
Pagi harinya, Nico terbangun tanpa Dian disampingnya. Semalam setelah selesai menenangkan istrinya, mereka tertidur tanpa sadar. Pagi ini Dian menghilang tentu membuatnya khawatir. Tapi tidak berlangsung lama saat Nico mendapati istrinya tengah memasak di dapur.
Pria itu bernafas lega. Ia memeluk wanita itu dari belakang dan menghirup aroma tubuhnya yang wangi. Istrinya sudah rapi pagi-pagi sekali. Rambut pendeknya memudahkan Nico mengecup leher jenjang itu berkali-kali.
"Aku ada rapat pagi ini. Pergi kerja atau temani anak-anak?" Dian memberi pilihan. Wanita itu bersikap biasa saja seolah kejadian semalam tidak pernah terjadi.
"Jadwalku kosong. Aku bersama anak-anak saja." Semakin menompangkan tubuhnya manja.
Menyenangkan sekali setelah mereka kembali bersama. Nico ingat dulu sering melakukan hal ini saat masih bersama. Rasanya lebih bahagia saat kau menyadari jika ini cinta.
"Nic, jangan ganggu aku. Pergilah mandi, dasar jorok." Dian melepaskan pelukannya. Sia-sia karena Nico semakin menempel padanya. Bahkan mengecup pipinya berulang kali.
"Nic!"
"Aku bahagia, sayang. Aku sudah bersumpah tidak akan melepaskanmu lagi."
"Aku tahu! Tapi lihat kondisiku! Kau ingin di goreng bersama ayam ini?" ancam Dian.
"Ck! Setidaknya manislah sedikit," decak Nico meninggalkan Dian sambil menggerutu. Pria itu pergi membersihkan diri.
Wajah Dian melunak saat pria itu sudah menghilang. Senyum terbit di bibir tipisnya. "Kau pikir aku akan melepasmu. Memilihku artinya tidak bisa lepas dariku."
"Mama?" Suara Lily mengejutkan Dian.
"Eh? Ada apa?" Dian bingung. Tidak biasanya gadis ini bangun pagi. Ia harus berteriak dulu dan marah-marah.
"Apa? Lily mencari sarapan, hehe." Lily menyengir.
"Kau sungguh Lily, kan?" Dian mengejek.
"Mama ...," rengeknya. "Ada papa. Lily harus jadi gadis pintar," bisiknya.
Dian tersenyum kecut mendengarnya. Nico belum lama bersama mereka, tapi Lily sudah menurut tanpa diminta. Berbeda dengannya yang berulang kali mengingatkan gadis nakal itu.
"Bagaimana dengan kakak dan Rico. Sudah bangun?" Dian mendudukkan gadis itu di kursi, kemudian melanjutkan memasaknya.
Dian tidak bisa tidak tersenyum mendengar celotehan pagi Lily. Gadis itu terus berbicara hingga tanpa sadar menghabiskan sepiring potongan buah yang diberikan Dian.
"Mama sangat cantik."
Eh? Apa ini?
"Jika Lily besar, apa akan secantik Mama?"
"Kenapa tiba-tiba berkata seperti itu?" tanya Dian memicingkan mata.
"Tidak ada. Tapi semua guru laki-laki di sekolah mengatakan mama cantik. Lily bosan jika ditanya apa ingin menjadi anak mereka, apa yang mama suka, apa Lily membutuhkan papa dan masih banyak lagi!" cerososnya membuat kening Dian mengerut.
Jika dia secantik ibunya, bukankah semua orang juga akan mengejarnya? Big no! Hidupnya pasti menyebalkan.
"Laki-laki memang seperti itu, Lily. Mereka tidak pernah cukup dengan satu wanita. Semua gurumu itu sudah menikah. Kau harus hati-hati saat besar nanti."
"Sungguh?! Berarti papa juga begitu?" seru Lily.
"Tentu saja tidak!" Bukan Dian yang menjawab, tapi Nico yang baru datang.
"Dian ... ajarkan putriku yang benar. Jangan cemari otaknya." Dian hanya memutar bola matanya malas. "Terserah," acuhnya.
"Lily, tidak semua laki-laki seperti itu. Jika ada, itu artinya mereka tidak bersyukur telah diberikan satu wanita. Orang seperti itu tidak pantas diajak bersama." Nico menjelaskan.
"Kau menceritakan dirimu sendiri," sahut Dian lagi. Nico memejamkan mata, berusaha sabar. Jangan mengharapkan Dian lembutnya yang dulu kembali. Sekarang hanya wanita menyebalkan yang memancingnya terus.
"Dian ...."
"Yayaya, lanjutkan. Aku tidak peduli." Dian melambaikan tangan.
Lily cekikikan di tempatnya. Mulai sekarang ayahnya harus memiliki banyak stok kesabaran untuk menghadapi ibunya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...