Hasrat Kakak Tiri

Hasrat Kakak Tiri
BAB 72 - Paniknya Amora


Sudah menjadi kebiasaan Amora Jika sakit kepala maka dia akan melarikan diri untuk berfoya-foya. Kali ini tujuannya adalah Store yang menjual berbagai perlengkapan wanita dimulai dari tas, pakaian, perhiasan dan lainnya. Ya, anggap saja menenangkan diri setelah berdebat dengan seorang Zoya, wanita yang sejak dulu ingin Amora lenyapkan dari dunia. Dia mengambil sesukanya tanpa lihat harga, wanita itu berpikir akan sangat bebas karena masih memegang kartu kredit Agatha.


Bagi dia meminta maaf akan lebih mudah daripada meminta izin pada Putri bungsunya itu, ingkar janji sesekali tidak masalah, pikirnya. Hingga, tiba ketika hendak membayar Amora tidak bisa berbuat apa-apa lantaran semua kartu yang dia punya tidak ada yang bisa digunakan.


Dalam keadaan ini Amora jelas saja menyalahkan Agatha yang tidak bisa merayu kakaknya. "Siallan, mana banyak orang." Dia bingung sendiri hendak bagaimana menghadapi orang-orang di Store ini.


"Sebelum membeli, pastikan uang Anda cukup, Nyonya."


"Anak saya kaya, anda jangan khawatir saya berbohong," ucap Amora menahan malu karena saat ini memang benar-benar ramai. Beberapa pasang mata mulai menatapnya dan risih lantaran dia sudah begitu lama di depan kasir.


"Jika tidak punya uang kenapa harus membeli." Bisik-bisik mulai terdengar di telinga Amora hingga wanita itu mengepalkan tangan dengan wajah yang kini memerah menahan amarahnya.


"Memang benar-benar iblis!! Mereka pasti bersekongkol untuk membuatku malu hari ini. Tidak bisa dibiarkan, Agata dan Zico tampaknya mulai berpihak pada Zayyan." batin Amora terdiam menatap kesal kartu yang sama sekali tidak bersahabat kali ini.


"Bagaimana? Apa bisa Anda mundur saja? Banyak yang menunggu."


"Tunggu! Saya telepon putri saya," ucap Amora kemudian mencoba menghubungi Agatha.


Beberapa menit dia coba namun tidak juga bisa dihubungi, hal sama dia dapatkan dari Zico hingga Amora terpaksa meninggalkan store itu tidak dengan belanjaan yang dia pilih melainkan rasa malu.


Dengan langkah panjang Amora pulang ke rumah utama dan dia segera menuju ruang kerja Alexander semasa hidup. Di sana terdapat sebuah surat-surat dan sertifikat berharga yang belum Zayan amankan. Dia yang mulai merasa terancam berpikir untuk bergerak cepat sebelum tidak mendapatkan apa-apa Andai nanti Zayyan mengusirnya.


Wanita itu gugup menatap jam di dinding. Dia khawatir anak-anak Alexander pulang sebelum dia selesai mencari semua sertifikat yang bisa dia bawa. Sayangnya berulang kali dia mencari yang dia temukan hanya sertifikat tanah di belakang rumah utama dan juga sebuah perhiasan yang diketahui milik istri pertama Alexander.


Aku terlambat, dia bergerak terlalu cepar.


Itu artinya Zayyan sudah bertindak sejak awal dan menyadari rencananya. "Dasar kurang ajar!! Mereka benar-benar bersekutu untuk membuatku jatuh," ungkap Amora dalam kesendirian dan dia menghancurkan ruang kerja Alexander dalam keadaan marah besar hingga tidak sadar jika kelakuannya terekam jelas oleh CCTV.


.


.


.


Merasa yang dia bawa sedikit sekali Amora berpindah ke kamar Agatha untuk mengambil perhiasan yang ada di lemari putrinya. "Ma, sedang apa?" tanya Agatha menghampiri sang mama dengan raut wajah penuh tanya.


Amora yang sempat gugup, secepatnya memasang wajah tenangnya. Dia tersenyum kemudian meminta Agatha untuk mencari kalung yang pernah dia berikan beberapa waktu lalu.


"Untuk apa memangnya ma?" tanya Agatha menampilkan raut wajah tidak bersahabat dan sama sekali tidak Simpati pada mamanya.


"Mama ingin makan malam bersama tante Serena boleh Mama pinjam?" tanya Amora lembut namun mendapat respon yang benar-benar tidak dia duga.


Agatha tiba-tiba memintanya menyingkir dan mengembalikan perhiasan-perhiasan yang Amora keluarkan dari tempatnya. "Mama mau jual? Atau mau mama jaminkan untuk membayar tagihan kartu Kredit ku?" tanya Agatha seraya menarik sudut bibir. Hal ini dia ketahui dari zayyan yang menghubunginya beberapa saat lalu.


"Tidak, kenapa kamu berpikir seperti itu? Sejak dulu kan kita biasa saling meminjam barang satu sama lain, kenapa sekarang berbeda, Agata?" tanya Amora seakan perubahan putrinya aneh sekali.


"Cukup, Ma ... jangan mama Kira aku diam saja karena menerima semua perlakuan mama!" ucap Agata penuh kemarahan.


"Maksud kamu apa? Apa karena Kartu kredit kamu mau pakai, Agatha? Semua itu Mama lakukan juga demi kamu karena semenjak Papa meninggal Zayyan mengatur hidup kita semuanya."


"Demi aku? Demi aku mama bilang? Lebih tepatnya demi gengsi mama yang masih berusaha untuk tetap bergabung menjadi anggota geng sosialita tante Serena. Dulu mama tidak begini ... membelikan barang untukku juga cuma sesekali itu pun bukan barang mahal! Tapi sekarang mama membelikanku_ salah!!tepatnya memakai kartu kreditku untuk membeli semua barang yang Mama suka dengan dalih hadiah untukku."


"Licik sekali, kenapa bisa Mama suka dengan perempuan seperti dirimu," lanjut Agatha kemudian mengunci lemarinya.


Amora memerhatikan putri sambungnya dari belakang. Dia melirik tas dengan tali rantai di atas tempat tidur yang baru saja Agatha lemparkan. Tidak pernah mendapat perlakuan menyakitkan dan kini dia merasakan tidak sopannya Agatha membuat pikiran Amora tidak lagi sebenarnya.


Aku akan memperlakukan kalian sebagaimana kalian memperkakukan aku ... kau berani melawanku, Agatha.


.


.


.


- To Be Continue -