Ketika Takdir Kembali Memilih

Ketika Takdir Kembali Memilih
Bertemu Johan


"Aku tidak percaya siapa yang berkunjung hari ini. Sebuah kehormatan anda datang ke kantor kecil saya," ucap seorang merendah, namun nada main-main terselip disana.


Namun melihat tidak ada respon yang di dapat melainkan acuhan, pria itu berdecak dan menjatuhkan tubuhnya di sofa.


Meski ini pertemuan kedua dengan wanita yang dianggap rival. Johan tetap tenang karena tidak merasakan ancaman apapun.


Dian yang datang ke perusahaan milik Johan tidak datang sebagai rekan kerja melainkan seorang ibu yang mengasuh anak.


Sejak awal kedatangannya Dian tidak duduk menunggu, tapi berjalan mengelilingi dan mengamati sekitar ruangan kerja milik Johan dengan tangan menyilang kebelakang.


"Memasuki sepuluh besar orang terkaya di Indonesia," gumam Dian setelah membaca sebuah sertifikat yang terpajang, "tidak buruk," lanjutnya.


"Tidak buruk?!" Johan tercengang, "seharusnya luar biasa, kan?"


"Kau harus memasuki setidaknya lima besar," santai Dian.


"Wah, bagaimana denganmu?!" Johan sedikit kesal.


"Jika tidak ada Abraham, aku akan menduduki nomor satu."


Lihatlah wajah arogan yang menyebalkan itu!


"Aku sering mendengar tentangmu, tapi kali ini aku merasakannya sendiri," cibir Johan.


"Aku tidak peduli," datar Dian.


Ck! Tidak heran jika wanita itu dinilai buruk. Bahkan kedatangannya sekarang tanpa persetujuan dimana Dian menyelonong masuk begitu saja hingga membuat penjaga dan beberapa resepsionis panik.


Luar biasa, bukan? Entah bagaimana wanita ini berhasil menjadi ibu. Ya, Johan mengakui itu.


"Silahkan lihat semua yang mau kau lihat." Johan tidak peduli lagi. Pria itu memejamkan matanya sembari menunggu.


"Ini keluargamu?"


Johan membuka mata dan menoleh.


"Hm, ibu dan sauda-saudaraku."


"Dimana mereka sekarang?"


"Masih di tempat yang sama."


Keluarga yang hangat.


"Sebelum aku di puncak ini kami sangat kesulitan, namun aku sudah bertekad untuk menjadi kaya agar mereka tidak kesusahan. Aku anak yang paling dewasa di antara mereka." Tatapan mereka bertemu.


"Setelah lulus SMA aku bekerja di sebuah industri kecil. Tak lama setelahnya aku bertemu Melly."


"Aku tidak tertarik mendengar kisah cintamu."


Johan terkekeh, "aku juga tidak berniat menceritakannya. Intinya kau harus tahu jika aku akan memperjuangkan apa yang kuinginkan. Kau datang untuk melihat keadaanku layak atau tidak secara langsung, kan? Aku senang kau begitu menyayangi Rico hingga memastikannya sendiri."


"Aku tidak mau dia merasakan hal yang di alaminya dulu," ujar Dian.


"Ini salahku. Jika aku mencari tahu soal siapa ayah bayi itu, Rico tidak perlu menderita."


Dulu ia terlalu bodoh hingga mempercayai ucapan Melly yang mengatakan jika bayi itu adalah milik suaminya. Sebuah kejutan setelah Melly mengatakannya. Rupanya ia menjalin hubungan dengan wanita bersuami.


"Ibu dan saudaraku akan senang melihat Rico." Nada suara Johan berubah sendu, "tapi aku tidak bisa melakukannya jika Rico menolak."


Dian bergerak menuju tempat duduk Johan dan mengurung pria itu dengan tangannya hingga jarak wajah keduanya cukup dekat.


"Aku akan tetap mengawasi Rico. Jika kau menyakitinya, aku akan membunuhmu!" ancam Dian.


"Kau memang sangat liar," gumam Johan terpaku.


"Kau mendengarku?!" Kali ini kedua tangan Dian berpindah mencengkram kerah kemeja Johan.


"Ya Tuhan— aku dengar, aku dengar!"


"Bagus!" Melepas cengkeramannya dan kembali bersedekap dada, "aku akan mengurus hak asuh Rico."


Tanpa menunggu respon Johan, Dian meraih tasnya dan berlalu pergi.


"Tuan— anda tidak apa-apa?" Asistennya berlari masuk.


"Dia menarik, kan?" Tersenyum, Johan belum mengalihkan pandangan dari pintu.


Apa?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...