
Jika Zayyan sudah berucap maka tidak ada yang bisa membantahnya. Pria itu benar-benar membawa pulang anak dan istrinya, perkara rumah yang masih di cicil jelas akan menjadi urusan belakangan. Tentu saja semua menjadi milik Mirna yang Zayyan perintahkan sebagai perantara untuk menyerahkan apapun yang pernah Dikta berikan pada istrinya.
Tidak hanya itu, mengetahui jika gaji Zoya berlipat ganda Zayyan tanpa pikir panjang mengembalikan apa yang seharusnya tidak Zoya dapatkan. Zayyan paling anti dengan hal-hal semacam itu, ingin sekali dia cuci otak istrinya yang memang bodohnya mengalir sampai jauh.
"Titip salam buat Dikta ya, Bi ... maaf kalau saya mendadak begini," ungkap Zoya pada Mirna yang sangat berat melepaskan Fabian.
"Iya, Non. Sudah seharusnya ikut suami, jangan pergi-pergi lagi ... kasihan suaminya," tutur Mirna dan berhasil membuat Zoya mengerutkan dahi, sudah tentu wanita itu mengetahui faktanya dari mulut Zayyan sendiri.
Mirna mengantar kepergian Zoya hingga ke bandara. Walau sedikit terkejut dengan kehadiran Zayyan akan tetapi kini dia paham apa yang terjadi pada majikannya. "Kami pergi, Bi."
Zoya masih ingin bicara banyak hal pada wanita itu. Akan tetapi Zayyan yang sejak tadi memasang wajah datar sejenak membuatnya takut hingga mengambil langkah aman dan lebih baik segera berlalu mengikuti langkah Zayyan.
Sekuat apapun usahanya menjadi wanita mandiri tetap saja ketika sudah dibawah kekuasaan Zayyan dia akan merasa berbeda. Zayyan menggenggam jemarinya begitu erat, seakan takut kejadian di masa lalu terulang. Dia yang kehilangan Zoya beberapa jam sebelum keberangkatan membuat pria itu trauma sebenarnya.
"Kak, aku saja yang gendong," pinta Zoya baik-baik karena berpikir Fabian lebih butuh dia daripada Zayyan.
"Aku saja, tubuhmu terlalu kecil."
Alasannya sangat tidak masuk akal sekali, saat ini Fabian adalah senjata utama yang bisa Zayyan gunakan untuk menahan kepergiam Zoya. Fabian yang juga seakan mengerti betah-betah saja tanpa protes dalam kekuasaan sang papa,
"Dia nanti haus bagaimana?"
"Sudah aku siapkan, aman."
Zayyan menunjukkan dot yang memang sudah dia siapkan agar nanti Fabian tidak perlu pindah ke pelukan Zoya dengan alasan minum susu. Padahal sama sekali tidak ada niat Zoya untuk pergi darinya kali ini, hanya saja Zayyan yang terlalu takut lebih memilih ambil aman dan tidak mungkin Zoya berani meninggalkannya jika Fabian ada padanya.
Pergi bersama setelah berpisah cukup lama kini Zayyan rasakan kembali. Kepergian yang sempat tertunda dua tahun lamanya, kini dia benar-benar bukan mimpi bisa duduk di samping Zoya. Tidak hanya berdua melainkan bertiga.
Selama perjalanan Zoya gugup luar biasa, entah kenapa ada secebis ketakutan dalam diri Zoya ketika kembali ke kotanya. Hingga, ketika mereka mendarat dengan selamat jantung Zoya semakin tidak terkendali bahkan dia setakut itu untuk menghadapi hari ini.
"Kamu kenapa?"
"Takut, Kak."
"Takut atau sedih meninggalkan Dikta?" tanya Zayyan menatapnya dingin tapi tetap tidak mau melepaskan Zoya saat ini.
"Takut, kalau Mama marah gimana?"
"Kita tidak akan pulang ke rumah, lagipula apa hak mereka marah."
Zayyan tidak bercanda, dia memang tidak memiliki keinginan untuk pulang ke rumah utama. Pria itu berusaha memberikan ketenangan pada sang istri yang dia sadari sampai mengeluarkan keringat padahal saat ini dia tidak sedang sendiri.
Bukan kasar, tapi memang tampaknya Zoya tidak bisa dijelaskan pelan-pelan. Beberapa menit menunggu Clayton kini datang menjemput mereka, pria itu keluar dan menyapa Zayyan bersama sang istri lebih dulu.
Clayton sangat familiar di matanya, mata Zoya tidak mungkin salah dan memang pernah melihat pria ini. Sekalipun pakaiannya berbeda dan dia yakin betul tidak mungkin salah.
"Selamat sore, Nona?"
Suaranya semakin membuat Zoya yakin pernah bertemu pria ini, dia tidak mungkin salah. Walau penampilannya berbeda, jauh lebih rapi dan tidak mengenakan piyama pink pastel seperti kemarin.
"Kamu kenapa?"
"Dia siapa, Kak?" tanya Zoya sedikit berbisik dan berusaha berjinjit karena tubuh pria itu memang sangat tinggi.
"Clay, asisten pribadiku." Wajar saja Zoya tidak mengenalnya, Zayyan memang belum pernah mempertemukan Zoya secara langsung, hanya saja Clayton memang sudah mengenal Zoya.
"Dia familiar, aku pernah bertemu dengannya di hotel," jawab Zoya sengaja begitu pelan lantaran khawatir sekali ucapannya di dengar oleh pria berjas hitam itu.
"Hotel?"
Zayyan mengerutkan dahi, rasanya Clayton memang tengah berada di luar kota ketika menyiapkan segala sesuatu untuk liburannya, akan tetapi dimana tempat Clayton menetap dia tidak tahu sama sekali.
"Iya ... kemarin yang minta dibenerin tempat tidur," jawab Zoya kembali kesal dan dia yakin tidak salah orang, andai benar memang pria yang kemarin ini adalah hari yang tepat untuk dia membalas dendam.
Mereka berbisik-bisik namun sedikit bisa didengar oleh Clayton. Menyadari jika Zoya membahas kejadian di hotel itu sontak dia kembali angkat bicara agar mereka segera masuk ke mobil.
"Silahkan masuk, perjalanan kita akan panjang ditambah cuaca hari ini tidak bersahabat ... jadi sebaiknya kita segera pergi," ungkapnya mengada-ngada padahal matahari bersinar begitu benderangnya, bingung sendiri apa maksud Clayton sebenarnya.
"Tunggu, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Zoya kemudian dan berhasil membuat Clayton terdiam, dia harus hati-hati menjawabnya tentu saja.
"Sepertinya belum, Nona."
"Oh iya? Beberapa hari lalu, ada tamu di hotel tempat aku berkerja minta dibenarkan posisi tempat tidur ... mirip seka_ atau jangan-jangan benar kamu?" tanya Zoya sejelas-jelasnya karena menang dia penasaran pada pria itu, sempat mengatakan jika Tuhan izinkan bertemu kedua kali maka dia akan membuat pelajaran.
"Nona salah orang mungkin, wajah saya memang pasaran." Zayyan tertawa sumbang mendengarkan jawaban itu, entah kenapa sekalipun memang iya Clayton yang membuat istrinya kesal itu dia akan terima-terima saja.
.
.
.
- To Be Continue -