
...Sebelum membaca novel ini jangan lupa untuk memberikan like, vote, hadiah dan komentar nya agar author semakin semangat dalam menulis novel ini. Jangan lupa juga untuk mengunjungi novel karya author yang lain dengan judul "CINTA KU MAFIA KU" dan "PERTEMUAN"....
...*...
...*...
...*...
"Ehhmmmm"
Sepasang tangan kecil memeluk Ben dengan lembut. Aroma dan kehangatan yang selalu Ben kenali yang ia yakini adalah milik istrinya. Nissa adalah kebahagiaan terbesar dalam hidup nya, kehangatan dan aroma wanita itu akan selalu ia kenali bahkan dalam tempat gelap sekalipun.
"Kamu sudah bangun? Cuci muka dulu habis itu kita sarapan ya"
Nissa hanya membenamkan wajahnya sambil menggeleng di punggung Ben.
"Tadi sepertinya ada suara Edison" Ucap Nissa.
"Ya, Ed baru saja pulang, Kamu lapar? Mau mandi dulu atau sarapan dulu?" Ben menuangkan kopi di cangkir kopi yang sudah ia letakkan sejak tadi.
"Aku mau sarapan dulu, sebentar aku cuci muka dulu"
"Ya silahkan cuci muka dulu istri ku"
Pagi hari mereka kembali cerah dan mood Nissa mulai membaik. Apalagi Adel akan pulang Minggu depan, Nissa semakin bahagia dan yang paling membahagiakan adalah ketika melihat bakat kepintaran Collin sudah mulai tampak. Nissa selalu mengatakan bahwa anak - anak nya harus menurun kepintaran Ben.
Tapi sesungguhnya Ben tidak setuju akan hal itu, mau pintar atau tidak anak nya, yang paling ia inginkan adalah anak - anak nya sehat selalu dan keluarga mereka selalu bahagia. Itulah yang terpenting.
"Kamu tidak ke perusahaan hari ini?" Tanya Nissa.
"Mungkin agak siang sedikit, rapat nya dibatalkan untuk pagi ini, jadi aku bisa santai sedikit pagi ini"
"Sayang, Apa kamu tahu, tadi malam saat aku mengecek ranjang anak - anak Edmund dan Edgar saling berpelukan, mereka seperti koala yang memeluk pohon dengan erat"
"Benarkah?"
"Aku sempat memfoto nya, biar ku tunjukkan"
Nissa mengambil handphone nya dan memperlihatkan hasil jepretan foto nya itu. Ben tertawa bukan main melihat kemampuan anak - anak nya itu.
"Kirim kan padaku, Aku akan mencetak nya dan meletakkan nya di album keluarga kita"
"Haahhh si kembar tidak pernah tidur dengan rapi, mereka selalu saja banyak gerak dan punya banyak posisi tidur nya"
"Itu artinya mereka sangat aktif" Jawab Ben.
"Tapi kamu lihat Collin, dia sangat anteng banget tidur nya, rapi dan manis" Nissa tersenyum mengingat posisi tidur Collin yang seperti boneka.
"Aku malah khawatir terhadap Collin, kata karyawan ku yang sudah punya anak ke sebelas itu, Collin tidak seperti anak - anak pada umumnya"
"Apa? Apa maksudnya dia mengatakan Collin begitu?!!" Nissa sedikit emosi mendengar hal itu.
"Collin terlalu pandai, bahkan saat di perusahaan waktu itu, Collin memilih mainan yang tidak anak - anak lain pilih"
Jika anak - anak lain memilih Bola atau Boneka maka Collin memilih Buku dan Catur. Jika anak - anak lain memilih bermain bersama - sama teman nya, maka Collin memilih duduk di pojok ruangan sambil melihat buku bergambar milik nya. Bahkan dalam mempelajari musik, Collin bisa mengingat nya dengan sangat cepat.
"Tentu saja, karena Collin anak yang pandai" Ujar Nissa dengan bangga.
"Tapi aku khawatir dia tidak bisa berbaur dengan anak - anak lain nya"
"Jangan khawatir Ben, Collin punya Adel dan adik - adik nya, dia pasti akan mampu berbaur dengan kasih sayang kita".
