Ketika Takdir Kembali Memilih

Ketika Takdir Kembali Memilih
Flashback: Neraka


Seorang gadis muda dengan rambut panjang tergerai hingga ke pinggang tengah merintih tanpa suara dalam keadaan bersimpuh. Kedua tangannya mengepal erat di lantai setiap kali pukulan mendarat di punggungnya yang berlapis kain.


Ctarr!!


Ayunan ikat pinggang dari sang ayah terus berulang. Bercak-bercak merah berbau amis semakin tercetak jelas di balik pakaian sang gadis. Siapapun yang melihat pasti ikut merasakan rasa sakit gadis itu.


Sejak tangan itu mulai bergerak kasar. Disitulah aku mulai berhenti mengakuimu sebagai ayah.


"Papa benci anak pembangkang!" Ctarr! Ekspresi gadis itu tidak berubah. Tetap datar meski air mata beberapa kali mengalir dari sudut matanya. Ada banyak kebencian serta kemarahan yang tertahan.


Pukulan menyakitkan itu tak lagi ia rasakan. Dirinya seolah kebal dengan rasa sakit yang sering menyiksanya itu.


Gadis itu, Diandra Selena. Gadis yang menyimpan banyak masa lalu kelam dalam dirinya. Membiarkannya memupuk hingga menanam kebencian yang begitu pekat.


Jika rumah menjadi tempat para anak-anak pulang dan mendapat cinta, maka rumahnya adalah neraka yang tercipta untuknya. Cacian, makian hingga siksaan telah menjadi makanan sehari-hari baginya. Tak ada lagi cinta atau cahaya di tempatnya singgah.


Melihat putrinya hanya diam, Brian sang ayah lantas memanggil Reana yang sejak tadi menjadi penonton.


"Urus anak tidak berguna mu itu. Aku ingin keputusan yang menyenangkan setelah ini," katanya penuh peringatan, lalu pergi begitu saja dari kamar Dian.


Rea menatap datar Dian yang masih tidak bergeming. Ia memerintah kepala pelayan Nuri untuk mengobati luka Diandra seperti biasa. Dengan hati-hati kepala pelayan Nuri membantu nona mudanya berdiri dan duduk di pinggir ranjang.


Hatinya ikut sesak menyaksikan pemandangan miris yang pastinya membekas pada mental Dian. Bertahun-tahun ia bekerja di rumah besar yang penuh dengan keburukan. Keluarga ini begitu terobsesi dengan kekayaan sehingga menjadikan putri mereka sebagai sumber uang.


Ia mengobati dengan perlahan luka cambuk di punggung Dian. Takut jika itu menyakiti gadis muda ini. Tidak seperti pertama kali, ia tak lagi mendengar suara rintihan atau sekedar ringisan dari mulut Diandra.


Kepala Pelayan Nuri menahan air matanya agar tidak keluar. Ia tak lagi mengenal sosok manis dari nona mudanya. Dulu gadis ini adalah gadis manis yang ceria. Masa kecilnya dihiasi dengan senyuman. Tapi semenjak Serena memutuskan keluar rumah, Dian menjadi korban keegoisan orang tuanya.


Tangannya bergetar setiap kali membersihkan lukanya. Tuan Brian tidak mengizinkan adanya dokter. Itu membuatnya semakin prihatin pada kehidupan Diandra. Orang lain mungkin sudah pingsan atau menjerit, tapi Dian masih sanggup berdiri tegak.


"Bibi ...."


"Iya, Non?"


"Jangan merasa kasihan padaku."


Eh?


Air mata kepala pelayan Nuri akhirnya menetes, namun segera di hapus olehnya. Bagaimana mungkin


gadis ini masih bisa berkata seperti itu.


"Nona adalah gadis hebat dan kuat yang pernah Bibi temukan. Bibi harap Nona jangan pernah berpikir untuk menyerah. Percaya pada rencana takdir yang telah menyiapkan skenario terbaik."


Skenario menjadi antagonis! ucap Dian membatin.


Tak lama Rea datang kembali. Bibi Nuri sudah membalut perban pada luka Dian. Tanpa disuruh, bibi Nuri keluar dari kamar seperti biasa. Tinggal lah ibu dan anak itu disana.


"Kau tahu seperti ayahmu, kan? Apa sulit menjadi gadis penurut?!"


Sejak dulu sudah kulakukan. Aku tidak pernah melawan dan menerima semua perlakuan kalian! Kalian lah yang tidak pernah puas!


"Dengan menjualku?"


"Tidak ada yang menjualmu, Dian. Ini namanya relasi! Kita bisa mendapat keuntungan besar jika bisa menjalin hubungan dengan keluarga-keluarga besar."


Dian tersenyum kecut. Lagi-lagi tentang harta. Rea bahkan tak pernah bertanya keadaan dirinya atau sekedar membantu. Selama ini sang ibu hanya menjadi penonton sekaligus ikut serta menyakiti dirinya.


"Egois ..." gumam nya.


"Kau bilang apa?" Rea mendekat. Ia tidak suka jika Dian mulai melawan lagi.


"Mengapa harus ada orang tua seperti kalian."


"DIAN!" Plakk! Rea menampar dengan nafas berburu hingga sedikit darah keluar dari bibir gadis itu.


Dian terkekeh memegang pipi serta bibirnya. "Apa masih ada surga di rumah ini?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pendek? Emang. Aku usahakan up cepat, tapi mungkin tidak bisa panjang.


Aku tidak memaksa kalian tinggal. Bagi yang mau aja. Daripada kalian menunggu tapi berkomentar tidak mengenakkan yang membuat penulis down. Gak semua penulis sama, mohon dimengerti ya.