Istri Yang Terabaikan

Istri Yang Terabaikan
S3 EPISODE 122 - BAGAIMANA HATIMU?


...Sebelum membaca novel ini jangan lupa untuk memberikan like, vote, hadiah dan komentar nya agar author semakin semangat dalam menulis novel ini. Jangan lupa juga untuk mengunjungi novel karya author yang lain dengan judul "CINTA KU MAFIA KU" dan "PERTEMUAN"....


...*...


...*...


...*...


...*...


"Apa dandanan ku sudah bagus? Rasanya deg - degan banget karena sudah lama tidak datang ke pesta"


Nissa meminta pendapat kepada suami nya mengenai dandan nya. Rasanya ia sudah lama tidak berkumpul di pesta membuat Nissa lebih excited dibandingkan biasanya.


"Bagus kok" Jawab Ben.


"Sungguh? Apa gaun ini bagus? Rasanya aku semakin gemuk dengan gaun ini"


Mungkin karena ia masih dalam masa menyusui si kembar, membuat tubuhnya sedikit berlebih dan itu hampir membuat mata Nissa copot ketika melihat timbangan yang menunjukkan berat nya yang sesungguhnya.


"Bagus kok, Ayolah kita sudah terlambat, kamu tidak gemuk, Oke?"


"Ben, Apa kamu tidak bisa perhatian kepadaku sedikit? Aku begini juga demi kamu, supaya kamu nggak malu membawa istri yang gemuk"


Masa iya sih Ben nggak sadar? Aku begini kan juga demi kepentingan dia, nggak mungkin kan orang terpandang seperti Ben datang dengan istri nya dan dibilang aku tidak pantas karena gemuk.....


"Memangnya kenapa jika kamu gemuk?"


"Kenapa? Kamu bertanya kenapa?"


"Iya, mau kamu gemuk atau nggak, kamu kan istri ku, Kamu cukup cantik di mata ku saja, jadi jangan perduli kan kata orang, mau kamu gemuk atau nggak di mata ku kamu tetap cantik dan langsing"


Ben bahkan tidak malu untuk mengatakan semua itu. Terkadang Nissa berfikir apa Ben sungguh mengatakan itu dengan kesungguhan hati nya atau tidak. Ben yang tidak berkedip saat mengatakan kata seperti itu membuat Nissa semakin merona.


"Tapi aku mau jadi istri yang pantas dan sempurna untuk mu"


"Baiklah Nyonya ku, Cukup aku yang tahu betapa pantas dan sempurna nya kamu, sekarang mari kita pergi ya"


Ben mendorong Nissa untuk segera keluar dari kamar mereka. Hanya untuk dua jam saja, undangan khusus dari perdana menteri yang sedang mengadakan pesta ulang tahun untuk anak nya. Yang di sebut - sebut akan menggantikan kedudukan Ayah nya itu.


Siang ini adalah pesta besar untuk Charles Green. Ulang tahun yang megah itu dikatakan akan sangat spesial dengan pengumuman pertunangan Charles dengan wanita pilihan sang Ayah. Sebagai kerabat jauh dari keluarga Charles, Ben harus datang untuk menghadiri undangan tersebut. Pesta yang bertema Outdoor itu akan berpusat di taman rumah keluarga Green.


Baru sampai di depan Aula rumah keluarga Green, Ben dan Nissa melihat Lyra yang bahagia dengan kedatangan kedua nya.


"Ya Tuhan!! Syukurlah aku bertemu dengan kalian!!" Ucap Lyra.


"Lyr, Ada apa dengan kau dan Edison? Di mana dia? Bukankah dia sudah melamar...."


"Shuutt!!!" Lyra meletakan telunjuk ke bibir nya untuk memperingati Ben agar diam.


"Lyra, Kenapa dandanan kamu seperti ini? Kamu sangat luar biasa" Hanya itulah yang bisa Nissa katakan mengenai pakaian Lyra.


"Ben...Nissa ini mungkin akan membuat kalian repot, tapi bisakah kalian mencari Ed? Ed tidak diperbolehkan masuk ke sini" Ucap Lyra dengan nada putus asa.


"Kenapa?" Tanya Ben.


