
...Sebelum membaca novel ini jangan lupa untuk memberikan like, vote, hadiah dan komentar nya agar author semakin semangat dalam menulis novel ini. Jangan lupa juga untuk mengunjungi novel author yang lain nya dengan judul "Cinta Ku Mafia Ku" dan "Pertemuan". Terimakasih....
...*...
...*...
...*...
...*...
"Kamu sangat cantik"
Sebuah ucapan sederhana dari Ben itu membuat keadaan sekitar Nissa seolah berhenti. Ben menghentikan waktu nya dan Nissa terus terpikat pada pesona itu lebih dalam.
"Terimakasih" Jawab Nissa dengan senyum nya yang bahagia.
Ben kemudian menggandeng Nissa dan membawa Collin berjalan - jalan. Karena mereka membawa anak kecil, mereka hanya membawa ke arena dan tempat - tempat yang Collin bisa ikuti. Dalam gendongan Ben, Collin terlihat begitu senang dan antusias. Nissa terus memegang erat tangan yang membawa nya.
Dia menuntun ku dengan lembut.....Aku tak ingin kehilangan orang ini, Mengingat kesalahan ku kemarin, aku memang bodoh sampai harus menyakiti orang sebaik ini....
"Jejel jejel !!" Seru Collin.
"Kamu bilang apa Collin?" Tanya Ben.
"Papa!! Jejel Jejel !!"
Ben tidak mengerti bahasa yang Collin katakan, meski Collin sering menunjukkan bakat nya berbicara akhir - akhir ini, banyak sekali kata - kata yang Collin ucapkan tak bisa dimengerti dengan baik oleh Collin.
"Oh! Itu pasti Jelly, Collin selalu berkata begitu ketika memakan jelly buatan koki kita"
"Jelly? Kamu mau Jelly? Tapi di mana ya bisa dapat Jelly?"
Saat menoleh ke arah Collin memandang, Ben akhirnya mengerti, Collin melihat seorang anak yang sedang memakan sebuah jelly berbentuk hati dengan ukuran besar. Collin memandang itu dan merengek menginginkan itu, Collin begitu menyukai jelly dan puding, karena itu, jika melihat kedua makanan itu, Collin selalu orang pertama yang akan berteriak untuk makanan itu.
"Nanti ya sayang, papa cari dulu di mana membeli jelly nya"
Karena taman bermain yang luas itu, Ben masih belum tahu di mana ia harus membeli jelly di tempat keramaian itu.
"Kamu nggak bawa jelly?" Tanya Ben ke Nissa.
"Nggak, aku hanya bawa cookies untuk Collin dan beberapa minuman saja"
"Ya udah, kita tanya mereka saja deh"
Ben pun kemudian menghampiri anak kecil tadi yang sedang istirahat bersama orang tua nya.
"Permisi Madam, Jika boleh tahu di mana ya membeli ini?" Ben menunjuk ke arah jelly yang di makan oleh anak kecil tadi. "Anak saya sangat menyukai jelly, anak saya menginginkan nya sampai menangis"
"Oh jelly ini saya beli diluar taman bermain, toko nya agak jauh dari sini, tapi saya masih punya satu lagi, ini silahkan" Ibu dari anak itu pun memberikan sepotong jelly kepada Collin.
Dengan mata berbinar-binar Collin mengambil jelly itu namun.....dengan cepat anak dari ibu tadi segera menyambar jelly yang akan diberikan pada Collin.
"Ini punya ku!!" Anak itu memasukkan jelly nya kedalam mulut nya dan mengunyah nya dengan cepat.
"Hei !! Tony!! Itu sangat kekanak-kanakan!! Kasihan adik itu, dia lebih muda dari mu, kenapa kamu begitu pelita padanya?!!" Ibu sang anak memarahi anak itu dengan kesal.
Bisa dilihat bahwa anak yang bernama Tony itu berumur sekitar lima tahunan lebih. Ibu nya mencubit anak nya, meski tak dengan kuat.
