Istri Yang Terabaikan

Istri Yang Terabaikan
S3 EPISODE 157 - LAMARAN UNTUK WANITA KU


Ben mengatakan akan membantu Ed namun ia tak menyangka akan dibuat lelah seperti ini oleh Ed. Setelah berjanji akan membantu, Ben kembali ke kantor nya dan dalam sehari Ed sudah menghubungi nya lebih dari tiga puluh kali.


Sore nya Ben pulang lebih awal karena ia sangat - sangat lelah secara mental. Ben masuk ke rumah dengan sedikit lelah.


"Papa pulang!! Papa pulang!! "


Suara collin menggema sepanjang lorong dan berlari ke arah Ben dengan laju.


"Hello My Heart!! " Ben memeluk collin dengan erat.


Mencium aroma anak nya membuat ia merasa sedikit bertenaga dan tenang.


"Apa yang kamu lakukan hari ini? " Tanya Ben kepada Collin.


Collin hanya terdiam dan murung. Ben merasa ada yang tidak beres.


"Hei, ada apa? Papa hanya bertanya it's okay jika kamu tidak menjawab papa, papa hanya ingin tahu keadaan kamu hari ini"


"Dia membuat adik - adik nya benjol" Ucap seseorang yang menghampiri mereka.


Collin memeluk Ben dengan erat seperti ketakutan. Orang yang menghampiri mereka adalah Nissa. Ben merasa aneh akan sikap Collin.


"Ada apa Collin? apa mama nakal ke kamu? "


Collin masih enggan bicara.


"Seharian ini dia terus menghindari ku, Setelah membuat Edgar dan Edmund benjol begitu, dia tidak bicara sedikitpun" protes Nissa.


"Apa kamu memarahinya? " Tanya Ben.


"Jangan kan marah, aku saja baru bisa keluar dari kamar si kembar sekarang. Mereka barusan tidur, seharian menangis. Aku sudah mencoba bicara pada Collin, dia enggan menjawab lalu si kembar bangun dan menangis karena kepala mereka masih sakit, hari ini waktu ku berputar - putar seperti itu"


Nissa merasa lelah dan sangat lelah. Ben segera mengecup pipi Nissa.


"Aku pulang sayang, kamu istirahat lah... aku akan mengajak Collin jalan - jalan di taman"


Collin berlari - lari sambil mengejar kupu - kupu yang terbang dan berusaha menggapainya.


"Collin, sekarang mau kah kamu cerita ke papa yang sebenarnya terjadi? "


Collin enggan berbicara dan masih terlihat belum nyaman. Ben pun membawa Collin ke luar rumah, taman umum yang di mana banyak orang olahraga sore dan bersantai disana.


Ben tak lupa membelikan Collin Ice Cream. Collin memandangi Ice Cream itu dan berkata...


"Edgar dan Edmund? " Tanya Collin.


Collin menayangkan apakah Papa nya tidak membelikan Edgar dan Edmund.


"Itu milik kamu, sekarang Edgar dan Edmund tidur tentu saja mereka tidak bisa makan ice cream"


Collin dengan senang pun memakan ice cream nya kembali. Ben membelai kepala Collin dan memperhatikan wajah Collin. Wajah yang mirip dengan nya itu, tidak di ragukan lagi adalah anak nya. Mungkin saja sifat sensitif mereka juga sama.


"Collin, kenapa adik - adik kamu hari ini bisa benjol? " Tanya Ben dengan pelan.


"Apa papa marah? " Mata Collin terlihat sedih seolah semua orang seakan memarahinya.


"Tidak sayang, Papa hanya ingin tahu, jika kita tahu apa yang terjadi pada adik - adik kamu, kita bisa memberikan nya obat kan? "


"Tapi mama marah"


"Tidak, mama sayang sama Collin tapi mama hanya khawatir karena tidak tahu adik - adik kamu kenapa, kalau tahu mama tidak akan marah, percaya sama papa ya"


Collin masih menimbang akan berbicara atau tidak namun akhirnya anak kecil itupun berbicara..


