
Dalam dekapan Zayyan, Zoya merasakan degub jantung Zayyan yang bahkan dua kali lebih cepat. Pria itu mengecup keningnya berkali-kali pasca pelepasan malam ini. Kerinduan pertama yang kini usai, Zayyan menatap manik indahnya begitu lekat.
"Zoya ...."
"Hm?"
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Zayyan memastikan, ada beberapa pertanyaan yang memang ingin sekali Zayyan dengar jawabannya.
"Perasaan? Kan sudah aku jawab dulu," jawab Zoya merasa Zayyan selalu berulang-ulang dalam bertanya padahal sudah jelas jawabaannya.
"Kadang, aku merasa kamu belum menerimaku sebagai laki-laki ... tapi masih kakakmu."
"Perasaan kakak saja, kalau sudah punya anak ya artinya suami."
Zoya menenggelamkan wajahnya ke dada bidang Zayyan. Tidak cukupkah pembuktian dia selama ini bahwa memang mencintai Zayyan seutuhnya.
"Sayang, aku mau kamu hamil lagi ... penasaran kalau kamu hamil bagaimana?"
Zayyan kehilangan banyak momen, dua tahun dia kira tidak terjadi apa-apa. Dia ingin melihat bagaimana istrinya hamil dan menemaninya selama proses itu, sungguh Zayyan tidak menginginkan hal selain itu.Yang dia mau hanya satu, momen indah itu dia rasakan kembali, itu saja.
"Penasaran? Haha ya hamil seperti orang biasa, Kakak tidak pernah lihat orang hamil ya?" tanya Zoya terkekeh kemudian, menurutnya sama saja, yang namanya hamil ya seperti umumnya.
"Beda, Zoya. Kamu gendut dulu?"
"Tidak juga, aku kurus, Kak."
Jawaban Zoya membuat pria itu berpikir bahwa istrinya kekurangan gizi. Pria itu sejenak diam dan menunjukkan raut wajah penuh penyesalan. "Kamu kurang gizi ya? Padahal uang banyak, kenapa tidak digunakan?"
"Bukan begitu, tapi memang biasa saja. Aku sering minum vitamin, USG dan semuanya aku ikuti ... Sewaktu lahirpun berat Fabian normal kok," jawabnya merasa tidak salah sama sekali, karena bagi zoya dia sudah brusaha sebaik mungkin menjaga calon buah hatinya walau tidak ada Zayyan di sisinya.
"Sama laki-laki itu?" tanya Zayyan kembali kesal padahal baru beberapa saat lalu mereka kerja sama cari keringat, sungguh semudah itu suasana hatinya berubah.
"Sendiri, Dikta tidak selalu ada ... hanya sesekali, itupun tidak sengaja," jawab Zoya seadanya, sejujurnya dan memang begitu sejak lama.
Meski Dikta adalah malaikat penolong untuknya, akan tetapi tetap saja Zoya berjuang sendirian. Sekalipun dia ada itu karena tidak sengaja dan keadaan terdesak saja.
"Heeeuh tetap saja, aku cemburu."
"Maaf, Kak ... walau aku tahu memang tidak akan selesai dengan kata maaf, tapi aku mohon jangan marah tentang itu ya."
Zayyan mengangguk pelan, dia memeluk erat tubuh Zoya hingga wanita itu kesulitan bernapas. Usianya sudah sedewasa itu, tapi Zayyan masih begitu gemas dan di matanya Zoya tetap sama.
"Sebenarnya aku marah sekali Zoya, bahkan ingin sekali aku membuatmu lumpuh waktu itu."
"Kakak pernah berpikir begitu?" tanya Zoya mengerutkan dahi.
"Iya, kamu ingat ketika patah kaki yang merawatmu siapa? Aku, 'kan?"
