Hasrat Kakak Tiri

Hasrat Kakak Tiri
BAB 53 - Lapar


Perjalanan jauh membuat Fabian lelah hingga dia terlelap begitu lama, jelas kesempatan bagi seorang Zayyan untuk menempel pada istrinya itu. Merapikan pakaian tidak bisa fokus karena memang tidak pernah dia lepaskan lagi, Zayyan seakan sudah tidak bertemu satu abad lamanya.


"Kamu seksi, pas buat dipeluk."


Dia memuji Zoya begitu dengan suara seraknya. Mengecup pundak dan lehernya berkali-kali. Tubuh Zoya memang seidkit berbeda dan tidak setipis sewaktu masih menjadi adiknya, sepetinya Zoya berusaha keras untuk membuat bentuk tubuhnya sebaik ini.


"Tapi awas dulu, Kak. Nanti Bian bangun, bajunya belum beres semua."


"Besok pelayan akan datang, biar jadi tugas dia ... kamu cukup layani aku, Zoya."


Sekalipun memang tugasnya melayani tapi bukan berarti tidak bisa melakukan hal lain. Zoya yang biasanya bergerak bebas sedikit dibuat terkejut dengan perubahan yang tiba-tiba begini, walau sedari awal sudah dia duga jika kembali pada Zayyan akan begini tetap saja Zoya sedikit bingung mengatur waktunya.


"Yang begini bisa aku rapikan sendiri, Kak."


"No, tinggalkan itu dan kamu ikut aku ... aku lapar, masih bisa masak, 'kan?"


Pertanyaan aneh, padahal sejak dahulu Zayyan tahu bahwa tugas memasak dirumah dipegang Zoya, jelas saja dia mampu tanpa diminta. "Bahannya ada?"


"Ada, di kulkas ... cari saja yang bisa, apapun akan aku makan," tutur Zayyan seakan benar-benar butuh makan, padahal bisa saja dia delivery tapi seorang Zayyan lebih mengutamakan kehendak hati daripada segalanya.


"Tunggu di sini, nanti aku pang_"


"Aku ikut," ungkap Zayyan sedikit menyebalkan, mereka bukan hanya berdua lagi dan seharusnya pria itu menemani Fabian.


"Bian sendirian."


"Dia tidur, tidak masalah sendirian ... kita jangan lama," ucapnya terlihat santai karena memang Fabian begitu lelap dan dia sangat baik-baik saja saat ini.


Jika melihat Zayan yang begini sepertinya Fabian butuh seseorang yang bisa mengasuhnya. Karena sejak kecil memang Fabian sudah terbiasa dirawat orang lain dan terpisah dari Zoya, hal itu terjadi lantaran Zoya harus bekerja tentu saja. Kini dengan alasan yang berbeda, Zoya butuh lagi jasa seseorang yang bisa tulus untuk membantunya.


"Popoknya sudah kamu ganti, 'kan?"


"Hm, sudah."


Zayyan menjawab jujur walau sehenarnya dia tidak paham sama sekali cara memakaikan popok untuk anak sekecil Fabian. Selama ini dia tidak mempersiapkan hal itu lantaran tidak menduga jika Zoya hamil selama meninggalkannya.


Zayyan tersenyum kala sang istri benar-benar mengikuti kemauannya. Pria itu merdeka dan sejenak merasa menang dari Fabian. Dia bukan egois, hanya saja memang kerinduannya pada Zoya sebesar itu dan begitu banyak momen yang terlewat selama dua tahun perpisahan mereka.


Anggap saja masih pengantin baru, pikir Zayyan seraya memandangi gerak istrinya yang mulai berperang dengan alat dapur. Pria itu duduk manis di meja makan sembari menunggu Zoya selesai. Dia duduk begitu juga karena Zoya yang meminta, andai saja wanita itu diam mungkin hingga saat ini dia masih tetap memeluk erat tubuh Zoya.


"Pintar juga ternyata," gumam Zayyan pelan usai dia memperhatikan Zoya begitu teliti, mungkin karena bertambahnya usia dia dan keadaan yang memaksa dewasa.


Sudah lama tempat ini tidak dipenuhi aroma sewangi ini, selama ini Zayyan terbiasa delivery atau makan di luar dan hanya dikunjungi sesekali oleh keluarganya. Itupun dia merasa terganggu, berharap sekali Zico ataupun Agatha tidak akan datang tiba-tiba ke apartementnya hari ini.


Beberapa menit menunggu, Zoya menyajikan spaghetti bolognese yang tampak menggugah selera Zayyan. Memilih jalan sederhana, sejak dahulu memang hanya bahan-bahan sederhana itu yang Zayyan persiapkan untuk dirinya sendiri.


"Kulkasnya sepi, Kakak makannya gimana?" tanya Zoya lantaran dia bahkan cukup lama mencari bahan-bahan yang bisa dia gunakan.


"Delivery," jawabnya singkat yang kemudian membuat Zoya menghela napas pelan.


"Lalu bahan makanan yang ada di kulkas Kakak yang beli?"


"Agatha, kadang dia masak di sini ... tapi yang makan Zico, aku tidak suka masakannya terlalu asin," jawabnya jujur dan memang faktanya demikian, dia masih terlihat santai tanpa sadar jika Zoya seakan kehabisan napasnya saat ini.


"Wajar kurus," gumam Zoya pelan namun dapat Zayyan dengar jelas hingga dia menghentikan makannya sesaat, pria itu menatap sang istri begitu serius seolah hendak mengutarakan suatu hal yang begitu penting.


"Jangan pergi makanya kalau tidak mau aku kurus lagi," ucap Zayyan kemudian kembali meneruskan makannya, dia bahkan sampai lupa mengajak Zoya yang jelas-jelas memasaknya.


Zoya menarik napas dalam-dalam, saat ini dia seakan tidak pernah bisa menjawab ketika Zayyan kerap menyindirnya masalah kepergian itu. Perasaan bersalah itu semakin mengalir dalam diri Zoya, hanya saja melihat suaminya tenang sekali makan dengan lahap sampai lupa mengajaknya Zoya tersenyum kemudian.


.


.


.


- To Be Continue -