
Zayyan tidak ingin merahasiakan putranya lebih lama lagi. Keberadaan Fabian sebagai pewarisnya harus diketahui banyak orang. Bukan tanpa alasan, Zayyan merasa memang sangat perlu dia lakukan agar Rosa benar-benar berhenti mengejarnya.
Pihak keluarga Rosa yang masih terus mengharapkan kata rujuk harus segera dia tuntaskan. Zayyan tidak ingin wanita itu masih saja berharap sementara harapan itu menyakitinya sendiri dan membuat Zayyan risih luar biasa.
"Anak siapa?"
Agatha yang memang mulai megabdi di perusahaan jelas saja menyadari kehadiran Zayyan yang tiba-tiba membawa balita itu ke kantornya. Zico tidak bercerita apapun pada Agatha dan sejak kepulangan Zoya wanita itu juga tidak datang ke apartement Zayyan.
"Kak?"
"Anakku," jawab Zayyan santai di lift dan menatap fokus ke depan dengan Fabian dalam pelukannya.
"Hah? Serius, anak apanya? Anak pungut?"
"Ck, jaga mulutmu, Agatha. Dia anak kandungku," jawab Zayyan kesal hingga membuat pria itu ingin sekali menampar mulut lancang Agatha.
"Hah? Anak kandung apanya?"
Zayyan tidak lagi peduli tentang adiknya yang terus saja bertanya tanpa henti. Pria itu berlalu masuk ke ruangannya dan mendudukkan Fabian di kursi kebesarannya. Agatha yang tengah dilanda kebingungan memerhatikan wajah anak itu yang memang mirip Zayyan secara keseluruhan.
"Anak_ anak Zoya maksud Kakak?"
"Ya anakku juga lah, mana bisa Zoya buat anak sendiri," jawabnya santai kemudian memberikan susu yang sudah Zoya siapkan untuk putranya.
"Ck berhenti bercanda, jawab yang benar ... dia benar anak kalian?"
"Astaga, cukup sekali kamu bertanya, Agatha. Iya Fabian darah dagingku yang tumbuh sembilan bulan di rahim Azoya ... puas?!" tanya Zayyan mulai tidak lagi sebenarnya, pria itu menjawab dengan kesalnya hingga membuat Agatha membeku sesaat.
"Jadi kalian benar-benar menikah? Bu-bukannya dia sudah mati, Kak?"
Jujur saja, sejak awal Zayyan buka suara Agatha sama sekali tidak percaya bahkan dia berpikir Zayyan mengada-ngada dan mencari alasan agar bisa menceraikan Rosa. Akan tetapi, saat ini sudah jelas di depan mata jika putra mereka sudah lahir itu artinya Zayyan sungguhan.
"Jika kamu cuma ingin bertanya tentang itu, lebih baik keluar ... mataku sakit melihatmu, Agatha."
Sebenarnya sudah biasa Agatha menerima kalimat semacam itu. Sejak dulu juga dia kerap dibanding-bandingkan dengan Zoya dan dia selalu kalah perihal kasih sayang. Sebelum menjadi istrinya saja Agatha sudah dikesampingkan, apalagi sekarang.
"Ish menyebalkan sekali, ya sudah bye!!" ucapnya kemudian berlalu dan membanting pintu tempat ini adalah rumah, hal itu sontak membuat Fabian terkejut bahkan susunya jatuh padahal belum habis setengahnya.
"Eeuughh Agatha setan!!"
Zayyan yang terbiasa marah dan mengucapkan kata-kata kasar tanpa sadar mencaci Agatha di hadapan Fabian. Putranya yang mendengar dan baru belajar mengucapkan sepatah dua kata jelas saja meresap ucapan Zayyan.
"Taaaaan!!"
Lihatlah, dia ikut-ikutan dan Zayyan baru sadar jika hal itu tidak seharusnya dia katakan. Setelah mendengar teriakan sang putra Zayyan segera menepuk bibirnya.
"Iya, Tante maksudnya ya?"
Zayyan berusaha membimbing putranya untuk bicara baik-baik. Akan tetapi, bukannya menurut dia justru bertepuk tangan seraya mengucapkan kata itu berkali-kali.
"Taan ... taaan ... taaan."
Mam-puslah Zayyan, jika sampai Zoya tahu putranya dapat kosa kata itu mungkin mulut Zayyan akan Zoya benturkan ke tembok nanti malam. "Sudah, Fabian jangan diulang."
