
..."Saat ego tidak ingin mengalah, disitulah batinmu mulai berperang."...
...~Diandra Selena~...
Aku dibesarkan tanpa kasih sayang dengan punggung besi dan hati sekeras baja. Tangan yang seharusnya merawatku saat sakit justru menjadi alasan aku merasakan sakit. Bibir yang seharusnya tersenyum kepadaku justru menjadi penyebab goresan luka batin yang membekas.
Aku bagai robot yang dipaksa berjalan melewati duri tanpa harus peduli rasa sakit. Aku hanya menjadi penonton diatas kebahagiaan orang lain. Putus asa seringkali kualami saat sendirian. Aku pernah berpikir apa tujuan Tuhan menciptakanku hanya untuk menderita?
Disekolah, aku tidak memiliki teman. Tidak ada yang mau mendekatiku karena merasa aneh. Duduk sendirian di ujung ruangan dengan kepala ditutupi hoodie serta rambut panjang yang hampir menutup seluruh wajah. Yang kulakukan hanya membaca dan membaca. Itu sebabnya aku juga sering disebut kutu buku.
Dulu beberapa dari mereka tidak seberuntung aku. Tak jarang aku mendengar mereka mengeluh tentang ekonomi keluarga. Tapi setiap membicarakan hal tersebut, mereka akan menatapku dengan iri. Ya, meski aneh tapi aku kaya. Dijemput jemput dengan mobil mewah setiap harinya, dibuatkan sarapan khusus setiap pergi ke kantin, bahkan lepas dari segala masalah yang merugikan.
Mereka berpikir jika hidupku sangat beruntung karena terlahir dengan sendok emas. Andai mereka tahu bahwa kehidupanku tidak seberuntung itu. Andai mereka melihat wajah serta tubuhku di balik hoodie. Mungkin pandangan mereka akan segera berubah.
Apa itu cinta? Cinta bagiku hanya ada dalam cerita fiksi. Rasanya memang nyata, tapi hanya sesaat saat kau menyadari jika itu tidaklah nyata. Hingga kejadian malam itu membawaku pada hal-hal baru. Untuk pertama kalinya aku tertarik pada seseorang, bahkan dengan beraninya aku mengakui jika itu adalah cinta.
Bagiku dia adalah pengganggu, perusak dan aku pernah membencinya. Aku harus terjebak dalam pernikahan bodoh berkedok tanggung jawab yang nantinya akan berakhir dengan perpisahan. Apa takdir terlalu bermain-main?! Aku benci pria yang tidak berpendirian. Jika dia mencintai kekasihnya, mengapa setuju menikahiku?
Kali ini aku mengampuninya. Saat ibunya yang seenaknya itu memperlakukanku, aku akan menganggapnya sebagai ucapan terima kasih karena keluarganya membuatku merasa dilindungi. Di rumahnya, aku merasa memiliki keluarga, apa itu orang tua dan apa itu cinta. Persis seperti apa yang dikatakan teman-teman sekelasku mengenai orang tuanya. Sangat berbeda dengan rumahku sendiri.
Malam ini aku kembali menatap langit dengan pandangan hampa di jendela kamar. Panggilan telepon dari Nico yang berulang telah lama kuabaikan. Penampilan Lily kemarin malam telah mengacaukan pikiranku, membuatku ingin berdiam diri sendirian seperti saat-saat dulu.
**
Author Pov
"Mama ..." Suara memanggil Emi segera menyadarkannya.
"Emi?"
"Tubuh Lily bergetar dan panas," ucapnya langsung, membuat jantung Dian seketika berdetak cepat.
Tanpa bertanya Dian segera berlari menuju kamar mereka. Jantungnya masih berdetak cepat tidak karuan.
"Lily ..." panggil Dian lembut, menyentuh puncak kepala putrinya.
Gadis itu terbaring lemah dengan tubuh bergetar. Bibirnya bergerak seperti bergumam kecil.
"Tadi siang Lily masih baik-baik saja. Kenapa jadi seperti ini?" tanya Dian pada kedua anaknya yang memperhatikan.
"Kakak tidak banyak bicara, kemudian bilang ia mengantuk." Rico menjawab.
"Mama, kita bawa Lily ke rumah sakit saja," pinta Emi. Dian mengangguk cepat.
"Lily ... ini Mama, sayang." Dian menjatuhkan air mata saat merasakan tubuh panas Lily. Ia tak ingin panik, tapi tidak bisa. Baru kali ini Lily jatuh sakit sehingga membuatnya takut.
Mata Lily perlahan terbuka. Ia melihat sang ibu yang menangis sambil sesekali mengecupi wajahnya.
"Mama ...," gumamnya kecil.
"Iya, Sayang? Tunggu sebentar, kita pergi ke dokter ya." Buru-buru Dian kembali ke kamar, mengambil kunci mobil serta ponsel dan kembali ke kamar Lily.
