
...~Hallo pembaca sekalian, maaf ya author jarang update berapa hari ini 🙏 Akhir - akhir ini Author sedang sibuk menyiapkan wisuda dan kelulusan author, karena PPKM di tempat author tinggal sudah mulai berakhir jadi inilah saat nya untuk mengejar ketinggalan author untuk lulus. Kepada pembaca yang setia dengan novel ini, selamat membaca~...
...*...
...*...
...*...
"Haaaah.....haaaaahhhh" Anthony berlari dengan secepat yang ia bisa.
"Anthony? Bagaimana cctv nya?" Tanya Lyra ketika melihat kehadiran Anthony di depan nya.
"Beres, John yang membereskan nya"
Semua begitu terkejut ketika membuka pintu ruang kontrol yang tidak ada siapapun di dalam nya. Hanya suara musik dari radio saja yang masih hidup memenuhi suara di ruang kontrol. Anthony berhasil lari dari ruang CCTV tepat setelah Lyra berhasil keluar dari aula.
"Minum....Aku haus" Anthony menyambar minuman Alex dengan cepat.
"Lalu di mana John?" Tanya Lyra.
"Dia akan segera kemari, dia pasti akan jadi aktor yang hebat jika mau main film"
"Kenapa?" Tanya Alex.
"Dia bisa dengan tenang menghadapi para pengurus gedung dan polisi yang datang ke tempat" Jawab Anthony dengan lugas.
Tak lama kemudian John datang dan menyuruh ketiga nya untuk segera masuk mobil. Lyra, Alex dan Anthony segera masuk ke dalam mobil dengan terburu - buru tanpa menghabiskan makan mereka.
"Ada apa John? Apa ada masalah?" Alex begitu khawatir jika mereka akan ketahuan.
"Iya masalah besar..."
"Tuh kan! Kita pasti ketahuan, pasti karena kau meninggalkan senjatanya disana" Tunjuk Alex dengan kesal.
"Aku tidak meninggalkan nya!!"
"Tapi senjata mu tidak ada di dalam kotak biola mu"
Lyra langsung membuka kotak biola nya dan menekan tombol kecil dan tak kasat mata karena warna nya yang sama dengan kotak itu, lalu dari tombol itu terbukalah lapisan lain dari balik biola. Di sanalah letak senapan yang Lyra gunakan. Rupanya, kotak biola itu sudah di desain untuk menyembunyikan senjata nya sejak awal. Lyra sudah memperhitungkan nya.
"Wanita itu, bukan hanya wajah dan penampilan nya saja yang akan jadi senjata, tapi akal nya juga akan jadi senjata untuk nya" Ucap Lyra.
Mereka begitu kagum dengan kepintaran Lyra itu.
"Jadi masalah apa yang ada?" Anthony mengembalikan topik pembicaraan yang ada.
"Edison sudah bangun, sekarang Ben dan Nissa yang sedang mengurus nya, sejak tadi dia mencari mu Lyr, keadaan nya masih lemah, tapi Ed bisa membaik jika dirawat dengan baik"
Lyra menangis sekencang-kencangnya di dalam mobil. Ia tak boleh memperlihatkan air mata nya di hadapan Edison, ia tak mau memberi beban lebih kepada Edison. Biarlah air mata nya menjadi rahasia nya bersama yang lain di dalam mobil itu.
.
.
.
"Ed?" Lyra memasuki ruang inap Edison dengan perlahan.
Edison terlihat lemah namun Lyra bisa melihat senyum di wajah pria itu. Ben pun tersenyum bahagia melihat kedua teman nya yang saling mencinta begitu dalam itu.
"Ed sejak tadi mencari mu" Ucap Ben.
"ma lyre d'amour, ma lyre d'amour" (Sayang ku Lyra, Cinta ku Lyra) Ucap Edison dengan lemah.