.
.
.
"Zico!!" bentak Agatha membuat pagutan mereka terlepas, Regina buru-buru beranjak dari pangkuan Zico sementara pria itu gugup luar biasa ketika mengetahui adiknya datang dengan emosi luar biasa membara.
"Punya Kakak dua sama gilanya!! Heh Regina, sudah kukatakan jangan dekati Kakakku kenapa masih saja? Murrahan sekali."
"Jaga mulutmu, Agatha ... aku yang meminta dia datang, kau jangan gilla."
"Ck, aku ingin bicara."
Melihat Agatha yang kini tiba-tiba mendekat, Regina mengalah dan segera berlalu ke keluar. Khawatir jika sampai dilempar gelas seperti kemarin karena ketahuan ciumman di depan rumahnya.
"Ck, ada apa? Mengusik ketenanganku saja," kesal Zico pura-pura membuka laptop padahal yang nantinya dia lihat juga wajah Regina.
"Bayi _ eum bukan, balita yang Kak Zayyan bawa apa benar anaknya?" tanya Agatha dengan tatapan tajam tak terbantahkan dan dia benar-benar menuntut jawaban serius dari sang kakak.
"Sudah ketemu?"
"Jangan balik bertanya!! Jawab saja," bentak Agatha memekakan telinga.
"Sabar, Agatha ... tidak perlu pakai urat, aku bisa jelaskan tapi santai saja bisa?"
Zico selembut itu bicara, jelas saja khawatir jika Agatha sampai mengadu pada Zayyan jika dia membawa Regina pagi ini. Ya, meski Zayyan hanya berstatus sebagai kakak tetap saja dia setakut itu, apalagi yang memegang kendali semua fasilitas mereka adalah Zayyan.
"Aku tidak sesabar itu, Zico ... benar anak kak Zayyan dan Zoya?"
"Hm, namanya Fabian Alexander. Lucu, 'kan?"
Percayalah saat ini batin Agatha tengah tidak bersahabat untuk bercanda. Dia masih terkejut kala mengetahui fakta Zoya masih hidup bahkan memiliki anak yang tampan dari Zayyan.
"Kakak yang mengatakan dia sudah mati, tiba-tiba ditemukan masih hidup bahkan punya anak bagaimana maksudnya?" tanya Agatha benar-benar bingung sendiri, dulu Zico lah yang mengatakan hal itu bahkan yang memimpin memakamkan jenazah wanita itu adalah dia sendiri.
"Ya mau bagaimana, kenyataannya begini. Zoya di Mataram, dia pergi tanpa tahu jika dia hamil dan ketika Zayyan datang anaknya sudah lahir, dan ya begitu kita punya keponakan ... mintalah uang jajanmu agar lebih besar," ujar Zico masih saja bercanda sementara Agatha masih belum bisa menerima semua ini dengan pikiran jernihnya.
"Kakak sudah? Eh."
Zico menarik sudut bibir kala Agatha sejenak terlena mendengar uang jajan. Hanya saja beberapa saat kemudian dia kembali memasang wajah datar dan dia kembali fokus pada sang kakak.
"Zoya dimana? Apartment Kak Zayyan?"
"Heeh, mau kemana? Jangan coba-coba menemuinya sendiri, Agatha."
Zico ketar-ketir kala adiknya mulai beranjak dan seperti hendak pergi secepatnya. Khawatir terjadi keributan karena dahulu saja jika sudah bertengkar Zoya dan Agatha tidak akan berhenti sebelum Zayyan pisahkan.
"Apasih? Aku hanya penasaran, benar Zoya atau bukan!" sentaknya menghempas tangan Zico hingga pria itu meringis seketika.
Agatha meninggalkan Zico dengan langkah panjang tanpa peduli bagaimana pria itu menahannya. Mau tidak mau, Zico harus mengikuti kemana tujuan wanita itu. "Tunggu, aku saja yang antar."
Tanpa Agatha ketahui Zico menghubungi Zayyan sebelum mereka benar-benar pergi. Zico tidak khawatir Zoya tidak mampu melawan, hanya saja dia khawatir kedua adiknya ini kembali terlibat perseteruan sementara sekarang Zoya takkan pernah tinggal diam jika ditindas.
- To Be Continue -