Istri Yang Terabaikan

Istri Yang Terabaikan
S3 EPISODE 140 - BERDARAH


...Sebelum membaca novel ini jangan lupa untuk memberikan like, vote, hadiah dan komentar nya agar author semakin semangat dalam menulis novel ini. Jangan lupa juga untuk mengunjungi karya Author yang lain dengan judul "PERTEMUAN", "TAKDIR", dan "CINTA KU MAFIA KU"....


.......


.......


.......


Nissa terus memandang ke arah Collin dan Ben pergi. Meski tak banyak yang bisa ia lakukan ia tetap menatap arah hutan itu dengan rasa cemas dan berdebar. Nissa tak henti - henti nya melirik ke arah hutan hingga ia melihat seekor kuda yang dinaiki oleh Ben dan Collin di atas nya.


Nissa begitu terkejut, bukan karena kuda itu, namun ia terkejut dengan noda di wajah anak laki - laki nya. Wajah Collin berlumuran darah dan ia terlihat begitu murung.


"Collin !!" Pekik Nissa.


Nissa segera berlari menghampiri Ben dan Collin yang hendak turun dari kuda itu. Nissa panik dan terus memperhatikan Collin yang berada dalam pelukan Ben itu. Tubuh kecil Collin terus bertekuk seolah melindungi sesuatu di dalam perut nya.


"Ben, ini yang kata kamu aman? Lihat wajah Collin yang ketakutan, Lalu noda darah ini dari mana?!!"


Nissa memeriksa tubuh Collin dengan seksama. Di lihat nya dari arah samping kanan, kiri, atas, bawah namun tak ada luka. Hanya penampilan Collin begitu berantakan.


"Mana yang sakit? Sayang lihat mama!!"


Collin masih terdiam.


"Nissa...."


"Ben, Aku tidak akan mengizinkan Collin berburu sampai kapanpun jika aku menemukan satu goresan di kulit nya"


"Haaaah" Ben hanya menghela nafas panjang.


"Apa yang kamu sembunyikan di baju mu?"


Collin enggan menunjukkan nya dan tetap melindungi nya ke dalam tubuh nya.


"Collin biarkan mama lihat!!"


Akhirnya Collin pun terpaksa memperlihatkan nya kepada sang mama.


"Ini.... Kelinci...."


"Haduuh Collin, mama kira kamu sakit atau terluka maka nya kamu menyembunyikannya"


"Collin takut mama marah...."


"Mama tidak akan marah jika kamu jujur, maaf kan mama sayang, mama hanya sangat khawatir dengan kamu, karena mama sangat sayang dengan Collin"


"Maafkan Collin ma"


Lalu mata Collin yang sejak tadi sembab mulai meneteskan air mata dan berubah menjadi tangisan kencang.


"Oh My Sweet heart, What Happen?"


"Ini bukan darah Collin tapi darah Papa" Ucap Collin sambil menangis.


Nissa langsung berbalik dan melihat ke arah Ben. Nissa mencari - cari luka di tubuh Ben dan ia melihat area lengan kiri Ben yang sobek dan mengeluarkan darah.


"Ben, Apa yang terjadi?"


"Kamu sudah bisa fokus? sejak tadi kamu hanya memperhatikan Collin tanpa memperhatikan ku juga!"


"Maaf, Aku hanya panik sayang"


"Ya, Aku tidak akan pernah menang dari anak sendiri, Aku paham"


Ben lagi - lagi hanya mendesah sambil melepaskan rompi berburu nya. Nissa pun membantu Ben melepaskan rompi itu dari tubuh kekar Ben.


"Bagaimana bisa kamu terluka seperti ini?"


"Ku kira kamu hanya tertarik dengan anak mu saja?"


"Sayang!!"


"Baiklah"


.


.


.


"Tadi di hutan, ada kelinci...karena Collin tanpa sadar terlalu semangat ingin menangkap kelinci itu, dia tidak melihat jalan di depan nya dan hampir terguling ke area yang dalam seperti jurang kecil"


"Jadi kalian jatuh kesana?"


Nissa terlihat sangat panik dan sejak tadi wajah nya terus pucat melihat luka di lengan Ben itu.


