
"Keluarga Emily Deandra?"
Nico segera mendekat ketika dokter yang menangani Lily keluar. "Bagaimana keadaannya?"
"Tidak ada yang serius. Nona Emily hanya demam tinggi. Perubahan cuaca mungkin menjadi penyebabnya," jelas dokter.
"Lalu bagaimana?"
"Tidak perlu khawatir, Nyonya. Nona Emily hanya perlu istirahat dan dirawat beberapa hari."
"Kami ingin melihatnya," sergah Nico tak sabar.
"Silahkan, Tuan."
"Mama ..."
Dian meneteskan kembali air matanya melihat putrinya terbaring lemah di atas brankar dengan tangan terinfus.
"Sakit ..." Lily menunjukkan tangannya yang terinfus pada Dian.
Nico tidak mendekat dulu. Ia masih memberi waktu pada ibu dan anak itu. Ada Emi berserta Rico yang tidak ikut mendekat. Mereka berdiri memperhatikan di dekat Nico.
"Tidak apa-apa. Ini tidak lama. Lily akan cepat sembuh," bujuk Dian, mengecup telapak tangan Lily lama. Kemudian beralih mengecup pipi Lily dalam.
Lily tidak bersuara lagi, tapi air matanya tiba-tiba merembes keluar dari sudut matanya.
"Ada apa?" Dian merengkuh wajah kecil putrinya penuh kekhawatiran. "Dimana yang sakit?"
Lily menggeleng lemah. Gadis itu mengangkat kedua tangannya, ingin sang ibu memeluk dirinya dan langsung dilakukan oleh Dian yang merasa aneh.
"Lily sayang Mama," bisiknya. "Mama juga sayang Lily," balas Dian.
Pandangan Lily kemudian tak sengaja jatuh pada tiga laki-laki berbeda usia yang tak jauh darinya. Mata gadis itu memanas melihat keberadaan sang papa yang sekarang tersenyum melihatnya.
Lily menatap ibunya dengan pandangan bingung. Dian mengerti. Ia tersenyum seraya mengangguk pada Lily.
"Mulai saat ini kita semua akan bersama. Mama, papa, Kak Emi, Rico dan juga Lily. Itu keinginan Lily sejak dulu, kan?"
"Really?" Dian tak lagi merahasiakan keberadaan mereka?
Nico akhirnya mendekat setelah menyeka sedikit sudut matanya yang berair. Hari ini begitu membahagiakan untuknya. Lebih bahagia dari apapun yang ia jalani selama tiga puluh tahun masa hidupnya.
"Kita bertemu setiap hari dan bercerita bersama, tapi Papa tidak pernah tau jika itu anak Papa sendiri. Pantas saja hati Papa sangat sakit setiap kali Lily memanggil om."
"Kalian pasti sudah menahan banyak hal, kan? Maafkan Papa. Papa terlambat. Jika dulu Papa tidak melepas mama, kita pasti sudah bersama sejak dulu. Maaf ..." Nico terus bergumam maaf. Terselip banyak penyesalan di matanya yang basah.
Tangan kecil Lily menyentuh pipi ayahnya yg sembab. Diusapnya pelan sisa air mata yang masih mengalir.
"Itu takdir, Papa. Jika mama tidak pergi, Papa mungkin tidak akan menyadari perasaan Papa sendiri. Keberadaan seseorang barulah terasa berarti saat dia sudah tidak bersama kita," ucap Lily bijak.
Entah berapa banyak hal yang Dian ajarkan pada anaknya. Nico tak bisa menyela jika anaknya telah menjadi dewasa lebih awal. Tubuh kecil mereka tidak bisa dibandingkan dengan otak mereka yang sudah berkembang cepat.
Nico berbalik menatap Emi yang berdiri tak jauh setelah melepas pelukannya. Bocah laki-laki itu memalingkan wajah ke arah jendela untuk menghindari tatapan sang ayah.
"Emi, kan? Kau juga mengenali Papa saat itu." Ia sangat yakin Emi sudah mengenalnya sejak pertemuan pertama mereka di taman.
Dian tersenyum getir. Demi menutup identitas, kedua anaknya rela menahan banyak hal.
"Emi," tegur Dian saat melihat putranya tidak bergeming.
"Maaf, tapi Emi hanya ingin mama." Kedua bola hitam itu menatap tegas, lalu tanpa aba-aba Emi keluar begitu saja dari ruangan.
"Emi!" Dian ingin mengejar, tapi Lily menahan tangannya.
"Kakak mungkin butuh waktu," ucap Lily. Ia tahu Emilio adalah orang yang paling menentang keberadaan ayah mereka. Setiap ia mengeluh tentang sang ayah, Emi selalu menjawab ketus serta memarahinya
Dalam suasana yang baru terjadi, tidak ada yang menyadari jika Rico sudah tidak ada disana. Bocah laki-laki itu memilih pergi diam-diam. Ia sadar jika dirinya bukan bagian dari mereka.
"Kau lihat? Mama tidak bohong, kan? Wanita itu yang membuat papa mu meninggalkan Mama!" Melly tersenyum puas melihat putranya mulai mendengarkan.
Ia tak sengaja melihat Rico keluar dari sebuah IGD dengan wajah sedih. Karena penasaran, ia mencoba mencari tahu dengan mendekat kesana. Senyum licik terbit saat mengetahui apa yang terjadi.
"Karena dia papa Lily dan Emi," cicit Rico pelan.
"Dia juga papamu Rico, tapi dia tidak mau mengakuinya." Melly duduk perlahan di samping Rico.
"Awalnya Mama hanya ingin kau ikut dengannya karena mereka kaya. Kau bisa memanfaatkan mereka untuk ekonomi kita. Tapi Mama tidak menyangka jika dia adalah wanita yang disukai papamu." Melly memasang wajah sedih.
"Rico ... dengarkan Mama. Kita hanya perlu menyingkirkan mereka dan mengambil kembali papa Rico. Bukan hanya itu. Rico mungkin bisa menguasai kekayaan Dian juga. Bukankah dia menyayangi Rico? Dia tidak akan ragu memberi apa saja. Dengan begitu kita bersama kembali, kan?"
Semua adalah rencana Melly. Kejadian di mall saat itu hanya bagian dari rencananya. Dia berharap seseorang iba dengan putranya, lalu bersedia mengambilnya. Ia tak menyangka jika wanita yang membuat kesepakatan dengannya adalah gadis remaja yang menjadi istri Nico dulu.
Diandra yang ia kenal sangat berbeda dengan yang ia lihat sekarang. Wajar jika ia tak mengenali pada awalnya. Mengesalkan jika ternyata gadis itu bukan gadis sembarangan, melainkan seorang pewaris tunggal dari keluarga kaya.
"Rico harus terus bersama mama Dian?" tanya Rico polos.
"Tentu saja. Seperti yang Mama katakan di awal. Jangan sampai wanita itu tahu jika Mama yang memerintahkan Rico. Rico masih kecil, tidak perlu tahu banyak. Cukup lakukan apa yang Mama minta."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hay hay gess ...
Novel ini belum tamat ya. Satu bulan ini aku istirahat dulu jadi penulisnya. Sekalian buat cari ide untuk sekuel yang akan datang nanti.
Kira-kira kalo aku buat sekuel Jourel seperti rencana dulu ada yang masih mau baca gak sih?🤭