa. Tidak perlu menghindar lagi. Aku akan menjadi papamu juga."
Dian benar. Anak-anak tidak tahu apapun. Rico hanya perlu dibujuk dan diperlakukan adil. Hati mereka suci. Mereka memperlajari apa yang didengar dan lihat. Mereka tidak perlu takut selagi memberi hal baik.
**
Saat membuka mata, Dian melihat pemandangan yang membuat bibirnya melengkungkan senyuman. Nico dengan setelan kerjanya sibuk menyuapi ketiga bocah-bocah di dekatnya. Mereka saling tertawa dan bercanda satu sama lain. Adapun Rico yang begitu pendiam sekarang terlihat begitu nyaman.
"Mama ayo bangun. Lily sudah boleh keluar," seru Lily melihat ibunya.
Nico tersenyum, meletakkan piring makan dan mendekati istrinya. "Lily sudah diizinkan pergi. Kesehatannya sudah membaik."
"Kita tinggal bersama ya?" bujuk Nico memohon. Ia tidak ingin berpisah lagi.
"Kita bereskan barang anak-anak lebih dulu. Tinggalah dengan kami sementara ini," tawar Dian.
"Tidak masalah." Nico menyetujui.
Tak lama kemudian pintu ruangan terbuka tiba-tiba, menampakkan wanita dewasa yang terlihat khawatir. Serena segera mendekati Lily yang masih duduk di atas brangkar.
"Apa yang terjadi? Kenapa dia dirawat?!" cercanya pada Dian sembari mengecek keadaan Lily.
"Lily baik-baik saja, Tante Sera," ujar Lily.
"Darimana kau tahu? Aku tidak memberitahu siapapun." Dian bangkit dari tidurnya.
"Rehan yang memberitahuku. Dia mengetahui dari Emi." Yang disebut namanya langsung menunduk.
Dian menghela nafas pelan. Ia juga tidak berniat merahasiakannya. Lily hanya demam, jadi tidak perlu merepotkan banyak orang.
"Sudahlah, tidak perlu khawatir. Kakak lihat dia sudah sehat," ucap Dian gamblang.
"Lihat ucapanmu itu! Enteng sekali bicaramu. Jika anakku tidak bilang, aku tidak akan tahu Lily sakit. Menunggu kau bicara? Cih! Aku lebih suka menunggu diskon di butik."
Serena mulai mendumel memarahi Dian tanpa melihat keadaan sekitarnya. Yang diomeli hanya memutar bola matanya jengah. Bukan sekali dua kali Sera berlagak seperti seorang ibu yang memarahi anaknya.
Ketiga bocah disana menutup telinga mereka dengan tangan. Syukurlah Dian tidak banyak bicara seperti Serena. Mereka prihatin dengan Rehan yang mungkin sering menjadi korban ibunya.
"Kenapa menutup telinga! Dengarkan jika orang tua menjelaskan," seru Serena pada anak-anak.
"Mama bilang dengarkan yang baik saja," ucap Emi.
"Jadi aku tidak baik!" Sera berkacak pinggang. Ketiganya serempak menyatukan jari telunjuk dan jempolnya. "Sedikitt."
"Hei!" Ketiganya cekikikan.
"Ibu dan anak sama saja!"
Serena berbalik hendak mencari Dian, namun ia malah terkejut melihat keberadaan Nico yang menahan senyum. Sera tak dapat berkata-kata. Ia melihat Dian yang hanya biasa saja.
"Perkenalkan aku Nico, suami Dian." Nico menyadari keterkejutannya.
"Kau?"
"Kami sudah putuskan akan bersama. Dengan atau tanpa persetujuan siapapun!" tekan Nico, membawa Dian dadanya. Jangan sampai wanita bernama Serena ini menjadi penghalang.
"Aku tidak peduli soal itu. Selama keluargaku bahagia, tidak masalah." Sera tersenyum tipis melihatnya. Ia bisa melihat cinta itu dimata Nico.
"Tapi kau harus tahu Dian bukan wanita lembut. Kau tidak takut dia akan membunuhmu nantinya?" cibirnya.
"Kak!" desis Dian hendak membalas, namun Nico menahan tubuhnya agar tetap berada di dalam pelukannya.
"Aku sudah siap dengan semua itu. Mati di tangan orang kucintai tidak menjadi masalah bagiku. Aku bersedia menerima semua yang ada pada dirinya," jawab Nico tulus. Dian dan Serena terpaku oleh pengakuannya. Dian tersenyum diam-diam. Apa ini hadiah dari kesabarannya? Atau Tuhan sedang membalas doa-doanya satu persatu?
Tak lama Serena terkekeh dengan setetes air mata yang jatuh di sudut matanya. Ia tertawa sembari mengusap pelan air tersebut.
"Dulu aku membencimu karena membiarkan Dian dan anaknya sendiri selama dia menghilang."
"Kak ..." Serena mengangkat tangannya, tanda diam.
"Semoga kau benar-benar menyesal atau aku akan mengutukmu seumur hidup," ucap Sera menatap dalam kedua pasangan itu.
"Aku akan membuatnya menjadi wanita paling bahagia di dunia. Terima kasih sudah menjaganya." Serena mengangguk, kemudian menatap adiknya. "Dian?"
"Kami akan mulai dari awal lagi," ujar Dian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...