Nissa kadang - kadang heran, kenapa dia bisa begitu tenang mengenai Collin dan si kembar. Namun tidak dengan Adel. Nissa merasakan ketentraman dan keamanan sejak ia melahirkan Collin dan si kembar. Tapi tidak mudah baginya untuk tenang jika hal itu mengenai Adel.
.
.
.
"Benar segar sekali rasanya" Jawab Ben.
Ben dan Nissa berendam berdua setelah sarapan pagi. Dan pagi ini anak - anak mereka belum bangun, dan masih tidur nyenyak. Sejak mereka memiliki si kembar, waktu mereka untuk berdua semakin berkurang. Jika ada waktu, mereka sibuk mengurus anak - anak. Tidak banyak waktu untuk bermesraan.
Namun Ben bersikeras bahwa sesibuk apapun mereka, mereka harus tidur satu ranjang dan berciuman setiap pagi nya saat Ben pergi ke perusahaan dan setiap Ben pulang ke rumah.
"Bersandar lah sayang, lebih dekat lagi" Ben menarik Nissa lebih mendekat ke arah nya.
Dengan nyaman Nissa bersandar pada tubuh Ben.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kamu selalu terasa nyaman, selalu terasa nyaman berada di dekat mu"
"Aku tersanjung sekali, Terimakasih Istri ku"
Tiba - tiba Ben terfikir apakah benar istri nya bahagia, karena istri nya harus menghentikan pekerjaannya demi mengurus dirinya serta anak - anak nya. Ben merasa bahwa Nissa selama ini banyak menahan dirinya.
"Nissa, Apa kamu benar bahagia dengan hidupmu yang sekarang?"
"Apa maksudnya Ben? Kenapa kamu berfikir aku tidak bahagia?"
"Pekerjaan mu, Apa kamu yakin tidak melanjutkan nya? Aku merasa bahwa kamu sangat mencintai pekerjaan mu"
Nissa tertawa dan menatap Ben dalam - dalam. Sorot mata nya melembut dan Nissa tersenyum dengan manis di hadapan Ben.
Kenapa pria ini selalu sama seperti pertama kali kami bertemu? Pria ini selalu menanyakan kebahagiaan ku daripada kebahagiaan nya sendiri, Bagaimana bisa aku lepas dari pria ini. Aku terjatuh semakin dalam ke dalam cinta nya.
"Lalu apa kamu bahagia punya istri seperti ku?" Tanya Nissa.
"Tentu saja! Aku bahagia bahkan sangat bahagia"
"Kalau begitu aku juga, pekerjaan bagiku adalah nomor dua setelah kamu dan anak - anak, jadi tidak masalah, jika anak - anak sudah besar aku bisa melanjutkan pekerjaan ku, bagiku waktu bersama kamu dan anak - anak lebih penting".
"Terimakasih telah memilih ku daripada pekerjaan mu, Tapi katakan lah kapanpun itu jika kamu mau bekerja lagi, Akan kulakukan apapun untuk mu"
Nissa lagi - lagi tertawa dengan geli, melihat Ben di hadapan nya. Pria yang menjadi suami nya ini selalu mampu membuat nya tertawa geli dengan banyak nya cinta yang di berikan nya.
"Baiklah, itu kita pikirkan nanti saja, sekarang....kemarikan tangan mu, Aku akan memijat kamu sebentar"
Kali ini mereka berganti posisi, Ben yang bersandar kepada Nissa. Nissa memijat tangan, pundak serta kepala Ben dengan tenaga yang cukup membuat Ben rileks. Tubuh Ben yang tegang mulai rileks dengan pijatan itu.
Waktu mereka untuk bersantai berdua seperti ini lah yang sudah lama tidak mereka rasakan. Nissa melayani nya dengan nyaman, dan Ben bisa bersantai dengan rileks. Air yang segar semakin membuat keduanya merasa nyaman dan tak ingin bangkit dari tempat itu. Seolah tubuh mereka melekat dengan tempat itu dalam waktu yang lama.
-bersambung-
..."Bagi nya hanya ada satu dunia saat ia terjatuh dalam cinta"...