"Kumohon aku akan menjelaskan nya nanti, tapu tolonglah Carikan Edison dulu"


"Tidak!! Nanti Istri ku akan didekati orang lain, kau saja yang cari Ed" Tolak Ben.


"Jika Aku bisa, Aku pasti akan mencari nya sekarang, Tapi....."


Lyra menoleh ke arah kanan nya dan Ben pun dengan putus asa mengangguk mengerti.


"Kali ini saja ya! Ingat ini hutang kalian padaku, awas saja jika kau tidak menjaga istriku, Satu orang pria yang mendekati istri ku, Aku jamin Ed tidak akan bisa masuk ke acara ini"


Ben segera pergi mencari Edison dan meninggalkan Nissa kepada Lyra. Sempat terasa aneh dan canggung. Setelah semua banyak hal yang terjadi, baru kali ini mereka berdua berdekatan dan merasa secanggung itu.


"Maaf merepotkan kalian" Ucap Lyra tiba - tiba.


Nissa hampir jantungan dengan ucapan Lyra yang belum ia siap untuk dengarkan.


"Nissa, Apa kamu pernah harus memilih di antara ego dan kewajiban mu?"


Nissa tak tahu apa maksud dari ucapan Lyra, tapi yang pasti Nissa tahu bahwa wanita itu sedang dilema.


"Entahlah, tapi kurasa saat aku dilema dulu adalah ketika aku harus memilih mempertahankan rumah tangga ku yang dulu atau memilih keluar dari penderitaan ku, Kedua Aku juga dilema ketika harus memilih ego ku atau kewajiban ku sebagai ibu untuk memberikan keluarga yang sebenarnya kepada anak ku"


"Jadi apa pilihan mu?"


Nissa tersenyum lembut dan menatap Lyra.


"Bukan kah sudah jelas, Aku sedikit Egois dengan memilih Ben, tapi saat itu pilihan hatiku mengatakan aku harus memilih Ben, dan Aku tak ingin kehilangannya".


"Andai aku bisa seperti itu...."


Nissa sedikit memahami rasa dilema yang Lyra rasakan, meski ia tak tahu mengapa tapi Nissa tahu bahwa kepuasan yang akan Lyra ambil ini pastilah sangat berat baginya.


"Lyra, Sekarang tanya kan lah pada hatimu, apa yang akan kamu pilih. Menjadi sedikit Egois itu tidak lah dosa, Dan aku belajar hal ini ketika hidup bersama Ben, bahwa masa lalu tidak lah semenakutkan seperti itu"


"Tidak menakutkan.....?"


"Ya, setiap orang pernah melakukan kesalahan tapi semuanya bisa berubah menjadi lebih baik jika kita mau mencoba"


"Lyra!!! Lyra!!" Ayah Lyra memanggil Lyra dengan terburu - buru.


"Oh Nyonya Silver, maaf kan ketidak sopanan saya karena tidak menyapa anda" Ayah Lyra sedikit membungkuk hormat kepada Nissa.


"Ayah, nanti dulu....Ku mohon sebentar saja...."


"Tidak!! Ini adalah waktu yang pas"


"Ayah kumohon.....


Ayah Lyra segera mendekat ke arah anak nya dan berbisik dengan sangat pelan, bahkan Nissa yang berada di sebelahnya pun tak mendengar apapun.


.


.


.



.


.


.


"Jangan berulah, dan ingat kesepakatan kita" Bisik Ayah nya.


"Maaf tuan, Apakah Ben tahu bahwa kebiasaan anda ternyata seperti ini?" Nissa menyela Ayah Lyra.


"Maaf?"


"Apa suami ku tahu bahwa anda ternyata sangat tidak sopan seperti ini, dan berbisik - bisik dengan anak anda dan mengabaikan keberadaan saya?"


Nissa melakukan ini demi membantu Lyra, sepertinya Lyra butuh penguluran waktu.


"Maafkan ketidak sopanan saya, tapi ini urusan keluarga kami..."


"Kalau begitu anda bisa pergi dulu baru berbicara dengan putri anda, kenapa harus berbisik saat saya masih di sini?"


"Nyonya sebenarnya...."


-bersambung-


..."Ada kalanya menjadi Egois bukan lah dosa"...