
Hari yang ditunggu telah datang. Malam ini adalah acara perayaan ulang tahun perusahaan Hanasta yang di gelar di sebuah hotel berbintang. Tuan besar Hanasta serta Reana sudah berdiri di tempat masing-masing menyambut para tamu penting mereka.
Keluarga Hanasta mengundang seluruh karyawan serta rekan-rekan bisnis mereka. Momen seperti inilah menjadi kesempatan untuk para pebisnis untuk mendapatkan relasi. Apalagi mereka mendengar jika keluarga Abraham yang terkenal sangat kaya telah menjalin kerjasama dengan keluarga Hanasta baru-baru ini.
Pintu masuk dibuka oleh pelayan yang menjaga. Nico dengan Mita disebelahnya, lalu diikuti Roby dibelakang berjalan memasuki aula. Melihat kedatangan orang paling berpengaruh itu, mereka segera mendekat. Mencari kesempatan untuk bisa mendekatkan diri.
Para wanita pun dibuat terpesona oleh kehadiran Nico. Sayang tak ada satupun diantara mereka yang membuat pria itu tertarik sejak lama.
Tapi melihat Tuan besar Hanasta yang ikut mendekat, mereka terpaksa menjauh. Reana sendiri sudah membawa Mita untuk berkumpul bersama para istri lainnya.
"Setelah sekian lama, baru kali ini kita memiliki kesempatan untuk bertemu langsung," celetuk Tuan besar tiba-tiba. "Jadi seperti inilah orang yang berani menculik cucuku," sambungnya kemudian.
Memang tuan besar belum pernah melihat sosok Nico sama sekali meski ia masih sering mendengar perkembangan berita luar. Sejak tuan besar dari keluarga Abraham meninggal, mereka tidak lagi menjalin kerjasama. Barulah saat mendengar dari Rea tentang kerjasama yang sekarang, ia cukup terkejut.
"Aku bisa membuatnya bahagia," jawab Nico tak bersahabat. Ia tidak takut pada pria tua itu jika tuan besar berniat mengambil Dian nya kembali. Tidak akan pernah!
"Dulu aku juga berpikir begitu." Tuan besar mengangguk setuju. "Tapi sekarang aku ingin melihatnya sendiri." Menepuk pundak Nico.
Nico mengejit. Ada keganjalan dari ucapan tuan besar. Melihat hal itu, tuan besar tertawa. Ia menepuk-nepuk sekali lagi pundak pria tampan itu.
"Aku telah melakukan banyak kesalahan. Dibanding dengan kami, ia akan lebih baik jika bersamamu. Dian tidak bisa kau lawan dengan kekerasan, tapi gunakan hatimu."
Disisi lain, Mita memperhatikan interaksi keduanya yang tidak terlihat seperti kenalan baru padahal baru pertama kali bertemu. Gerak-gerik Mita juga tak luput dari pandangan Rea. Inilah wanita yang pernah ikut andil dalam kesengsaraan putrinya. Ingin marah pun ia tidak bisa karena ia sendiri pernah berada di posisi Mita.
"Anda mengkhawatirkan sesuatu, Nyonya Mita?"
"Ah! Tidak ada. Aku hanya memperhatikan putraku." Mita gelagapan. Rea hanya tersenyum tipis. Ia tahu Mita seperti dirinya, menjadi musuh anak mereka sendiri.
"Jika boleh tau, kudengar anda memiliki putri. Apa dia disini?" Mita hanya ingin tahu saja, tidak bermaksud apa-apa. Jujur ia belum pernah melihat anak-anak keluarga Hanasta.
Mendengar pertanyaan Mita, orang-orang yang mendengar mulai berbisik.
"Kudengar sifatnya sangat buruk."
"Hubungan Nyonya Rea dengan putrinya juga tidak baik sepertinya."
"Beberapa relasi mereka bahkan pernah diancam oleh putrinya."
"Kau tahu dia bahkan tidak takut melukai orang! Teman suamiku pernah mendapat lemparan botol kaca di kepala hingga terjatuh dari tangga."
"Hm, aku juga mendengarkan. Orang itu mengalami patah tulang di bagian leher karena terjatuh, juga mendapat jahitan di kepalanya."
"Sayangnya dia akan menjadi pewaris selanjutnya."
"Benar. Tidak ada yang berani melapor."
"Semoga tidak menjadi bencana. Tidak heran dia belum memiliki pasangan. Bisa mati berdiri nanti jika menghadapinya."
"Shtt ... pelankan suaramu!"
Reana berusaha untuk tetap tersenyum meski ada rasa marah dan kesal mendengar mereka berbicara buruk tetang putrinya. Tapi harus bagaimana? Ingin mengelak atau menyangkal pun tidak ada gunanya. Siapapun tahu sifat Dian seperti apa. Ia sendiri saja tidak pernah bisa menghentikan putrinya.
"Dia belum datang. Mungkin sebentar lagi. Dia bilang akan menyusul," jawab Rea pada Mita. Mita ikut tersenyum menanggapinya. Ia sedikit bersalah karena bertanya soal itu.
Tanpa sengaja, tatapan Mita jatuh pada seorang wanita yang bergandengan dengan seorang pria seusia Nico. Mata Mita menatap nyalang wanita itu. Amarah dalam dirinya serasa ingin meledak. Apalagi saat wanita itu menjauhkan diri dari pria disampingnya dan mulai mendekat kearah Nico.
"Nic ..." Suara tak asing itu membuat Nico dan Roby menoleh.
Wanita itu tersenyum semanis mungkin, mengabaikan wajah tak suka dari keduanya. "Bagaimana kabarmu?"
Nico maupun Roby tidak menjawab. Orang-orang mulai memperhatikan mereka. Penasaran dengan wanita yang begitu berani itu.
"Tidak ada hubungannya denganmu," jawab Nico datar.
"Jangan seperti itu, Nic. Kita pernah dekat sebelumnya, bukan begitu? Aku hanya ingin menyapa." Wanita itu tertawa pelan, menutupi rasa malunya. Tapi ada sedikit kepuasan setelah mengatakan kata dekat. Sengaja ingin orang lain salah paham.
"Saya berharap juga begitu, Nona Melly. Hanya menyapa! Tidak ada hal lain." Roby menekan setiap ucapannya. Sial! Bagaimana bisa wanita ini ada disini. Seharusnya Melly sudah menjadi gelandangan di jalan. Ya, wanita itu adalah Melly. Wanita yang pernah menjadi menantu keluarga Abraham.
"Tentu saya, Rob. Aku akan kembali ke tempatku." Semakin bertambah malunya saat Nico tidak meresponnya sama sekali. Semua orang mulai mencibir diam-diam. Tapi saat akan melangkah, Melly dengan sengaja menjatuhkan dirinya pada Nico.
Mita yang melihat menjadi geram. Kakinya hampir melangkah untuk memberi pelajaran pada wanita tak tahu diri itu, namun langsung terhenti saat pintu aula dibuka oleh penjaga. Menampilkan sosok wanita cantik berambut sebahu yang berjalan beriringan dengan seorang bocah laki-laki.
Kedatangan dua orang itu menarik perhatian semua orang, terutama Melly yang langsung membeku. Dengan cepat melepaskan diri dari Nico dan sedikit menjauh. Apalagi saat wanita itu memberikan senyum sinis dan meremehkan miliknya.
"Hai, B*itch!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Iya tau gantung😌