Istri Yang Terabaikan

Istri Yang Terabaikan
S3 EPISODE 148 (1) - MANIS NYA ISTRI KU


...Sebelum membaca novel ini jangan lupa untuk memberikan like, vote,...


...hadiah dan komentar nya agar author semakin semangat dalam menulis novel...


...ini. Jangan lupa juga untuk mengunjungi karya Author yang lain dengan...


...judul "PERTEMUAN", "TAKDIR", dan "CINTA KU MAFIA KU" "AKHIRNYA ISTRI KU PERGI"...


...Tolong hargai penulis dengan menunjukan dukungan kalian....


.............


.......


.......


Nissa memperhatikan Ben yang sedang mengemudi kan mobil nya. Ben yang sibuk memperhatikan jalan terlihat sangat serius. Kacamata hitam yang di pakai suami nya ketika mengemudi itu begitu luar biasa sempurna dan sangat cocok dengan penampilan nya saat ini. Dengan wajah dan tubuh indah itu siapa yang tidak akan mengingin kan hal itu.


Ben tidak pernah berubah sejak pertama kali mereka berjumpa namun di hati Nissa terkadang ia merasa gundah dan khawatir apakah kebahagiaan ini bisa terus berjalan sesuai apa yang ia harap kan. Karena jika sampai cinta Ben hilang padanya, ia tak akan bisa hidup, karena semua hidup nya adalah karena cinta Ben yang mengubah dunia dan hati nya.


"Kenapa memandangi ku seperti itu?" Tanya Ben dengan lembut.


Mata Ben masih tertuju ke depan, Lalu lintas yang semakin ramai ini membuat Ben sangat berhati - hati dalam mengemudi terutama saat ia sedang membawa sang istri.


"Tidak apa - apa....Aku hanya merasa malu..." Nissa menjawab dengan suara yang sangat kecil bahkan semut pun mungkin sulit mendengar suara Nissa itu.


"Kamu bilang apa?!" Tanya Ben lagi.


Nissa menutup wajah nya dengan kedua tangan. Nissa ingin sekali masuk ke dalam lubang dan mengubur diri nya. Melihat rasa bersalah di wajah pelayan kasir tadi membuat Nissa ingin sekali lari saat itu juga.


"Aku Malu" Ucap Nissa masih sambil menutup wajah nya.


"Kenapa? Kamu malu kenapa? Karena kejadian tadi?"


Nissa hanya menjawab dengan suara kecil menyetujui ucapan Ben itu. Ben pun merasa hal itu lucu dan manis. Istri nya mengira sang pelayan kasir ada maksud tersembunyi dan menyukai suami nya namun yang terjadi adalah pelayan itu masih baru dan awam dengan tugas yang ia punya. Ben bisa paham mengapa Nissa merasa sangat malu tapi tetap saja bagi Ben itu lucu dan manis.


"Kenapa kamu bersikap begitu sih? Kan kasihan pelayan kasir nya" Ben bermaksud menggoda Nissa.


"Bukan begitu....itu karena James...."


James yang dikira Ben menyukai istri nya ternyata memiliki niat tidak baik terhadap nya. Bahkan ketertarikan gila dan tidak normal nya itu sempat membuat Ben syok dan kehilangan kesadaran nya sesaat. Belum pernah ada seorang pria yang berbicara seperti itu dengan nya secara terus terang dan mengatakan niat buruk nya di hadapan diri nya seperti itu, jadi wajar saja jika Nissa juga merasakan banyak hal.


"Yah...Aku sempat hilang kesadaran ku karena orang itu, semoga kami tidak pernah bertemu lagi, Aku merinding!!"


"Aku jadi memikirkan hal yang bukan - bukan karena James!! Jika itu perempuan aku mungkin bisa menampar nya atau menjambak nya! yang pasti aku tahu apa yang akan ku perbuat tapi ini lelaki !!"


"Aku malah tidak menduga semua itu Nissa! Ku kira James tertarik padamu karena selalu mendekati mu dan berbicara padaku, setelah tahu niat James begitu, Aku yakin dia berbicara padamu karena ingin menjauh kan kamu dari ku"


"Gila! Aku benar - benar kesal"


Wajah cemberut Istri nya selalu membuat Ben tersenyum. Entah kenapa Nissa sangat imut ketika memajukan bibirnya karena kesal seperti itu. Jika saja mereka tidak di dalam mobil seperti ini, mungkin Ben akan menggigiti bibir merah itu.


