Hasrat Kakak Tiri

Hasrat Kakak Tiri
BAB 76 - Bukan Cemburu


Setelah ke rumah sakit pria itu kemudian segera kembali untuk menemui sang istri di apartemennya. Zayyan tiba ketika hari sudah malam karena Agatha memohon untuk Zayyan temani sebelum tidur. Hal ini semakin membuat Zayyan yakin untuk hidup mandiri saja karena jika sampai benar-benar bersama perang saudara antara Agatha dan azoya tentu akan terus berlangsung hingga nanti.


Zayyan was-was, ini adalah kali pertama dia pulang malam. Nalurinya sebagai suami yang khawatir istrinya akan marah jelas aja ada. Zayyan masuk dengan langkah perlahan seakan dia bukan pemilik tempat itu. "Haaah!! Astaga!!" Zayyan mengelus dadanya kala menyadari seorang wanita berambut panjang dengan dress putih tengah bersedekap dada di depan pintu kamarnya.


"Baru pulang?" tanya Zoya terdengar lembut namun entah kenapa bagi Zayyan itu adalah sebuah ancaman.


"Iya ... maaf, Sayang. Aku jaga Agatha dulu," jelas Zayyan berharap istrinya tidak akan marah.


"Iya, tidak masalah."


Sebelumnya memang Zayyan sudah menjelaskan jika dia harus menjaga Agatha di rumah sakit lebih dulu. Akan tetapi, sama sekali Zayyan tidak menyangka jika akan menyita waktu selama ini.


"Sudah makan?" Di luar dugaan, Zoya justru menyambut kepulangannya dengan penuh kehangatan. Wanita itu mendekat dan melepas jaket saya yang masih membalut tubuhnya.


"Belum, Kamu?"


Zayyan kembali bertanya padahal sebenarnya dia sudah makan sebelum pulang bersama Zico. "Belum juga," jawab Zoya yang sebenarnya juga sama-sama berbohong.


Demi bisa makan berdua Zoya dan Zayyan saling berbohong satu sama lain dan hal itu tampak manis hasilnya. "Oh ... Iya, mama bagaimana?" tanya Zoya sebelum dia mulai makan. Sejak tadi siang dia ingin bertanya hanya saja wanita itu khawatir Zayyan belum memiliki keinginan untuk menjelaskan.


"Kita serahkan saja pada pihak berwajib mau bagaimanapun tindakannya pantas dihukum," ungkap Zayyan menatap lekat wajah sang istri yang memang terlihat murung meski Amora sendiri sejahat itu padanya.


"Syukurlah kalau begitu ...dia baik-baik saja, 'kan? tanya Zoya dengan tatapan tulus penuh kekhawatiran terhadap Amora.


"Hm, dia baik-baik saja. kamu kenapa? Apa keberatan jika dia nanti menjalani hukuman?" tanya Zayyan yang sebenarnya agak sedikit marah jika istrinya merasa keberatan dengan apa yang akan dialami oleh Amora.


"Bukan begitu, hanya saja aku merasa sedih kenapa Mama memutuskan untuk menjadi jahat begitu."


Di mata Zoya sejahat apapun Amora saat ini tetap saja wanita itu berjasa karena sejak kecil wajah itulah yang Zoya kenal sebagai sosok Ibu untuknya.


"Memang dari dulu, kamu saja yang tidak sadar."


Berbeda dengan Zayyan, baginya seorang Amora memang tidak ada baik-baiknya sejak dulu. Zoya tersenyum getir, dia tidak akan membenci Amora. Hanya saja, tindakannya kali ini memang pantas untuk mendapat balasan yang setimpal.


"Fabian mana? Tidur ya?" tanya Zayyan mengalihkan pembicaraan karena dia paham dalam lubuk hati Zoya wanita iblis itu jelas saja masih ada.


"Iya tidur, baru 5 menit yang lalu mungkin," jawab Zoya apa adanya. Dia sempat kesulitan menidurkan Fabian lantaran putranya mulai terbiasa dengan permainan Zayyan. Hingga anak itu meminta Zoya melakukan hal yang sama.


"Kasihan matanya dong ... Agatha kapan bisa pulang?" tanya Zoya kemudian. Tadi siang dia sempat kembali menjenguk Agatha. Akan tetapi, tidak mungkin dia terus-terusan berada di rumah sakit jika bersama Fabian.


"Besok sudah bisa kata dokter. Dia sudah lebih baik."


Zoya tersenyum kemudian, baginya ini adalah kabar baik. Bukan hanya baik lantaran Agatha tidak kenapa-kenapa melainkan baik juga terhadap Amora, setidaknya dia tidak menjadi pembunuh.


"Sayang boleh aku tanya?"


"Iyaaa, tanya apa?" Zoya menghentikan makanya karena merasa Zayyan akan membahas hal penting bersamanya kali ini.


"Widarman siapa? Apa benar Papanya Dikta?" tanya Zayyan yang ingin memastikan lebih jelas kepada yang mengenal Dikta secara langsung.


"Iya. Kenapa kakak tanya begitu? Ketemu pak widarman atau bagaimana?" tanya Zoya penasaran kenapa sang suami justru mempertanyakan keluarga dari laki-laki yang buat dia begitu khawatir sang istri jatuh ke pelukan pria lain.


"Pengecut itu, Papanya meminta maaf ... hahah lucu sekali, berapa usianya sampai meminta maaf saja harus diwakili?" tanya Zayyan penasaran, apa mungkin memang masih dapat dikatakan anak ingusan hingga harus diwakilkan seperti itu.


"28 ... lahirnya 28 Juni kalau tidak sal_."


"Shuut aku tidak tanya tanggal lahirnya, Zoya."


Ck, siallan ... Kenapa dia justru ingat berapa umurnya. Menyesal sekali aku bertanya.


.


.


.


- To Be Continue -


Sementara up, mampir ke karya temen author yang satu ini ya.