Ketika Takdir Kembali Memilih

Ketika Takdir Kembali Memilih
Neraka (2)



Plakk!!


"SUDAH BERAPA KALI PAPA KATAKAN! NILAIMU HARUS SEMPURNA! MASIH TIDAK MENGERTI!!" bentak sang ayah pada putrinya yang menunduk.


"Jangan menangis!!" Gadis itu tersentak setiap kali ayahnya memaki bahkan tak segan bermain tangan. Air mata yang menggenang harus ia tahan agar tidak tumpah.


Sudut bibirnya yang berdarah terasa perih akibat tamparan ayahnya. Entah berapa banyak lagi luka yang harus ia tahan.


"Lihat ini! Hanya 9, bukan 10! Apa kau hanya bermain-main, hah?!" Sang ayah melempar kertas hasil ujiannya tepat di depan wajahnya hingga berserakan.


"Memalukan! Beginilah jika menjadikan anak perempuan sebagai pewaris," cercanya. Gadis itu menahan sakit hatinya mendengar ucapan sang ayah.


"Pergi ke kamarmu! Belajar dengan benar. Tidak boleh keluar dari kamar selama seminggu. Itu hukumanmu." Kemudian berlalu pergi.


Gadis itu berlutut pelan memungut kertas yang berserakan dan membawanya ke kamar. Disana ia akhirnya menumpahkan air mata yang lama tertahan. Tubuhnya bergetar hebat. Suara sesugukan menyakitkan terdengar sangat pilu.


Rumah ini bagaikan neraka! Tidak pernah ia temukan cahaya walau sedikitpun. Mereka semua iblis!


"Jika kau tidak ingin belajar lagi, pergi keluar dan bekerja. Tidak perlu ke sekolah lagi agar kau tahu sulitnya mencari uang untuk kehidupanmu, Dian." Suara datar sang ibu tiba-tiba muncul.


"Berhenti menangis. Itu membuang waktumu. Lebih baik kau gunakan untuk belajar. Kau sudah gagal!"


Dian menatap ibunya dengan raut tak terbaca. Bahkan menangis pun termasuk membuang waktu?!


"Aku sudah belajar begitu keras. Hampir semua waktuku adalah belajar, belajar dan belajar. Aku sudah melakukan kemauan kalian. Aku tidak pernah pergi bermain, bahkan menonton tv pun tidak pernah!"


"Lalu kenapa aku gagal? TIDAK! AKU HANYA GAGAL DIMATA KALIAN!" teriak Dian.


Plak!


Rea menatap Dian nyalang. Tamparan sepertinya tidak berpengaruh pada Dian hingga berani berbicara lancang.


"Sampai kapan kalian akan memukulku ... Kenapa tidak membunuhku saja." Tangis Dian pecah. Bibirnya sudah sobek untuk kesekian kalinya.


Rea semakin berang. Wanita itu menarik kasar tangan Dian hingga berdiri dan menyeretnya ke meja belajar.


"Mama sakitt ...!"


"Kau lihat kakakmu. Dia lebih tidak berguna! Dia bisa menjadi wanita kaya, tapi memilih kabur bersama lelaki tidak jelas! Kau ingin seperti dia?" hardik Rea tidak peduli.


"Kami mau kau masuk sekolah baru dengan prestasi terbaik di antara semua murid. Jadi juara umum setiap tahun. Apa sulit?!"


Dian masih sesugukan mendengar makian Rea. Saat ini ia masih sekolah menengah, bagaimana saat sampai di menengah akhir?


"MAMA BILANG BERHENTI MENANGIS, DIAN!"


Dian terduduk dengan nafas memburu. Keringat bercucuran dari pelipisnya. Mimpi buruk itu belum berakhir. Semua muncul satu-persatu untuk terus menghantuinya. Semua masih begitu nyata untuk dikatakan mimpi. Luka-luka itu masih terbuka lebar dalam dirinya.


Dian menyentuh pipi dan sudut bibirnya. Semua hanya mimpi, tapi Dian seolah merasakan rasa sakit itu. Kapan semua akan berakhir. Sekeras apapun ia mencoba melupakan, rasa itu akan semakin menganga lebar.


"Dian ..." Nico muncul dari toilet segera mendekat melihat istrinya tampak kacau.


"Ada apa? Bermimpi buruk?" tanya Nico lembut sembari mengusap keringat Dian. Nafasnya masih memburu cepat.


Melihat Nico dengan wajah khawatir di depannya, ia semakin yakin jika itu hanyalah mimpi. Tapi bibirnya kelu. Ia tidak bisa bersuara, bahkan tubuhnya bergetar hebat.


"Aku disini, jangan takut."


Beberapa kali Nico mencoba menenangkannya, Dian tidak bergeming. Matanya justru tertuju pada kaca di meja rias yang menampakkan dirinya yang kacau di atas ranjang.


"Rambut panjang sangat indah, kan? Jangan memotong rambutmu! Kau harus jadi gadis paling cantik nantinya."


"Dia cantik, tapi sangat aneh!"


"Kenapa dia menutup wajahnya dengan rambut?"


"Hati-hati. Jangan dekat dengannya."


Dian menutup telinganya histeris. Tanpa aba-aba Dian turun dari sana, mengejutkan Nic yang langsung mengikuti.


"Kau mau apa?!" Nico hendak merebut gunting yang Dian ambil di laci meja.


"Membuang mimpi burukku!" Dian mendorong Nico agar menjauh, kemudian hendak memotong cepat rambutnya yang sudah memanjang melewati bahu. Namun Nico lebih dulu menahannya.


Nico menemukan hal baru lagi. Dian pasti memiliki sesuatu yang membuatnya menjadi sosok tak berempati dan kasar. Ada sesuatu yang belum ia ketahui.


"Biar kulakukan." Nico menatap mata putus asa yang bergenang air mata itu sembari mengambil gunting di tangan Dian.


Nico menemukan hal baru lagi. Dian pasti memiliki sesuatu yang membuatnya menjadi sosok tak berempati dan kasar. Ada sesuatu yang belum ia ketahui. Alasan rambut Dian selalu pendek sejak dulu, pasti ada sesuatu dibaliknya.


Nico memangkas rambutnya serapi mungkin hingga diatas bahu. Dian tak henti menatap Nico yang sangat berhati-hati. Belakangan ini ia mulai melupakan kesedihannya sejak kehadiran pria itu hingga Dian tidak memperhatikan rambutnya yang telah memanjang melewati bahu.


Biasanya ia takkan membiarkan rambut itu tumbuh meski hanya sejajar bahunya. Tapi karena mimpi buruk itu, ia kembali mengingat semuanya.


"Ceritalah kapanpun kau siap. Aku selalu bersamamu."