"Tidak, aku segera menangkap tubuh Collin dan bertahan di akar pohon, tapi akar pohon nya terlalu banyak dan tajam, jadi nya mengenai lengan ku seperti ini, syukur nya ada para pengawal juga disana mereka segera membantu kami"


Nissa pun segera mengambil kotak obat itu dari pelayan nya. Lengan kemeja Ben pun digunting agar memudahkan pengobatan. Nissa mulai mensterilkan luka Ben. Kadang Ben mengerjap kesakitan karena terkena cairan alkohol.


"Maaf, Aku hampir membahayakan anak kita" Ucap Ben tiba - tiba.


"Kenapa kamu lucu sekali sih Benedict?"


"Apa maksudnya itu?" Tanya Ben tak mengerti.


"Yang nama nya kecelakaan tidak bisa di perkirakan, Aku juga tadi terlalu implusif dengan marah tanpa perduli situasi, Aku....aku hanya panik saja....Maaf kan aku"


"Aku tahu.... Ternyata jadi Orang Tua itu tidak mudah" Ucap Ben sambil bercanda.


"Tidak ada yang mudah di dunia ini sayang,Satu hal yang pasti adalah dengan ini aku semakin yakin kamu adalah Papa yang sangat baik bagi anak - anak kita"


"Kamu juga adalah Ibu yang sangat pengertian Nissa"


Mereka saling berpandangan dan kemudian tertawa. Nissa kemudian membalut luka Ben dan perlahan menutup nya dengan perekat.


"Aku rasa, karena kamu sering terluka aku bisa jadi perawat, Aku semakin lihai membalut luka"


Nissa membanggakan dirinya.


"Kamu benar, balutan mu semakin rapi saja, aku sampai terkejut"


"Itu karena kamu sering terluka, ku mohon kurangi lah aksi berbahaya mu"


"Aku melakukan ini demi kamu dan anak - anak, Aku harus selalu jadi Papa yang sedia"


Nissa hanya bisa menggelengkan kepala nya saja. Ia tak bisa membantah perkataan Ben yang benar ada nya. Ben segala nya dan akan selalu menjadi bagian dari hidup nya. Hal itu tak akan pernah berubah.


"Papa Maafkan Collin, karena nakal"


Collin mendekat ke arah papa nya dengan takut - takut.


"Collin kemari lah" Pinta Ben.


"Kamu tahu yang kamu lakukan tanpa aba - aba dan suruhan itu bahaya? Kamu paham itu kan?"


"Iya" Jawab Collin dengan sedih.


"Kalau begitu, kamu pasti belajar arti bahaya kan kali ini?"


"Iya, Aku tidak akan mengulangi nya lagi pa, Promise"


"Good Boy!!"


Ben pun memeluk Collin dan menghujani nya dengan banyak ciuman. Ciuman yang menandakan rasa sayang nya kepada anak nya. Collin yang tadinya sedih pun tertawa dengan riang.


"Collin hati - hati tangan papa masih terluka"


"Tidak apa" Jawab Ben dengan cepat.


"Tapi..."


"Segini aku masih bisa tahan"


"Baiklah kalau mulai terasa sangat sakit harus bilang ya"


"Baik Nyonya ku"


Collin melihat ke arah luka Ben yang dari perban itu pun masih bewarna merah.


"Huu huuuftt huufff" Collin meniup luka itu dengan mulut nya.


"Kamu kenapa Collin"


"Supaya papa cepat cembuh"


Nissa dan Ben tertawa dengan keras.


"Cakit....cakit pergilaahh kalau tidak pergi Aku akan memukul mu Yap!!"


Nissa dan Ben pun semakin tertawa dengan keras melihat tingkah lucu buah hati mereka. Collin terus bernyanyi dengan suara aneh demi kesembuhan papa nya. Collin suatu saat akan jadi anak yang luar biasa hebat nya dengan empati yang ia punya.


"Ad...du...duhhh Collin tangan papa masih sakit" Ben berpura - pura sakit.


"Iya sayang, papa kamu kesakitan nih ayo cepat obatin"


"Siaapp Dokter Collin di sini"


Jawab Collin dengan gagah berani.


-bersambung-