
Celaka besar bagi keduanya lantaran berani menganggu pangeran tidur itu. Bahkan hampir jam empat pagi Zayyan belum tdiur juga demi menemani Fabian yang sejak tadi beceloteh tidak jelas entah apa yang dia bicarakan. Jika hanya menemani di tempat tidur tidak masalah, akan tetapi saat ini Zayyan harus menghiburnya dengan berbagai macam cara.
Malam pertama dia merasakan jadi sosok ayah, tanpa pemanasan dan dia memegang balita sebelumnya sama sekali tidak pernah. Nasibnya sungguh baik lantaran Tuhan mempertemukanya dengan Fabian di malam ini. "Ck, dia benar-benar tidur?"
Sedikit tidak percaya tapi memang nyata Zoya tidur lebih dulu dan membiarkan Zayyan menjaga Fabian sendirian. Hal itu tentu saja atas perintah Zayyan sendiri yang meminta istrinya untuk tertidur dengan alasan khawatir terlalu lelah, tanpa terduga Zoya benar-benar mengiyakan arahannya dan kini terlelap tanpa beban seakan Fabian adalah tanggung jawab Zayyan seorang.
"Kapan kamu tidurnya."
Zayyan memeluk sang putra dan sengaja berkeliling kamar berharap Fabian akan mengantuk. Dia mencoba cara ini usai mencari informasi di internet beberapa saat lalu, akan tetapi bukanya tidur Fabian justru semakin bahagia mendapat perlakuan begini.
Hari pertama mungkin mata Zayyan akan menghitam, dia sudah menguap berkali-kali dan matanya bahkan berair. Hingga di saat laparnya, Fabian merengek dan Zayyan kembali kesulitan bagaimana menenangkannya. Hendak mencari susu dia belum paham dengan rumah ini, terpaksa Zoya adalah kunci utamanya.
"Shuut, don't cry baby boy ... Mamamu kelelahan, jangan menganggu tidurnya."
Meski bukan dia yang menyusui tapi sama sekali dia tidak berpikir membangunkan Zoya. Zayyan hanya mengubah posisinya agar Fabian bisa minum ASI tanpa merasa kesulitan, sedikit sulit tapi bukan berarti tidak mudah.
"Anak pintar, seharusnya dari tadi, Bian."
Tidak sia-sia dia berusaha, pria itu kini bisa merebahkan tubuhnya seraya memeluk sang buah hati bersama pemilik jiwanya, Zoya. Tidak butuh waktu lama bagi Zayyan yang memang sudah mengantuk sejak tadi untuk terlelap.
Sementara di sisi lain, Zoya yang merasakan sesuatu di bagian buah daddanya perlahan membuka mata dan sedikit terkejut kala menatap Fabian yang kini sudah mulai terpejam tapi belum berhenti menyedot asupan utamanya.
"Dia baru tidur?"
Zoya bermonolog, jika posisi mereka akan tidur bertiga kasihan sekali Zayyan sebenarnya. Tempat tidur itu memag teramat sempit apalagi jika mereka harus tidur bertiga. Beberapa waktu menunggu, Zoya memindahkan sang putra ke tempat tidurnya.
Setelah dia pastikan Fabian benar-benar lelap barulah Zoya kembali ke tempat tidur mereka dan mematikan lampu kamar hingga penerangan saat ini hanya mengandalkan temaran lampu tidur.
"Dia kurusan." Sesaat dia memandangi tubuh sang suami, Zayyan yang memang terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Terbukti dengan rahangnya yang semakin jelas dan pergelangan tangannya sedikit mengecil.
Kasihan sebenarnya, sudah hampir pagi tapi dia baru bisa tidur. Zoya menarik selimut hingga dada sang suami, untuk pertama kalinya dia berbagi tempat tidur di kamar ini. Keringat tampak membasah di keningnya, entah apa yang Zayyan lakukan hingga seperti begitu lelah.
.
.
.
Pagi berganti dan sudah terduga Zayyan dan Fabian akan bangun kesiangan. Zoya yang kini sudah siap hanya tersenyum menatap keduanya bergantian, meski sedikit tega tapi hal ini harus dia lakukan.
Zoya membuka tirai kamar hingga cahaya menelusup masuk dan membuat mata Zayyan tergganggu. Pria itu berdecak kesal dan menarik bantal di sampingnya sebagai pelindung wajah, hal lumrah dan sebenarnya kerap Zoya lihat dua tahun lalu ketika sang kakak kerap memaksa tidur di kamarnya.
Zoya terdiam sejenak kala mendengar racauan Zayyan. Sepertinya memang terlanjur lelah hingga membuat pria itu bermimpi Zico mengusiknya.
"Tutup," titahnya kemudian dengan nada kesal dan itu membuat Zoya terkekeh kemudian.
Zoya yang merindukan amarah Zayyan dengan sengaja menarik bantal yang dia gunakan sebagai penutup wajah itu hingga tampaklah mata lelah Zayyan yang dia paksakan terbuka itu.
"Zoy?"
"Bangun, hampir jam delapan," ucap Zoya memerintah, jika dahulu dia kerap membangunkan Zayyan lantaran khawatir tertangkap basah oleh Alexander, kini dia meminta Zayyan bangun lantaran dia memiliki tanggung jawab dalam pekerjaannya.
"Kamu tega? Aku tidur hampir jam empat, Sayang ... tolonglah."
"Sebentar lagi Bibi masuk buat urus Fabian, yakin tetap mau di kamar?" tanya Zoya yang sebenarnya ragu jika Zayyan tetap betah jika ada orang lain melihatnya.
"Kamu mau kemana memangnya?" tanya Zayyan mengerutkan dahi dan sangat berharap jika jawabannya bukan bekerja lagi.
"Kerja, lihat bajuku sudah rapi begini."
"Resign, kamu kerja tanpa izinku." Perintah Zayyan tidak terbantahkan akan tetapi mana mungkin Zoya keluar dari pekerjaannya seenak hati sementara Dikta begitu peduli padanya.
"Iya nanti, tapi hari ini aku masuk dulu."
"Aku yang antar," ucap Zayyan sebelum kemudian dia melangkah ke kamar mandi. Secepat kilat dia mencuci muka dan menyisir rambutnya dengan jemari, persiapan seadanya karena agendanya hari ini hanya mengantar istri ke hotel.
"Ganti baju."
"Koperku di hotel, sekalian saja ... ayo pergi," tutur Zayyan percaya diri sekali dan hal ini membuat Zoya berpikir keras, sejak kapan pria ini tidak peduli dengan penampilan.
"Yakin begini?"
"Yakin, kamu malu atau kenapa? Khawatir Dikta melihatku terus mengejekmu punya suami sepertiku?" tanya Zayyan mulai macam-macam, padahal sama sekali Zoya tidak malu memiliki suami seperti dia.
"Bukan begitu, Kak ... aku tid_ ah sudahlah ayo pergi," ungkap Zoya memperkecil masalah karena bisa dipastikan Zayyan akan selalu menuntut pembenaran dan membuat Zoya di posisi salah.
- To Be Continue -
Selamat hari senin, minta votenya buat keluarga ini, Bestie❤