
Semua memang tampak baik-baik saja setelah Amora ditetapkan bersalah. Bahkan, Agatha tidak lagi mengatasnamakan kasihan untuk menyelamatkan wanita itu. Tiga bulan berlalu, rasa penasaran Zoya masih menghantui hingga membuat wanita itu tidak bisa tidur nyenyak.
Semakin tentram kehidupan mereka seharusnya Zoya merasa baik-baik saja. Akan tetapi, tuduhan yang dia dengar dari Amora tentang hubungan gelap orang tuanya membuat wanita itu memilih untuk mencari tahu sendiri.
Sayangnya, Zoya sedikit sulit untuk menemukan benang merah terkait hubungan gelap papanya. Dimana dia akan mencari tahu tentang kebenaran sementara kedua Papanya sudah tiada. Baik itu Agam maupun Alexander.
Pagi ini suasana di kediaman Alexander tampak sibuk seperti biasa. Zayyan dan Zoya pada akhirnya mengalah dan memenuhi keinginan Agatha untuk tinggal serumah.
"Aku saja yang siapkan." Suara itu terdengar kala Zoya hendak menyiapkan susu untuk mereka.
Semenjak menjadi istri Zayyan kedua saudaranya benar-benar tidak bisa bertindak asal mau apalagi menjadikan Zoya persis pembantu rumah tangga seperti dahulu.
Mereka tampak damai dan tentram meski sempat terjadi salah paham di mana Rosa yang masih berusaha mendekati Agatha lantaran mengira mantan adik ipar itu masih memihak dirinya.
"Aku sendiri bisa, Agatha," ucap Zoya yang merasa biasa saja melakukan hal semacam ini. Apalagi di rumah ini hanya dia yang tidak bekerja sementara ketiga bersaudara itu sama-sama berperan di perusahaan keluarga Alexander.
"Aku saja, Zoya ... kan ini hari libur," ucap Agatha mengulas senyum dan mengambil alih tugas Zoya pagi ini.
"Oh ya, hari ini kalian mau pergi?" tanya Agatha yang mengetahui jika saya dan Zoya berencana untuk mengunjungi tempat peristirahatan terakhir Papanya.
"Iya ... aku titip Fabian ya." Agatha hanya menggangguk, jelas saja dia bersedia jika diminta menjaga Fabian sementara Zoya dan Zayyan pergi ke makam Agam yang berada di luar kota.
Sebenarnya bisa saja Fabian ikut mereka akan tetapi cuaca akhir-akhir ini benar-benar tidak bersahabat dan sebagai ibu, Zoya hanya khawatir jika anaknya tidak baik-baik saja.
"Kamu bangunin Kak Zayyan sana, katanya mau pergi ... mumpung masih pagi, entar pulangnya kemaleman gimana?"
Dengan langkah panjang Zoya naik dan memasuki kamar mereka untuk membangunkan sang suami yang sama sekali tidak berniat untuk bangun walau cahaya matahari sudah menembus jendela kamar mereka.
"Sayang bangun," ucap Zoya begitu pelan seraya menepuk kedua pipinya berkali-kali karena memang Zayyan jika sedang tidur persis mati suri.
Gagal dengan cara itu Zoya masih mencoba dengan mengguncang punggungnya dan membuat pria itu merasa terganggu dengan apa yang dia lakukan. "Kak zayyan bangun!! Tuli ya? Ayo bangun mumpung masih pagi," pinta wanita itu sengaja mengguncang tubuhnya kuat-kuat hingga membuat tubuh Zayyan bergoyang namun tetap seperti tanpa tenaga.
Zoya bingung kini, tadi malam yang mengajak begadang adalah Zayyan sendiri dan dia sudah berjanji untuk bangun lebih awal. Tidak peduli apapun kegiatan tadi malam Zayyan mengatakan tidak akan mengganggu bangun paginya.
"Astaga, Kak!! Bangun ... atau aku minta antar kak Zico saja!" celetuk Zoya dan membuat mata tajam Zayyan tiba-tiba terbuka hingga membuat wanita itu terperanjat kaget beberapa saat.
"Kebiasaan!! Matanya bikin kaget ... apa salahnya kalau sudah bangun ya bangun," ungkap Zoya kesal sendiri lantaran hal semacam ini memang menjadi tradisi Zayyan yang sepertinya tidak dapat dihapuskan.
"Jam berapa?" Suara serak itu terdengar seakan tanpa tenaga padahal sudah tiga hari saya tidak masuk kerja dengan alasan sedikit lelah.
"Jam 08.00 ... kita harus pergi jam 09.00 agar sore nanti kita sudah berada di rumah," ucap Zoya meminta pengertian Zayyan karena memang saat ini waktu benar-benar harus dimanfaatkan dengan baik.
.
.
.
- To Be Continue -