"Yah mau bagaimana lagi, Aku tidak bisa menutupi pesona ku, Aku mungkin tidak bisa menutupi ketampanan ku"


Jawaban Pede dari Ben itu membuat Nisa menjawab....


"Kamu memang sangat mempesona, mana bisa ketampanan mu tertutupi bahkan dengan kacamata hitam itu"


Ben mengira Nissa akan mengatakan diri nya terlalu percaya diri seperti biasa tapi siapa yang sangka jika Nissa bahkan hanya menyetujui semua yang ia katakan itu.


"Tapi biar begitu Aku kan hanya mencintai mu saja sayang, jangan khawatir dan...."


Sebelum Ben menyelesaikan ucapan nya, tangan Nissa sudah menggandeng erat lengan nya sambil bersandar di lengan itu. Jarang - jarang Nissa bermanja-manja di dalam mobil karena Nissa orang yang sangat takut sesuatu terjadi di jalan raya.


"Sayang aku sedang menyetir...."


"Sebentar saja.... sebentar saja"


Dari perjalanan pulang hingga sampai ke rumah, Nissa tak melepaskan genggaman tangan nya dari Ben. Ben sangat menyukai nya, tapi....Nissa bertindak tidak seperti biasanya. Saat Ben hendak membawa belanjaan mereka.


"Sayang.... Bagaimana aku bisa membawa nya? Lepaskan dulu baru nanti..."


"Tidak!! Aku mau memegang tangan kamu seharian ini"


"Oke Baiklah"


Ben pun hanya membawa belanjaan dengan satu tangan nya dan Nissa memonopoli tangan Ben yang satu nya lagi. Ben pun segera memanggil pelayan nya untuk memindahkan barang belanjaan nya ke dalam.


"Tolong ya, segera bawa pakaian ke kamar kami dan bahan makanan ke ruang penyimpanan"


"Baik Tuan" Ucap mereka.


"Lalu apa yang kamu bawa ini?" Tanya Nissa penasaran.


"Tentu saja kesukaan ku yang akan kamu pakai nanti nya" Bisik Ben.


Nissa yang malu hanya tersenyum kecil dan menutup wajah nya.


Nissa masih belum mau melepaskan Ben dan terus saja menempel dengan Ben. Bahkan di sofa yang luas itu, Nissa hanya menempel di samping Ben.


"Kamu mau minum? Kamu mau apa? Kenapa manja - manja begini?"


"Aku nggak tahu, cuma nggak mau lepas dari kamu"


Pelayan yang menyajikan minuman di hadapan kedua nya pun tersenyum malu lalu berkata....


"Nyonya pasti sangat menyayangi Tuan sampai tidak mau lepas begitu, Kalau begitu...apa Tuan dan Nyonya punya kegiatan hari ini? Barang kali bersama Tuan muda?"


"Entah lah, kami belum memutuskan nya, Apa kamu punya rekomendasi?"


"Bagaimana dengan berkemah? Atau berkencan di ruang teater? Bukan kah sekarang sedang ada pertunjukan penyanyi teater terkenal?"


"Pertunjukan apa itu?"


"Terima kasih, Aku akan menanyakan nya pada Edison, kau boleh pergi"


Ben tahu Nissa menyukai pertunjukan musik seperti Opera ataupun teater musik, karena itu Ben pun ingin membawa Nissa menonton pertunjukan itu.


"Kamu tahu Phantom of Opera?" Tanya Ben.


"Tahu, cuma aku belum pernah menonton nya secara langsung, kamu tahu sendiri kan Tiket seperti itu sangat susah di dapat, sejak menikah pun aku belum pernah bisa membeli nya"


"Kenapa? Apa karena kamu takut aku melarang nya?"


"Bukan! Hanya saja....Tiket itu sangat cepat habis, dan aku tidak pernah bisa secepat orang lain nya dalam pembelian tiket online"


"Haaah.....harus nya kamu bilang saja kalau mau nonton, Aku pasti akan mencari kan nya untuk mu, kamu tidak perlu berusaha sendiri"


Ben selalu seperti ini, tidak pernah melarang nya dan selalu menuruti kemauan nya tapi jika semua hal Ben yang melakukan nya, lalu apa yang bisa ia berikan kepada Ben?


Aku selalu mendapat kan semua nya dari mu, tapi kenapa kamu tidak bisa menerima sedikit hal kecil dari ku? Aku hanya ingin memberikan sesuatu yang ku bisa untuk mu.


