Istri Yang Terabaikan

Istri Yang Terabaikan
S3 EPISODE 149 - NISSA YANG POLOS (2)


...Sebelum membaca novel ini jangan lupa untuk memberikan like, vote,...


...hadiah dan komentar nya agar author semakin semangat dalam menulis novel...


...ini. Jangan lupa juga untuk mengunjungi karya Author yang lain dengan...


...judul "PERTEMUAN", "TAKDIR", dan "CINTA KU MAFIA KU" "AKHIRNYA ISTRI KU PERGI"...


...Tolong hargai penulis dengan menunjukan dukungan kalian....


.............


.......


.......


"Nissa...apa kamu mengerti kenikmatan dari tirai yang tertutup?"


Mata Ben fokus menatap Nissa namun tangan nya tak melepaskan pergelangan tangan Nissa yang kecil.


"Apa maksud kamu?"


Ben kemudian mendekat ke arah Nissa dan mencium nya lagi.


Apakah ciuman Ben memang terasa seperti ini....? berbeda! Entah kenapa rasa nya berbeda!


"Ben? Kamu sungguh akan seperti ini terus?"


"Itu lah yang mereka lakukan di balik tirai itu bahkan bisa lebih dari itu sayang ku"


Kini Ben mencium pipi Nissa dengan lembut dan panas nya bibir Ben itu menjalar di seluruh pipi Nissa. Nissa merasakan seandainya ada bara api seperti itulah yang ia rasakan pada pipi nya.


Nissa kini sadar dan lebih merasa peka dengan suara - suara yang di keluarkan oleh kanan dan kiri nya. Semua sarang cinta bagi mereka yang merasakan kenikmatan di balik tirai yang tertutup itu. Tirai tertutup dan lampu yang remang menjadi kenikmatan tersendiri bagi mereka yang sedang memadu kasih.


"Ahhh!!"


Suara erangan dan pergerakan semakin terdengar jelas dan Nissa pun bisa merasakan bahwa tubuh nya ikut memanas bersamaan dengan suara - suara yang terus ia dengar itu. Nissa merasa terbakar dan kini rasanya semakin memanas.


"Kamu paham kan? Kalau paham jangan berani - berani kamu buka tirai itu dan fokus lah pada pertunjukan ini, kamu harus tahu batasan meski kamu sepolos ini" Ben menyeka lipstik Nissa yang berlepotan dengan ibu jari nya.


Ben mengembalikan fokus nya pada pertunjukan di panggung dan duduk dengan tegap tanpa menyadari bahwa Nissa sedang menahan hasrat nya yang memuncak.


Kenapa tubuh ku merasa panas dan gerah?! Ben....terlihat biasa saja...


Nissa melirik ke arah Ben, ketampanan suami nya itu tiada dua nya dan itu membuat nya semakin bergairah. Suasana dan tempat yang begini lah membuat hasrat nya memuncak. Nissa hanya tak ingin melakukan semua hubungan itu di tempat seperti ini.


Ben! Kamu yang membuatku begini kenapa kamu malah membiarkan ku seperti ini?! Ini sangat....sangat curang!!


"Aku tidak tahan lagi!!.....Kamu harus bertanggung jawab karena membuat ku begini"


Nissa menarik leher Ben dengan tangan nya dan mencium Ben dengan sangat dalam.


Nissa?! Kenapa tiba - tiba....


"Nissa!" Bibir nya basah karena perbuatan istri nya.


Ben kaget dan tak percaya Nissa bisa melakukan hal seperti ini di tempat umum padahal Nissa paling benci memperlihatkan diri nya bermesraan di depan umum. Nissa yang polos dan manis itu bisa merasakan gairah di tempat seperti ini.


"Seperti nya aku telah mengajarkan hal yang buruk kepada mu" Bisik Ben dengan nada lembut.


"Aku akan membiar kan kamu menutup tirai itu" Ucap Nissa dengan seksi.


"Seperti yang lain?"


"Ya suami ku! Seperti yang lain nya"


Mata Nissa yang membara membuat Ben ikut menjadi panas dan panas itu menjalar menyusuri alam mimpi nya. Ditariknya tali yang menghubungkan tirai dan tertutup lah tirai itu. Perlahan layak nya ending pada sebuah film romansa, Tirai itu tertutup secara perlahan dengan sangat lambat.


