Ketika Takdir Kembali Memilih

Ketika Takdir Kembali Memilih
Tidak Bernafas


Dian membantu satu-persatu anaknya untuk bersiap tidur setelah makan malam dan mengerjakan pr. Seperti biasanya akan ada dongeng sebelum tidur yang dibacakan Dian.


Dian merapatkan kembali selimut Lily, Emi dan juga Rico yang sudah terlelap. Kali ini Dian berdiam diri cukup lama untuk beranjak. Wanita itu menatap Rico yang sangat damai dalam tidurnya yang tanpa beban. Tangannya terulur merapikan rambut bocah itu dengan pelan dan hati-hati agar tidak membangunkannya.


Rico— ia tak bisa membenci anak dari wanita yang telah menjadi penyebab ia kehilangan putra kecilnya. Ia kalah dengan hatinya untuk sekedar melibatkan bocah tak bersalah ini.


Hari dimana ia melihat Melly kembali menimbulkan sebuah rencana dalam dirinya untuk membalas rasa sakit. Kehadiran Rico menjadi peluang untuk membuat wanita itu merasakan hal yang sama sepertinya.


Dian pikir dengan memiliki Rico, Melly akan merasakan bagaimana kehilangan putra. Tapi siapa sangka jika wanita itu dengan mudahnya memberikan putra yang dilahirkannya dengan sejumlah uang. Wanita itu bahkan lebih buruk dari ibunya sendiri.


Dian beranjak dari tempatnya dan menutup pintu dengan pelan, lalu berjalan menuju kamarnya. Hal pertama yang ia lihat adalah suaminya yang berkutat dengan laptopnya di sofa kamar. Pria itu masih mendiamkannya sejak turun dari mobil.


Dian tak berniat mengganggu dan memilih pergi menuju balkon kamar untuk menghirup udara malam. Ia menutup matanya, membiarkan semilir angin menerpa wajahnya hingga rambutnya bergerak tertiup angin.


Tak lama setelahnya, Dian merasakan sebuah tangan melingkarkan di perutnya dan kecupan lembut menyentuh lehernya. Tidak perlu dijelaskan lagi siapa orang itu.


"Ingin tidur?" bisik Nico. Masih dengan mata terpejam, Dian tersenyum tipis. Ia ikut memeluk lengan Nico yang melingkar di perutnya.


"Tidak ada yang menyadari kehadirannya meski dia juga disana," ucap Dian penuh makna.


Nico diam menyimak.


"Dia sangat kecil dibanding Lily dan Emi." Air matanya nyaris menetes saat mengingatnya kembali.


Nico tampaknya mulai memahami situasi ini.


"Dia yang tersisa terakhir setelah melahirkan Emi dan Lily, but— he wasn't breathing (dia tidak bernafas)," lirih Dian membuat Nico mengeratkan pelukannya.


Dian juga terkejut mengetahui fakta ini. Pasalnya setiap kali melakukan usg, keberadaannya tidak terlihat. Mungkin karena kondisi janin yang berbeda dengan pertumbuhan normal dua janin lainnya.


Bayi terakhirnya dinyatakan meninggal sejak dalam kandungan. Hal itu diketahui saat melakukan pengangkatan rahim akibat plasenta akreta milik Lily.


Kemungkinan besar Dian pernah mengonsumsi sebuah obat atau sesuatu yang berefek pada keguguran janin, kemungkinan besar adalah obat pencegah kehamilan.


"Aku sangat berhati-hati. Aku tidak pernah menyentuh sesuatu yang bisa berefek pada kehamilanku, kecuali—"


"Apa?" Meski terpukul mendengar hal itu, Nico masih ingin mengetahui lebih jauh.


Deg!


"Jangan salah paham. Meski dia membenciku, dia tak senekat itu. Aku tahu ini ulah Melly yang mencampur sesuatu ke dalam sana."


Kandungannya masih sangat muda dan lemah saat itu. Kemungkinan janin ketiganya tak dapat bertahan.


"Wanita itu!"


"Aku tidak akan tahu jika salah satu pelayan di rumahmu tidak memberitahu."


"Keterlaluan!" hardik Nico dengan rahang mengeras, "hukumannya ternyata belum cukup." Nico melepas pelukannya dan hendak pergi, namun Dian menahan langkahnya.


"Mau kemana?"


"Mengusik tidur nyenyaknya."


"Tidak perlu."


"Dia membunuh anak kita, Dian!"


"Dia tidak akan tidur nyenyak saat mantan kekasihnya ada disini, Nico. Tidak perlu lakukan apapun untuk mengotori tangan karena pria itu yang akan membuatnya menderita."


Johan tidak akan membiarkan ibu dari Rico itu duduk tenang setelah menyiksa bahkan menjual anaknya, kan? Wanita itu sudah membohongi Johan terlalu banyak.


"Tanganku memang kotor, tapi bukan berarti aku bersedia menyentuh sampah kotor itu."


Johan bisa menjadi sekutu namun juga musuh dalam hal berbeda.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Anggap saja begitu penjelasan medisnya ya Say. Kalau ada yg keliru mohon dimaklumi karena ini hanya novel. Cukup nikmati aja tanpa membuat penulis jadi badmood ya☺


btw banyak reader hantu ya🤭