Zayyan mulai membuka masa lalu, bagaimaba dirinya yang kala itu merawat Zoya begitu sabar kala Amora angkat tangan padahal jika dipikir lagi, tidak seharusnya anak gadis diserahkan pada kakak tirinya begitu saja.
"Iya terus kenapa? Kakak minta dibayar?"
Bukannya merenung, Zoya justru tersenyum dengan ucapan sang suami. Tidak hanya tersenyum, dia tertawa sumbang dan merasa itu benar-benar lucu.
"Jawab, Zoya."
"Jawab apanya? Tidak ada kata andai, aku pamit, 'kok waktu itu."
Zoya memang pamit, tapi bukan ke luar kota melainkan ke kelasnya. Akan tetapi memang hari itu dia sedikit berbeda, mungkin Zayyan terlalu percaya jika mereka akan baik-baik saja hingga tidak berpikir hal semacam itu akan terjadi.
"Terserah kamu saja, Zoya ... memang dasarnya saja kamu tidak cinta, iya 'kan?"
"Cinta, Kak. Sangat-sangat cinta, bahkan ketika kakak menikahiku ya sudah cinta," ujar Zoya kemudian bangun dan menarik selimutnya hingga ke leher.
"Oh iya? Tapi kenapa pergi? Kata orang, kalau cinta itu apapun akan dilakukan agar bisa bersama. Bukannya malah pergi."
"Aku pergi bukan karena tidak cinta ... aku berniat pulang walau tidak Kakak jemput, Fabian berhak tahu siapa papanya, 'kan. Tapi, aku berpikir saat ini belum waktunya. Lagipula jika aku nekat pulang, khawatir Mama masih membenciku bahkan Bian juga," jelas Zoya serius dan itu membuat Zayyan diam sesaat, bukan karena kagum melainkan sebal mendengarnya.
"Kakak pernah dengar tidak, kata orang cinta itu tidak harus memiliki."
"Omong kosong, itu untuk orang yang cintanya bertepuk sebelah tangan ... kamu sudah kunikahi beda cerita," balas Zayan mengusap wajahnya berkali-kali agar sadar sedikit.
Prinsip mereka berbeda, Zayyan yang egois tentang cinta sementara Zoya prinsipnya memang selalu mengalah. Ya, wajar saja karena sedari dulu Zoya dibiasakan untuk mengalah dan Amora selalu menanamkan tidak ada yang menjadi miliknya di dunia ini. Hingga, hal itu benar-benar melekat dan Zoya merasa bukan pemilik Zayyan kala Rosa hadir sebagai istri sah Zayyan.
"Begitu ya?"
Begitu ya? Astaga, ingin sekali rasanya Zayyan teriak dan mengungkapkan betapa kesalnya dia pada Zoya.
.
.
.
"Tunggu, kamu mau kemana?" tanya Zayyan ketika sang istri mulai bergerak, dia panik dan segera menahan pergelangan tangan Zoya begitu kuatnya.
"Kamar, Bian sendirian ... jangan bilang Kakak lupa," ungkapnya kemudian bingung sendiri, seakan masih belum memiliki keturunan hingga dia santai sekali.
"Ah iya, aku lupa."
Melihat Zoya yang hendak bergerak, Zayyan menahan pergerakan sang istri dan turun tangan untuk memunguti pakaian mereka yang kini tercecer di lantai.
"Pakainya sampai pagi ya," pinta Zayyan kemudian, padahal Zoya sudah membayangkan tidur dengan balutan piyama tebal karena merasa tidak nyaman dengan lingerie yang terasa dingin di kulitnya.
"Dingin, Kak."
"Gampang, peluk aku saja. Kita skin to skin agar lebih terasa, Sayang."
Baiklah, sepertinya setelah ini sampai perkara tidur juga Zayyan yang atur. Pria itu menarik pergelangan tangan sang istri dan masuk ke kamar mereka tanpa beban sama sekali, jelas saja santai karena malam ini lebih manis dari sebelumnya.
- To Be Continue -