"Aduh, maafkan saya, saya kurang mengajari anak saya dengan baik, hei adik bayi....Madam ini minta maaf ya" Sang ibu meminta maaf kepada Collin dan Ben.
"Tidak apa madam, Terimakasih atas kebaikan hati anda" Ucap Nissa.
"Collin, lihat papa, Ayo kita bicara sebentar"
Collin masih menutup wajah nya di pelukan Ben dan tak mau menunjukkan wajah nya.
"Collin, please.....Peux-tu entendre papa ? Allez, tu es un bon garçon, n'est-ce pas ?" (Bisakah kamu mendengar kan papa? Ayolah, kamu anak baik kan?)
"Ayo sayang, mama juga mau melihat anak mama yang ganteng ini" Nissa juga membujuk Collin.
Akhirnya setelah dibujuk cukup panjang, Collin memperlihatkan wajah nya dengan pelan. Mata nya sembab, hidung nya merah serta wajah sedih dan bibir nya yang terlipat dengan tipis karena menahan isak tangis nya membuat Nissa dan Ben ikut sedih melihat Collin.
"Kenapa kamu menangis My Boy?" Tanya Ben kepada Collin.
"Jejel ughhhh....jejel....ughhhh...goway...." Meski sambil menangis, Ben tahu bahwa Collin mengatakan bahwa Jelly sudah pergi.
"Jangan menangis, papa bisa membelikan nya untuk kamu, kamu juga bisa memakan nya di rumah dan meminta koki kita membuatkan jelly untuk kamu"
.
.
.
.
.
.
"Mama juga akan berusaha untuk membawa kamu ke tempat penuh jelly nanti nya, tapi kamu harus mau di gosok Gigi nya dan memakan makanan kamu yang lain ya, jangan hanya jelly saja"
Nissa tak ingin mengabaikan kesehatan Collin meski ia ingin memanjakan Collin. Collin sangat susah disuruh gosok gigi, kadang Ben harus menahan tubuh Collin agar tidak memberontak dengan kuat saat di gosok kan gigi nya. Meski giginya belum keluar sepenuhnya, tetap saja kesehatan itu hal utama.
"Baiklah, kita beli jelly ya, kamu mau Jelly yang banyak kan?"
"Uhhmm uhhmmm jejel baakk" Collin masih tersegu - segu untuk menghentikan kesedihan nya.
"Oke good Boy, papa akan belikan kamu jelly yang paling besar"
"Weally? Pomis?" (Really? Promise?) Collin membuka jarinya dan berusaha membuat janji dengan jari kelingking namun gagal dan hanya mengeluarkan jari telunjuk nya.
"Promise, Of course!! Papa sayang sekali sama Collin, makanya papa tidak mau berbohong, kamu tahu kan berbohong itu tidak baik? Moto di keluarga kita apa? Tidak boleh berbohong dan berkhianat kan? Sebab itu papa nggak mungkin berbuat begitu"
"Mama? Pomis?"
Nissa mengaitkan jari nya ke telunjuk Collin juga setelah Ben melakukan nya kepada Collin.
"Tentu sayang! Mama juga berjanji kepada kamu, karena itu berhenti lah menangis, mama jadi sedih juga" Nissa tak kuasa menahan air mata nya untuk tak keluar.
"Mama...pees dun cry, nangis no! no! cowin sedi uga" (Mama please don't cry, Nangis No! No! Collin sedih juga)
Entah kenapa meski masih kecil Collin itu anak yang begitu sensitif dan perhatian, Collin bisa merasakan perasaan orang disekelilingnya dengan rasa empati yang begitu dalam. Bahkan saat ia demam kemarin, Nissa tak henti - henti menangis dan memeluk Collin dengan erat, Collin bisa merasakan perasaan Nissa.
Dengan tangan nya yang kecil, Collin mengelus kepala Nissa dengan pelan dan dengan gerakan yang ia bisa. "Mama dun cry" Ucapnya berkali - kali.
-bersambung-
..."Bagi orang tua, anak adalah segalanya, kesedihan nya adalah kesedihan mereka juga"...