Dian mengangkat tubuh lemah Lily pelan dalam gendongannya. Emi dan Rico mengikuti Dian yang berjalan cepat menuju bagasi.
Dokter pribadinya hanya Vira dan sialnya wanita itu sedang tidak berada di Indonesia selama beberapa waktu.
Dian meletakkan Lily di kursi, disusul Emi dan Rico di setiap sisi Lily.
"Ayolah ... jangan sekarang!" Terus menginjak pedal gas, tapi tidak berhasil.
Tidak ada siapapun di rumah selain mereka. Sopir keluarga juga sedang mengambil cuti.
"Kita harus bagaimana, mama?" Emi menyentuh ujung baju ibunya.
Baru kali ini pikirannya sangat kacau. Ia takut terjadi sesuatu pada Lily jika terlambat. Dian segera mencari nomor siapa saja di ponselnya.
"Kali ini aku butuh mama. Kumohon angkatlah ..." desisnya lirih, menunggu panggilannya terhubung kepada Reana. Tidak ada hasil. Tidak biasanya Rea tidak mengangkat.
Dian tidak mungkin menghubungi Vira. Ibunya juga tidak bisa. Satu-satunya kemungkinan terbesar adalah Nico. Asal tahu saja Dian tidak menyimpan banyak nomor di ponselnya.
Pikirkan putrimu, Dian. Ia memperingati diri sendiri.
"Dian?!"
"Tolong aku, Nic ..." ucapnya bergetar disertai air mata yang kembali mengalir.
-
-
-
-
-
Nico berdiri bersandar di samping pintu ruangan tempat Lily sedang di tangani dengan pandangan tak lepas dari sang istri yang terlihat sangat kacau. Wanita itu memeluk kedua putranya yang tertidur di setiap sisinya, mengusap-usap lengan kecil mereka agar tenang.
"Beritahu aku dengan serius, Dian. Mereka anak kita, kan?" Dian tak mengelak, wanita itu mengangguk pelan mengiyakan. Nico mengatur nafasnya dalam, menahan rasa sesak yang menggerogotinya. Mata Nico sudah basah dan memerah karena menahan tangis.
Nico ingat bocah laki-laki di sebelah Dian yang tidak sengaja ia temukan di taman saat itu. Emi, ia bahkan masih ingat sosok bocah yang begitu terasa familiar.
Akhirnya kebenaran terungkap, termasuk alasan Dian melakukan histerektomi. Wanita ini memang melahirkan anak-anaknya. Dian berhasil menipu dirinya.
Baru pertama kali ia mendengar Lily menyebutnya papa di tengah gumamannya selama tujuh tahun ini, sedangkan ia baru mengetahui disaat kondisi Lily yang tidak baik-baik saja.
"Kau tahu, selama bertahun-tahun aku mencarimu dan anak kita. Lalu aku akan memeluk kalian setiap hari dan memberikan seluruh kasih sayang yang ku punya yang dulu tidak kuberikan. Saat aku tahu mereka hadir, aku tidak pernah berhenti memeluk gambar usg berserta foto dirimu yang kau tinggalkan setiap aku ingin tidur. Aku selalu bermimpi jika suatu hari nanti aku bisa tidur memeluk kalian di sampingku, bukan sebuah gambar."
Tes! Setetes air mata Dian jatuh.
"Aku yang bodoh ... aku sangat bodoh untuk menyadari perasaanku sendiri. Saat kau pergi, aku baru sadar jika yang kubutuhkan bukan Melly, tapi istriku. Dan Tuhan menghukumku dengan kebenaran yang baru ku ketahui, memisahkan kita semua. Membuatmu pergi dariku."
Dian tak mampu menjawab. Pernyataan Nico ikut mengiris hatinya yang lama membeku. Ia menangis tanpa suara tanpa melihat Nico yang mulai bersimpuh di depannya.
"Wajahnya sangat mirip denganku saat masih kecil. Pantas saja aku tidak asing waktu itu. Dia tampan ...," ucap Nico tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Menyentuh pipi Emi yang masih terlelap di rengkuhan sang ibu.
"Maafkan Papa karena terlambat. Tidak ada yang menganggu kalian selama papa tidak ada, kan?" Nico tak dapat menahan air matanya lagi. Ia kecup tangan mungil putranya dengan pelan agar tidak mengganggu.
"Jangan menangis. Kau harus bahagia bersamaku, hm." Nico menghapus air mata Dian dengan tangannya. Wanita itu semakin menangis. Nico selalu berusaha kuat di depan mereka. Rasa bersalah yang besar timbul dalam dirinya. Ia seperti menjadi wanita paling berdosa karena memisahkan mereka.
"Maaf ...," lirih bergetar. Nico menggeleng, dikecupnya seluruh wajah Dian yang telah sembab dan basah. "Aku mencintai kalian."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...