"Mereka berebutan mainan, dan Collin tidak bisa melepaskan nya"


"Mainan? "


"Balok - balok kayu itu! Mereka main punya Collin dan saling rebutan, Collin sudah bilang JANGAN!! Mereka masih berebutan"


"Lalu bagaimana mereka bisa benjol? "


"Mereka tarik kuat - kuat dan langsung jatuh ke lantai, yang benjol kena balok - balok lain"


"Lalu kenapa kamu takut? padahal bukan salah kamu? "


Collin memandangi papa nya kembali.


"Mama teriak - teriak ke Collin"


Lalu air mata pada mata biru itu jatuh jadi butir - butir dan membasahi pipi nya. Collin begitu sedih mengira mama nya marah pada nya.


"Jangan menangis sayang, mama bukan marah, mama hanya panik, nanti biar papa yang cerita ya"


"Apa dia sudah cerita? " Tanya Nissa khawatir.


"Sudah"


Ben pun menceritakan ke pada Nissa apa yang Collin cerita kan pada nya.


"Ya ampun! Aku sungguh tidak menyangka! Saat itu aku benar - benar panik mendengar suara si kembar dan melihat benjol di kepala mereka, Aku tanpa sadar... "


"Aku tahu, ini pertama kali nya kita jadi orang tua dan hal ini juga pertama kali nya bagi Collin punya adik, kejadian itu terlalu cepat untuk nya apalagi adik - adik nya begitu aktif"


"Bagaimana ini Ben? Aku merasa sangat bersalah"


"Kita bisa minta maaf dan menghibur nya saat dia bangun, yang pasti kamu harus minta maaf kepada nya Nissa, dia berfikir kamu sangat marah padanya"


"Iya tentu saja, Ya ampun anak ku"


.


.


.


Malam nya Ben masih asik dengan beberapa kertas di tangan nya. Ben sibuk memperhatikan kertas itu meski mereka sudah di atas tempat tidur. Nissa sudah bersiap untuk tidur.


"Kamu tidak tidur? " Tanya Nissa.


"Bentar lagi deh, Ed sedang perlu bantuan"


"Bentuan? "


"Lamaran untuk Lyra"


Nissa menjadi bersemangat hingga menunda jadwal tidur nya.


"Sungguh?! Akhirnya..... "


"Ya tapi semua nya harus ku persiapkan sampai kejutan di rumah sakit aku yang mengurus nya juga"


Nissa ikut memperhatikan beberapa rencana yang dibuat oleh Ben dan ada beberapa yang menurut Nissa kurang pas.


"Masa Banner nya cuma dengan tulisan Lamaran, nggak Romantis lah" ujar Nissa.


"Biar aja, kan bukan aku yang punya lamaran"


"Kalau kamu ngelamar aku dengan banner begini, menurut kamu aku akan Terima? "


Ben memikirkan kembali pernyataan Nissa dan menyadari.


"Tidak"


"Nah kan!! "


Nissa berfikir kembali tulisan di banner nya.


"Lamaran untuk wanita ku! tulisan nya itu saja, kalau pakai nama Lyra pasti akan lebih malu. paling tidak orang yang lihat tidak akan tahu nama Lyra dan Ed"


"Benar juga"


"Kalau cincin jangan dengan berlian sebesar ini, kita wanita bakal susah sekali beraktivitas dengan cincin besar itu"


"jadi? "


"Pilih yang simpel namun tegas sama seperti karakter Lyra, Aku rasa pilih yang ini cocok"


Nissa menunjuk ke arah sample cincin no dua dengan hiasan mutiara bulat di atas ukiran bunga.


"Kamu benar, dan satu - satu nya yang disipakan oleh yang melamar Lyra adalah kalimat lamaran, cinta dan ketulusannya"


"Tapi aku rasa tidak masalah karena Ed memang kurang bisa di andal kan di saat begini kan, daripada hubungan mereka makin kacau kedepan nya, kamu juga yang akan semakin sibuk"


"Kamu benar"


Ben mengakui dengan cepat ucapan istri nya.


.


.


.


#Bersambung