Hasrat Kakak Tiri

Hasrat Kakak Tiri
BAB 89 - Hanya Ingin Baik-Baik.


Setelah pertemuan tak terduga itu, Dikta menemui sang papa keesokan harinya untuk benar-benar memastikan hubungannya dengan Zoya. Dia ingin marah, karena kemungkinan besar papanya sudah mengetahui dari awal tentang semua ini.


"Pa."


"Salam dulu, Dikta ... Biasakan sopan sedikit," ungkapnya merasa kesal lantaran ini adalah kali kesekian Dikta masuk ruangannya tanpa mengucapkan salam atau apapun itu.


"Papa tahu siapa Zoya, 'kan?"


"Zoya? Wanita yang waktu itu?" tanyanya kemudian menoleh dan menatap wajah sang putra, tampaknya ada hal yang terjadi hingga Dikta bisa semarah itu padanya.


"Hm, dia anak Mama selain aku ... apa karena itu Papa melarangku mendekatinya?" tanya Dikta tanpa basa-basi karena pikirannya sama sekali tidak bisa diajak damai sedikit saja, Dikta benar-benar kecewa jika memang benar sang papa menyembunyikan hal itu sejak lama.


"Bukan begitu, Dikta ... akan tetapi, Papa memang tidak ingin kau melakukan kesalahan seperti Agam. Papa tidak peduli Zoya anak siapa, yang Papa khawatirkan kamu justru mengikuti jejak mereka yang mengatasnamakan cinta atas segalanya."


Iya, Dikta paham maksud papanya. Kebahagiannya dirusak hanya karena cinta salah satu pihak, padahal baik Agam maupun Nania sudah memiliki takdir yang seharusnya mereka jaga. Walau sama-sama terpaksa seharusnya mereka bisa menerima dan hal itu, bukan justru berusaha melawan takdir yang pada akhirnya menyakiti banyak pihak.


"Tapi setidaknya Papa katakan dengan jujur jika faktanya begitu, aku sama sekali tidak keberatan jika adikku yang papa maksud adalah Zoya yang kukenal ... andai Papa mengatakannya sejak awal, aku tidak mungkin mencintainya sebagai wanita, Pa."


Pria itu hanya diam, sebenarnya dia hanya ingin menutup kisah lama itu hingga dia berpikir untuk memilih tutup mata dan telinga sekalipun dia mengetahui siapa Zoya kala itu. Dia juga sama sekali tidak menduga jika Dikta justru akan mengetahui Zoya adalah adiknya, yang dia tekankan Dikta berhenti mencintai istri orang, itu saja.


"Maaf, Dikta ... Papa juga tidak menduga anak itu akan datang, Papa sudah berlari sejauh ini dari kehidupan mereka tapi justru putrinya tiba-tiba datang untuk menemukanmu," ucap sang papa kemudian menghela napas pelan.


Setelah pengkhianatan terjadi, pria itu memilih pergi bersama Dikta dan menutup kisahnya. Kekecewaannya pada Agam membuat Widarman merasa tidak berarti dan lebih baik menjalani kehidupan yang baru bersama putranya.


Akan tetapi, meski dia memilih pergi, Alexander yang kala itu menjadi penengah selalu berusaha untuk tidak menyalahkan siapapun karena keduanya sama-sama dekat, baik itu dirinya maupun Agam. Hubungan keduanya memang tetap baik-baik saja, dan oleh karena itu dia benar-benar melarang Dikta kala mengetahui jika Zoya adalah istri dari Zayyan, putra sahabatnya.


"Papa membenci Zoya?"


"Tidak, Papa sudah katakan padamu adikmu tidak salah ... dan jangan pernah membencinya, akan tetapi Papa hanya tidak ingin jika harus terus melihatnya, Dikta. Hati Papa sakit, anak itu persis mamamu sewaktu muda dan itu tidak bisa Papa lupa," ungkapnya kemudian dan hal itu memang Dikta benarkan.


Beberapa kali dia mengatakan hal itu, jika berada di dekat Zoya, ada sebuah perasaan yang membuat Dikta merasa dekat dengan mamanya. Meski tidak begitu banyak kenangan bersama sang mama, akan tetapi Dikta ingat betul sewaktu Nania sudah memiliki kehidupan baru, wanita itu tetap mengunjungi Dikta dan memberikan hal manis padanya.


Hal itu sama sekali tidak Dikta lupakan, karena itulah dia tetap menyayangi mendiang mamanya sekalipun melakukan kesalahan yang memang tidak bisa dianggap sepele. "Lupakan, Dikta ... jangan terlalu dipikirkan masa lalu. Lebih baik jalani saja hidup kamu dengan sebaik-baiknya tanpa perlu memikirkan ini dan itu, soal Zoya yang ternyata adalah adikmu itu adalah hal bagus, 'kan? Kau masih punya alasan untuk bisa dekat bersama Fabian."


"Tapi adik iparku menyebalkan, Pa. Sama sekali tidak ada sopannya," ucap Dikta kemudian dan hatinya mendadak panas setiap kali mengingat Zayyan yang sama sekali tidak bisa diajak damai.


"Hahah Zayyan, 'kan? Pasti tidak jauh beda seperti Papanya ... egois, tapi setianya luar biasa."


Widarman ingat betul bagaimana sosok Alexander yang bahkan tetap setia meski istrinya sakit keras. Akan tetapi, yang namanya manusia memang tidak ada yang sempurna dan pria itu memang sedikit egois, pikir Widarman.


"Dia menerimamu sebagai Kakak ipar?"


"Oh tentu saja," jawab Dikta pasti padahal kenyataannya berbalik karena kemarin selama Dikta bicara dia terus saja menyela bahkan ketika Dikta pamit Zayyan membuang muka.


"Syukurlah jika begitu, Papa turut bahagia jika hubungan kalian baik-baik."


"Iya, Pa ... aku harap juga demikian," ucap Dikta tersenyum getir dan entah kenapa dia merasa tidak seharusnya sang papa berharap lebih atas baiknya hubungan mereka. Sekalipun Zayyan menerima Dikta, jelas saja itu karena Dikta tidak memiliki kemampuan untuk merebut Zoya nantinya.


.


.


.


- To Be Continue -


Ini menjelang end, tinggal beberapa eps lagi ya. Sementara nunggu kalian boleh mampir dulu di novel yang satu ini.



Blurb :


Seorang suster cantik yang bernama Dina Permata Devindra, diam-diam telah jatuh hati pada sahabat di masa kecilnya yang bernama Exsel Wiratama yang sudah mempunyai kekasih yang juga merupakan sahabatnya sendiri. Hingga akhirnya Dina memilih mengalah dengan sahabatnya. Namun seiring berjalannya waktu hubungan antara Exsel dan kekasihnya kandas di tengah jalan karena sebuah perjodohan. Lalu apakah Dina akan berusaha merebut hati Exsel kembali? Ataukah Dina justru lebih memilih orang pilihan keluarganya untuk dijadikan pendamping hidupnya, daripada Exsel yang juga telah dijodohkan oleh keluarganya?