"Seperti nya kalian butuh waktu untuk bicara, silahkan nikmati waktu kalian, saran dariku masih belum terlambat untuk memulai kembali, si pengganggu ini mau keluar dulu"
Dengan gaya yang sangat keren, Ben pun keluar dari kamar itu sambil menarik Alex dan John serta Anthony untuk mengikuti nya keluar.
"Ed, dalam setiap masa depan mu, Apakah ada aku? Apa kamu bisa membangun masa depan mu dengan membawa ku di dalam nya?" Tanya Lyra.
"Lyr, maaf.... selamanya aku tak akan pernah bisa menggantikan semua rasa sakit mu, tapi kedepannya aku berjanji akan selalu membahagiakan mu, hidup ku seperti neraka saat kau tak bersama ku" Edison yang terbaring lemah masih tak bisa bangun untuk memeluk Lyra namun tangan nya menyapu pipi indah itu dengan lembut.
"Ed, Apa kamu mencintai ku?"
"Selalu Ma Amour (Cinta Ku) Aku selalu mencintai mu, maukah kau menerima ku kembali?"
Lyra menyipitkan mata nya untuk menghalau air mata nya yang akan menetes.
"Seperti nya, dalam hidup ku, dunia ku hanya kau seorang Ed, Aku sangat mencintai mu,karena itu jangan berfikir kau ingin mati seperti yang kau tulis di dinding kamar mu, jika kau mati bagaimana dengan ku?"
"Lyra, kau melihat nya?"
Lyra mengangguk dengan kuat dan air mata nya tumpah seketika. Hatinya menghangat ketika air mata itu begitu saja turun dari pipi nya. Edison merasa sesak ketika melihat air mata dari wanita yang ia cintai jatuh dengan deras nya.
"Padahal aku bertekad hanya akan membahagiakan mu kedepannya, seperti nya malah aku yang membuat mu menangis seperti ini"
"Ed berjanji lah, demi aku, demi cintamu padaku, jangan pernah lakukan hal membahayakan seperti kemarin, Aku kehilangan kesabaran dan ketenangan ku karena takut kehilanganmu"
Demi cinta nya, Lyra mampu berenang menuju ke pulau, menghajar banyak lawan dan menahan gas beracun. Dirinya tak pernah menyangka bahwa demi cinta, ia bisa berjuang sekeras ini. Sejak hari ini Edison bertekad bahwa apapun keputusan yang ia buat, itu harus lah mementingkan kebaikan lyra. Karena Lyra cinta nya.
Edison selalu merasa geli dengan Ben yang selalu menuruti istrinya dan bertindak bodoh demi istri dan anak nya, namun sekarang Edison baru mengerti, seandainya anak nya bisa lahir, ia pasti akan seperti itu juga. Edison bertekad untuk membangun keluarga impian itu bersama Lyra di hidup nya.
.
.
.
Beberapa hari kemudian......
Nissa tertidur lelap di kursi pijat nya, sejak melakukan pemulihan tubuhnya, Nissa sering kelelahan dan tertidur di kursi pijat nya. Nissa tak bisa terus - terusan terbaring di kasur nya, makanya Nissa sesekali merilekskan tubuhnya pada kursi pijat.
Ben berada di hadapan Nissa dengan wajah serius. Pakaian nya yang rapi dan terus memandangi Nissa dengan penuh tatapan aneh, Ben berada di hadapan Nissa tanpa bergerak. Wajahnya sangat gusar dan seperti merasakan perasaan yang serba salah. Rautnya terus berubah seiring ia mendengar nafas dari Nissa.
"Hari ini adalah saat nya....Nissa maaf jika aku harus meninggalkan mu, maafkan keegoisan ku"
.
.
.
.
.
.
Nissa terus tertidur lelap tanpa tahu Ben pergi melewati nya.
-bersambung-
..."Cinta kadang pergi dan datang seenak nya tanpa terduga, tergantung pilihan lagi, bagaimana kita akan menyambut nya"...