Hasrat Kakak Tiri

Hasrat Kakak Tiri
BAB 73 - Kenapa Harus Agatha


Habisi saja dia, tidak akan sulit menghilangkan nyawa gadis lemah seprerti dia.


Dalam keadaan pikiran kacau Amora seakan dirasuki iblis yang berkali-kali memintanya melilitkan rantai tas tersebut ke leher Agatha, putri sambungnya. Agatha yang tidak memiliki persiapan sama sekali jelas saja terkejut ketika menyadari sesuatu menjerat lehernya dan menciptakan rasa sakit yang luar biasa.


"Kamu berani membantah mama padahal sejak dahulu Mama selalu katakan jika ingin disayang kaka harus nurut, Agatha," ucap Amora begitu lembut namun jeratan di leher Agata Kian kuat hingga wanita itu kesulitan bernapas.


"Maammaaaa, leppass ... Kak Zicoo!!"


Dia mencoba berontak dengan tenaga yang ada. Akan tetapi, tubuh Amora yang tinggi sementara Agatha yang kecil membuatnya kesulitan hanya bisa menendang-nendang lemari dan menciptakan bunyi dengan harapan Zico akan datang segera.


"Berteriak, Agatha ... gunakan mulut pedasmu ini."


Mulut Agatha sengaja ditutup oleh Amora dengan telapak tangannya. Kini wanita itu berjalan mundur dengan rantai tas yang terus menjerat leher putri sambungnya dengan senyum tipis yang hampir tidak terlihat itu. Dia sangat-sangat menikmati bagaimana Agatha yang kesulitan mengambil napas dan berusaha melepaskan rantai di lehernya.


"Cobalah untuk bergerak, Agatha ... kamu hanya punya waktu 4 menit untuk bisa menghirup udara bebas seperti sebelumnya," bisiknya santai sekali.


Agatha berusaha dengan seluruh caranya dan mencoba berteriak meski suaranya sedikit kecil. Hingga beberapa saat kemudian pintu terbuka kalau Zico menerobos masuk dan melihat bagaimana kekejaman Amora yang tengah berusaha mencelakai Agatha.


"Lepaskan!! Kepaskan adikku, BADJINGAN!!" bentak Zico yang kemudian membuat Amora bertukar posisi dan kini naik ke atas tempat tidur hingga jeratan itu kian menyakiti Agatha. Zico yang panik segera mencoba membebaskan Agatha meski harus mendorong kasar mama sambungnya.


"Mama gila?!!" bentak Zico usai berhasil menyelamatkan Agatha dari Amora yang entah kerasukan apa hingga tega melakukan hal segila itu.


"Agatha ... Agatha, Are you okay ?" tanya Zico menepuk pelan kedua pipi adiknya.


Beruntung saja Zico datang di saat yang tepat walau hampir saja terlambat. Agatha menangis dalam pelukan sang kakak dan dia bergetar kalau menatap wajah tenang Amora yang bisa-bisanya tersenyum ke arahnya terlihat tanpa rasa bersalah. Bahkan dia bersedekap dada seolah tidak ada yang terjadi sebelumnya.


"Mama sadar apa yang Mama lakukan?" tanya Zico seakan tidak percaya jika yang di hadapannya kini adalah Amora.


Amora terdiam sesaat, tas yang dia gunakan untuk menjerat Agatha masih ada di tangannya dan kini dengan jelas Zico mengetahui aksinya sebelum benar-benar berhasil membunuh Agatha.


"Ini tidak seperti yang kamu lihat, Zico ... Mama hanya memberikan perlawanan karena Agatha hendak menjerat leher mama dengan tasnya ini, Mama tidak sengaja dan tidak punya niat untuk menyakitinya," jawab Amora benar-benar membuat Agatha merinding tiba-tiba.


Dia merasa wanita itu bukan lagi Amora melainkan wanita gila yang tidak dia kenali sama sekali. Agatha yang bergetar terus menyembunyikan wajahnya di dada bidang Zico dan menghindari tatapan sang mama yang luar biasa santainya.


"Membela diri Mama bilang? Membela diri sampai Agatha hampir mati begini? Mama waras tidak?"


Zico yang merasa Amora adalah ancaman segera memanggil security dan meminta mereka untuk menangkap wanita itu. Amora jelas tidak tinggal diam, sebelum security yang Zico panggilkan benar-benar ke atas wanita itu sudah lebih dulu berlalu keluar lewat pintu belakang.


"Apa yang terjadi, Tuan?" tanya pria paruh baya yang datang terlambat dan dia terkejut kala melihat Agatha menangis dalam pelukan Zico.


"Kejar wanita itu tangkap sampai dapat jangan pernah kembali sebelum kalian mendapatkan dia!!" titah Zico tegas kemudian dia memastikan leher Agatha tidak terluka.


