
"Mama ingin bicara?"
Rico sudah memperhatikan gelagat ibunya sejak tadi. Bocah itu sudah menebaknya sejak makan malam berlangsung. Saat akan tidur, ternyata ibunya diam-diam datang.
"Entahlah," lirih Dian dengan memperhatikan sekeliling kamar baru Rico. Entah mengapa ia merasa kamar ini akan segera kosong.
Di tengah lamunannya Dian merasakan pelukan di pahanya. Ukuran tinggi Rico tidak mencapai pinggangnya, jadi memeluk yang bisa dijangkaunya.
"Jika Mama tidak suka, Rico akan tetap disini."
Maksudnya? Dian mengerjit bingung. Ia merendahkan tubuhnya.
"Kau bicara apa, Rico?"
Bocah itu menunduk. "Om yang bertengkar dengan Mama kemarin itu papa kandung Rico, kan?"
Dian terpaku sesaat, lalu terkekeh pelan sambil menjatuhkan tubuhnya di sisi ranjang. Dian menepuk ruang kosong di sebelahnya meminta Rico untuk duduk juga.
"Rico— menurutmu mama orang yang seperti apa?" Dian tersenyum menatap Rico.
"Mama luar biasa," jawab Rico langsung.
"Hanya itu?"
"Mama terlihat menyeramkan tapi sebenarnya sangat baik. Rico langsung tahu Rico akan aman jika bersama Mama. Rico pernah berharap jika seandainya mama Melly seperti mama Dian pasti akan sangat bagus."
Dian tidak marah. Dian menyukai kejujuran anak-anak tentang dirinya. Ia tidak peduli bagaimana pandangan mereka pada ibunya ini. Yang terpenting Dian menyayangi mereka.
"Rico juga luar biasa. Rico tahu, kan Mama tetap mencintai Rico meski bukan mama kandungmu?"
Bocah itu mengangguk pasti. "Papa Nico juga bilang begitu," katanya.
"Tentu saja karena Rico anak kami," lirih Dian mengelus pipi berisi putranya.
Rico bergerak memeluk ibunya itu. "Rico akan bersama Mama."
"Apa Rico ingin ikut dengan papa kandung Rico?" Dian membalas pelukan Rico dengan dada yang mulai sesak. Apa ia harus merelakan lagi?
Rico terdiam cukup lama tanpa menjawab. Dia tersenyum tipis melihat bibir kecil itu terlihat kelu.
"Coba pikirkan kembali dan lihat keinginan Rico. Johan ayah kandungnya, Dian. Rico mungkin pernah mengharapkan kehadirannya seperti Lily dan Emi dulu. Bukankah terlalu kejam untuk Johan yang tidak mengetahui apapun?"
Kata-kata suaminya tergiang di kepalanya. Ia harus menurunkan egonya kali ini, kan? Nico benar. Selama ini Rico hanya hidup dengan Melly yang memperlakukannya buruk. Pasti ada saat Rico begitu mengharap kehadiran ayahnya sebagai pelindung sekaligus orang tua yang akan menyayanginya.
"Sebenernya mama penasaran tentang papa Johan. Apa Rico sudah mengenalnya?" Dian mengubah raut wajah sedikit gembira. Rico masih tampak ragu membuka mulut.
"Tidak apa-apa. Katakan saja. Mama tidak akan marah."
"Sungguh tidak apa-apa?" tanyanya polos.
"Hm." Dian mengangguk.
Jadi malam itu dihabiskan oleh Dian dan Rico yang terus berceloteh panjang mengenai Johan. Terlihat begitu jelas raut bahagia di wajah Rico setiap kali bercerita.
Jalan-jalan, bersenang-senang bersama, bahkan janji-janji kecil ternyata sudah pernah dilontarkan Johan pada Rico pada setiap kesempatan yang tidak diketahuinya.
Begitu bersemangatnya Rico hingga bocah kecil itu tanpa sadar tertidur dengan lelapnya. Dian tak dapat mengalihkan pandangannya dari putra yang kini tersenyum dalam tidurnya. Begitu bahagianya, kah?
Dian mengusap air matanya yang menerobos keluar. Ia juga bahagia. Sudah saatnya Rico memiliki keluarganya sendiri. Keluarga sesungguhnya.
"Dia bilang akan bersamaku—" Kini Dian sesegukan di pelukan Nico.
"Lalu mengapa menangis, hm?" ucap Nico lembut.
"Dia berbohong— aku tahu dia bohong!" ucap Dian, "Lily dan Emi juga pernah berbohong seperti ini, tapi aku mengabaikannya. Tapi itu semakin menyakiti mereka. Aku tidak bisa mengabaikan Rico juga,"
"Keputusanmu tidak salah, Sayang. Kau ingin dia bahagia."
-
-
-
-