
Ketiga anaknya sudah pergi ke kamar mereka untuk tidur setelah Nico mengawasi ketiganya makan dengan baik. Hanya tersisa Vira dan Roby di ruang keluarga bersama dirinya.
"Maaf, tidak seharusnya aku menyinggung tentang masa lalunya." Vira menyesal.
"Bukan salahmu." Roby menjawab.
Nico tidak berniat mendengarkan penyesalan yang terlambat itu. Matanya tertutup dengan tangan bersedekap.
"Sembuhkan saja lukamu. Jangan membuat masalah baru," ujarnya seraya bangkit dari sofa.
Baru akan melangkah menuju tangga, suara bell rumah berbunyi. Nico mengurungkan niatnya untuk pergi.
"Aku saja." Nico berjalan lebih dulu ke arah pintu saat Vira sudah berniat pergi.
"Siapa yang bertamu?" tanya Vira heran. Dian atau dirinya tidak pernah membawa atau mengundang siapapun ke rumah. Karena penasaran akhirnya ia memilih mengikuti Nico. Roby ikut menyusul dengannya.
"Nyonya Rea?!" pekiknya tertahan saat melihat siapa yang berhadapan dengan Nico.
"Bisa bicara?" pinta Rea pada Nico yang menatapnya datar.
Nico melebarkan pintu masuk, tanda wanita yang telah menjadi mertuanya itu diizinkan. Nico juga memberi isyarat pada dua orang yang bersembunyi itu untuk pergi, membiarkan mereka berdua.
Rea berjalan sambil memperhatikan sekelilingnya. Setiap sudut di sekitarnya tak luput dari penglihatannya. Jadi seperti ini tempat yang ditinggali putri dan cucunya selama bertahun-tahun. Jujur ini pertama kalinya ia kemari.
Rea tersenyum saat melihat figura kecil di atas meja nakas yang memperlihatkan senyum Dian bersama kedua anak kembarnya di hari ulang tahun mereka.
Putrinya benar-benar tumbuh menjadi gadis luar biasa. Dian bahkan melahirkan kedua anak yang tak kalah luar biasanya. Gadis kecilnya telah berhasil membuktikan bahwa tanpanya ia masih mampu hidup dengan baik dan membuatnya bangga.
"Dia pernah tersenyum seperti itu padaku ..." ucapnya tanpa mengalihkan pandangan dari figura itu. " ... Jauh sebelum akhirnya dia menatapku dengan pandangan permusuhan." Kemudian menoleh pada Nico yang juga menatap figura.
Aku tahu. Begitupun rasa sakit yang pernah kubuat, batin Nico.
"Sebenarnya aku tahu pria yang membuatnya hamil saat itu adalah kau. Tapi justru aku malah menambah sakit hatinya." Rea menyesali segala ucapannya. Andai waktu bisa diputar ....
(Bisa dibaca ulang di Chapter 20 - Flashback : Tujuanku, Semangat ku, Hidupku, Anakku.)
"Apa yang terjadi?" Tatap Nico tajam. Ia hanya tahu hidup yang dijalani Dian tidak mudah. Tuntutan keluarga juga menjadi salah satu pemicunya. Hanya saja untuk detail yang dialami istrinya ia tidak tahu.
Malam itu Rea menghabiskan waktunya untuk bercerita. Nico hanya mampu menahan diri mendengar hal-hal yang dialami Dian semenjak kecil hingga remaja. Betapa kerasnya didikan sang ayah untuk seorang anak perempuan. Tidak hanya itu, ibu sebagai tempat pelindung pun ikut menjadi neraka untuknya.
Penyesalan yang hingga saat ini menyelimuti Nico akibat perbuatannya dulu pada Dian semakin membesar. Kehadirannya seharusnya menyembuhkan luka, bukan menambah luka. Ia kembali mengingat mata polos gadis muda yang telah dinodainya.
Seharusnya ia tetap membuat pemilik mata itu tersenyum tulus, menatap hangat seperti saat mereka bersama dulu.
"Seandainya aku tidak melepasnya—"
"Sudah terlambat untuk menyesal, bukan? Waktu tetap berputar dan keadaan tidak akan berubah," potong Rea.
"Meski aku membencimu karena melepasnya demi orang lain tanpa tahu kehadiran anakmu sendiri, aku tidak bisa. Aku sadar yang kulakukan jauh lebih buruk dari apapun."
Air mata yang mengalir di sudut matanya sekarang pun tidak akan bisa menyembuhkan sebuah luka yang sudah menganga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Makin gaje ga sih?😢
Sorry banget gaes. Aku hentikan dulu sementara ini. aku ga mau cerita yang aku buat susah payah sampe mata kaya panda jadi kacau dan gaje gini. berasa kaya sia-sia gitu༎ຶ‿༎ຶ