"Kita ke rumah sakit sekarang," ungkap pria itu kemudian membopong tubuh adiknya segera dia menghubungi Zayyan sembari terus melaju dengan kecepatan tinggi karena khawatir ada hal yang terjadi pada adiknya.


.


.


.


"Nanti saja aku jelaskan, Kak sekarang cepat datang Rumah Sakit X Aku khawatir Agatha butuh penanganan serius."


Panggilan terputus meninggalkan zayyan yang kini benar-benar khawatir tentang kondisi adiknya itu .


"Zoya!! Zoya!!" teriak zayyan menggema hingga membuat sang istri yang tengah membantu di dapur heran apa sebabnya.


"Kenapa? Fabian jatuh atau Kenapa, Kak?"


"Siap-siap kita ke rumah sakit sekarang," ucap zayyan hingga membuat Zoya bingung dan penuh tanya.


"Rumah sakit? Siapa yang sakit?" tanya Zoya segera melepas apron yang melekat di tubuhnya dan berlari menuju kamar untuk bersiap segera.


"Agatha," jawab Zayan singkat dan dia bergerak cepat karena memang Zayyan khawatir tentang keadaan adiknya. Zoya juga bergerak cepat ketika mengetahui Agatha dilarikan ke rumah sakit. Dia tidak akan bertanya lebih dulu apa dan kenapa karena paham saat ini mungkin Zayyan sdalam keadaan panik dan tidak seharusnya ditanya banyak hal.


Zayyan melajukan mobil dengan kecepatan normal. Meski dalam keadaan terdesak dia tidak bisa buru-buru karena saat ini ada Fabian di sisinya. Dari raut wajahnya dapat memperlihatkan betapa khawatirnya Zayyan


Zoya berusaha membuat suaminya tenang dengan menyentuh jemarinya sesaat. "Hati-hati, Kak," pinta Zoya karena memang keadaan lalu lintas sedang padat-padatnya.


Tiba di rumah sakit mereka segera mencari keberadaan Zico yang tengah menunggu kehadiran mereka. "Agatha kenapa?" tanya Zayyan mengguncang tubuh Zico yang tampak lesu saat ini.


"Aku perlu bicara denganmu," ucapnya kemudian menarik pergelangan tangan Zayyan ke tempat yang lebih sepi karena pembicaraan ini tidak sepantasnya Zoya ketahui lebih dulu.


"Kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Zayyan ketika mereka sudah berbicara Empat Mata.


"Amora memang gila!! Dia hampir membunuh Agatha," jelas Zico membuar mata Zayyan membola, beberapa waktu lalu mereka bertiga memang menbahas soal kegilaaan Amora, ibu sambung mereka.


"Maksudmu? Apa yang sebenarnya terjadi, Zico?" tanya zayyan dengan kening yang kini berkerut dan mata yang memperlihatkan sejuta kekhawatiran tentang Agatha.


"Mama menjerat leher Agatha dengan tali tas, aku datang hampir terlambat. Beruntung saja Agatha belum kehabisan napas," ungkap Zico membuat zayyan terkejut Setengah Mati.


"Lalu bagaimana dengan Agatha saat ini?" tanya Zayyan ketar-ketir, dia khawatir jika sebenarnya sudah terlambat dan Zico belum memberitahukan yang sebenarnya.


"Sedang dalam penanganan, kemungkinan dia mengalami luka bagian dalam, tadi sempat pingsan," ujar Zico kemudian menghela napas kasar.


Kejadian itu begitu cepat mereka pulang bersama dan Agatha naik lebih dulu karena mengatakan dia lelah dan ingin segera istirahat. Tanpa dia duga jika Amora melakukan hal sekeji itu terhadap adiknya.


"Lalu wanita itu dimana?" tanya Zayyan kesal luar biasa, dia mengepalkan tangan dan ingin menghabisi wanita itu saat ini juga.


"Sedang dalam pengejaran, dia tidak akan mungkin bisa lari lebih jauh m Arman dan Raffles tidak akan tinggal diam apalagi hanya untuk mengejar wanita tua seperti dia," jawab Ziko yakin betul mengejar Amora bukanlah suatu hal yang sulit.


Zayyan terdiam sejenak, dia bersandar di tembok rumah sakit dan merasakan hal ini seolah teguran untuk dia mampu lebih waspada. Di antara mengapa harus Agatha yang sejak dahulu seakan menjadi kesayangan Amora, sungguh dia benar-benar tidak habis pikir sama sekali.


"Apa Agatha sudah bersikap buruk padanya?"


"Entahlah, aku rasa tidak ... tapi aku tidak tahu, Zayyan."


- To Be Continue -