"Malam ini kita akan menonton pertunjukan itu, Kita perlu menidurkan anak - anak lebih awal"


"Ben...."


"Mama! Mama!! Where are you?!"


Suara lembut dengan bahasa Inggris aksen Eropa itu sudah pasti pangeran kecil nya sudah bangun. Tak lama pun suara tangisan dari si kembar juga menyusul.


"Mama di sini sayang" Ucap Nissa.


Ben pun segera menuju ke kamar untuk mengambil si kembar dan Nissa mengambil Collin yang terus saja mencari diri nya.


"Hmm...pangeran kecil mama sudah bangun?" Nissa langsung mengecup Collin dan memeluk nya.


"Moning Mama" (Morning Mama)


"Morning Juga sayang"


"Mama! Sarapan apa kita hari ini?"


"Kamu mau apa? Mama akan meminta Paman Koki membuat kan nya! Katakan saja pangeran mama mau apa?"


"Collin mau Pie Berry dan Croissant"


Tangan Nissa pun segera mengelus kepala Collin dengan lembut dan berkata...


"Siap sayang! Ayo kita turun seperti nya papa dan adik - adik kamu sudah di bawah juga"


Nissa menggendong Collin dan benar saja, Ben dan si kembar sudah di ruang makan terlebih dahulu. Edmund dan Edgar pun sudah berada di kursi makan mereka. Wajah merah mereka terlihat kesal dan menarik - narik kain di leher mereka.


"Edmund!! Edgar!! Kain Ini supaya nggak kotor di baju kalian! Dan ini Manner untuk keluarga kita makan dengan kain seperti itu" Ucap Ben sambil menghentikan kedua anak nya.


"Moning Papa!" (morning Papa")


"Morning Collin, maaf papa tidak bisa memeluk kamu karena adik kamu sedang bertengkar dengan kain mereka"


Nissa menghela nafas dengan keras dan menepuk punggung suami nya dengan pelan.


"Kamu salah warna! Wajar aja mereka nggak suka!"


Nissa kemudian menukar kain di leher kedua anak nya itu dan memasang kan nya kembali ke leher mereka. Dan seketika si kembar pun tertawa sambil menepuk - nepuk tangan mereka.


"Kain ini warna nya berbeda, Biru untuk Edmund dan Hijau untuk Edgar, dan masing - masing kain ada inisial nya, E.S"


"E.S? Apaan tuh? Kamu yang menjahit nya inisial itu?"


"Ya iyalah, untuk anak - anak ku pasti aku harus membuat nya sendiri E.S artinya Edmund Silver, dan Edgar Silver"


Meski sulit di percaya tapi si kembar sangat rewel dengan barang mereka. Untuk memudahkan membedakan si kembar Nissa selalu memberikan warna biru untuk Edmund dan Hijau untuk Edgar. Tapi siapa yang sangka jika warna itu melekat dengan mereka, ketika warna mereka tertukar kedua nya akan dengan keras menarik pakaian, sepatu ataupun topi itu dari tubuh mereka.


"Anak - anak ku sangat jenius ya? Mereka bisa paham warna mereka!" Ben takjub dengan kepintaran anak nya.


"Papa! Collin juga!! Pintar seperti adik - adik".


Melihat Collin yang ingin di perhatikan juga Ben pun segera memeluk Collin dan mencium nya dengan bangga.


"Kamu juga sayang, Kamu sangat pintar. Kamu kan Abang mereka, Kamu pasti lebih pintar jadi nya kamu bisa menjaga dan mengajari adik - adik kamu juga nanti nya"


"Alright Papa!!"


Ben memikirkan rencana keluarga nya habis ini. Melihat waktu yang masih banyak hingga malam nanti, Ben ingin mengajak anak - anak nya bermain. Menghabiskan waktu bersama anak - anak bukan lah hal yang buruk.


"Collin kamu ingin mencoba berenang atau memancing? Katakan saja kamu mau apa kita akan melakukan nya"


"Benarkah?"


"Tentu saja sayang"


"Collin mau berenang, adik - adik juga"


"Baiklah kalau begitu berenang ya, Papa yakin sekali Edmund dan Edgar juga akan suka berenang"


Saat itu lah di depan mereka di hidang kan Pie Berry dan Croissant dalam keadaan banyak. Ben pun heran siapa yang meminta hidangan ini.


"Kenapa Berry? Biasa nya Apel?"


"Collin yang meminta" Jawab Nissa.


"Baiklah kita makan dulu, habis itu baru kita berenang ya"


-bersambung-