Saat tirai mereka tertutup saat itu kedua nya mendekat kan diri bersamaan. Seolah lama tidak bersama dan seolah mereka mereka memang di ciptakan untuk satu sam lain nya. Merasakan bahwa kedua nya memang diperbolehkan bersama. Mereka menikmati intensitas yang belum pernah mereka rasakan. Udara panas dan tempat yang sempit di kelilingi oleh berbagai macam suara yang terdengar keduanya semakin lupa akan dunia luar.


"Aku ingin sekali merobek pakaian ini"


Ben masih fokus dengan leher pucat milik Nissa.


"Bagaimana aku bisa keluar jika pakaian ku robek?" Nissa masih memegang kendali atas kewarasan nya.


Meski gairah nya memuncak ia tak ingin kembali ke rumah tanpa sehelai kain ataupun kain compang camping. Itu sangat memalukan.


"Karena itu lah aku menahan nya, Aku hanya ingin masuk ke dalam mu saat ini"


Gerakan Ben yang cepat dan terburu - buru itu membuat Nissa mengerang dengan tiba - tiba pula. Suara erangan itu mereka sadari cukup keras meski kenyataan nya semua orang tak perduli dan fokus pada dunia mereka sendiri. Tidak akan ada orang yang perduli bahwa mereka sedang bercinta karena sedang fokus pada pergerakan mereka sendiri.


"Kita di luar sayang, tahan lah suara mu dengan menyentuh ku dan mencium ku saja" Ucap Ben.


Setidaknya Ben masih bisa bertahan dengan itu semua. Nissa mengangguk dan memeluk Ben erat kemudian ia membuka bibir nya agar Ben bisa membuat suara nya tidak keluar dengan mudah. Berkat Ben Nissa mengurangi erangan nya dan lebih fokus dengan kegiatan mereka.


Kini Ben menarik Nissa ke atas nya dan mencium nya dengan seluruh kekuatan yang ia punya. Dengan memeluk Nissa di atas nya, Ben bisa merasakan berat tubuh Nissa. Panas dan aroma tubuh wanita itu membuat nya basah. Mata nya terus bergerak tanpa fokus dan terus melihat bibir nya, pipi nya bahkan leher nya. Semua yang ada pada Nissa sangat indah bagi Ben.


"Cantik sekali....kamu cantik sekali....haaahhh bahkan kamu sangat harum sekali"


"Kamu juga Ben, malam ini kamu begitu menawan...Aku ingin sekali masuk ke dalam pelukan mu dan tidur di dalam nya"


"Aku ingin hal itu juga cinta ku"


Jeng...jeng...jengjeng..........


🎢🎢🎢


Musik kembali di main kan, kali ini musik dari lagu utama The Phantom of the Opera. Penyanyi Broadway pun tidak ada yang tidak tahu lagu terkenal ini.


"Nissa?"


Ben melihat mata istri nya berbinar mendengar lagu tersebut.


🎢🎢🎢🎡


In sleep he sang to me


In dreams he came


That voice which calls to me


And speaks my name


And do I dream again?


For now I find


The Phantom of the Opera is there


Inside my mind


Sing once again with me


Our strange duet


My power over you


Grows stronger yet


And though you turn from me


To glance behind


The Phantom of the Opera is there


Inside your mind


Those who have seen your face


Draw back in fear


I am the mask you wear


It's me they hear


Your/my spirit and your/my voice


In one combined


The Phantom of the Opera is there


Inside your/my mind


He's there


The Phantom of the Opera


Beware


The Phantom of the Opera


In all your fantasies


You always knew


That man and mystery


Were both in you


And in this labyrinth


Where night is blind


The Phantom of the Opera is there


Inside your/my mind


Sing, my angel of music


He's there, the Phantom of the Opera


🎢🎢🎢🎡


Hingga akhir lagu itu dinyanyikan Ben hanya bisa menatap Nissa dengan kesal.


"Lagu yang indah, sayang aku hanya bisa melihat nya dengan tirai yang sedikit terbuka ini, Aku malu sekali membuka nya"


Mengingat baju nya yang kacau, make up nya bahkan kancing baju Ben yang sedikit terbuka. Nissa masih punya hati nurani untuk tidak membuka tirai dengan lebar.


"Ben...Aku suka sekali lagu yang barusan....kamu juga apakah kamu suka lagu nya....."


Karen Ben tidak menjawab Nissa pun menoleh dan mendapati suami nya terlihat cemberut dan kesal. Wajah Ben berubah kaku dan terlihat menyeramkan. Nissa merasakan bahwa ia harus membujuk suami nya semalaman agar suami nya berhenti marah.


"Apa kamu ingat bahwa sejak tadi aku bersama mu?!"


-bersambung-