
"Kaaaaak ...."
Bersamaan dengan lenguhan Zoya, suara tangis Fabian tiba-tiba terdengar hingga membuat Zayyan berhenti sejenak. Keduanya saling menatap dan Zayyan bertahan dengan posisinya.
"Kak, Bian mena_"
"Shuut, dia bisa diam sendiri?" tanya Zayyan kemudian.
"Ya mana mungkin diam sendiri, harus dikasih susu, Kak."
"Ya Tuhan, Fabian ... sebentar lagi, Sayang. Boleh ya?" Zayyan bertanya sembari mencoba bergerak pelan dan membuat Zoya menepuk pundaknya kesal.
"Kakak tidak dengar dia menangisnya sekeras itu? Ayolah, awas dulu." Zoya mendorong dada Zayyan yang kini tampak gusar luar biasa.
Zayyan tidak punya pilihan, dia terpaksa mengikuti keinginan sang istri yang kini harus memilih putranya meski keduanya sama-sama belum mencapai puncak. Zoya kembali memakai pakaiannya cepat-cepat, tidak mungkin dia polos begitu saja menggendong putranya.
"Sayang cup cup cup, haus ya?"
Tangisan putranya perlahan mereda kala Zoya memeluknya. Sudah tentu yang Fabian inginkan adalah air susu ibunya, bukan tidak peduli Zayyan tapi memang saat ini Fabian lebih penting tentu saja.
"Dia biasa bangun tengah malam begini, Zoya?" tanya Zayyan seraya mengikat rambut Zoya yang dia rasa sangat mengganggu.
"Biasanya tidak, mungkin terganggu ... Kakak terlalu berisik," ujar Zoya tidak mau di posisi salah padahal keduanya sama saja.
"Aku? Kamu yang berisik," balas Zayyan juga merasa dirinya tidak salah sama sekali.
Dia yang kini hanya mengenakan ****** ***** duduk di hadapan Zoya. Zayyan mengecup kepala Fabian yang kini berkeringat hingga rambutnya basah. Fabian sefokus itu bahkan dan menepis Wajah Zayyan yang terus mengusiknya.
"Keringatnya banyak sekali, apa memang begini, Zoya?" Selama ini Zayyan belum pernah memerhatikan anak seumuran Fabian tengah menyusu, dan ini adalah pengalaman pertama dia menatap pemandangan indah ini.
"Memang begitu, Kak."
"Heeum wanginya, apa seluruh anak kecil begini ya, Sayang?" Zayyan seakan lupa jika kepalanya bahkan terasa sakit akibat putranya mendadak bangun di tengah permainan. Akan tetapi, ketika mendengar deccapan Fabian hati Zayyan seakan luluh.
Zoya mengangguk dan tersenyum simpul kala itu tidak melepaskan tatapannya dari Fabian. Jika dilihat dari ciri-cirinya saat ini kemungkinan putranya tidak akan tidur sampai besok pagi.
"Fabian, sudah belum? Kapan tidurnya, Sayang? Papa belum selesai." Zayyan berucap seraya mengecup kepala Fabian begitu dalam. dan berharap sekali putranya mengerti,
"Bbbbaaaaa ...."
Zoya tertawa kala putranya tiba-tiba menoleh dan mengira Zayyan mengajaknya bermain. Terbiasa dengan perlakuan Dikta, Fabian mengira Zayyan orang yang sama hingga pada akhirnya tidak lagi peduli pada sang mama.
"Ah iya, terlalu rindu padamu sampai lupa anak kita nama lengkapnya siapa, Sayang?" tanya Zayyan merasa bersalah pada pemilik mata bulat di hadapannya ini.
"Fabian Alexander."
Zayyan mendongak, tatapannya tertuju pada Zoya yang kini juga menatapnya. Nama itu terlalu indah dan entah kenapa, Zayyan tiba-tiba merasakan hatinya menghangat seketika. "Alexander?" tanya Zayyan kembali memastikan, siapa tahu dia salah dengar dan terlanjur berharap lebih.
"Iya, aku ambil dari nama kakak dibelakangnya," ungkap Zoya sebenarnya bercanda tapi Zayyan menganggap itu serius hingga pria itu memerah lantaran salah tingkah, padahal memang benar Fabian adalah putranya.
"Ppaaapaa."
"Apaa, Sayang?"
Entah itu tengah memanggil sang papa atau memang hanya itu yang bisa dia ucapkan, yang jelas Zayyan merasa dunianya begitu sempurna saat ini. Apalagi, kala Fabian tertawa lebar ketika Zayyan mengusap wajahnya.
"Tidur, Sayang ... kenapa semakin segar begini," ungkap Zayyan mulai mengerti makna ucapan Zoya beberapa saat lalu.
"Kak, cuci tangan sana. Sebentar lagi aku harus mandi."
"Hah? Mandi? Kita belum selesai yang benar saja," keluh Zayyan menahan pergelangan tangan Zoya, Fabian yang kini terbaring di tempat tidur tampak sibuk sendiri bersuara seraya menggigit jemarinya.
"Mau dilanjut kapan lagi, Fabian tidak mungkin tidur dalam beberapa jam kemudian," ujar Zoya yang jelas sudah memahami bagaimana kebiasaan putranya, tidak mungkin Fabian tidur cepat jika sudah terganggu tidurnya begitu.
"Ya ... tapi kan?"
"Sshuutt, jangan terlalu berharap kalau dia sudah bangun begitu, lebih baik Kakak cuci tangan cepat," titah Zoya tidak ingin Zayyan berharap lebih, sudah bisa ditebak putranya tidak akan tidur segera.
"Cuci tangan?"
"Ya jarinya kotor, Kakak mau pegang-pegang Fabian nanti." Harus dengan penjelasan semacam ini barulah Zayyan mengerti dan segera berlalu usai tertawa tanpa dosa.
"Papapapapapapa ...."
"Kamu marah Mama ganggu tidurnya ya?" tanya Zoya menatap gemas putranya yang sejak tadi tidak henti berceloteh seakan tengah marah padanya.
- To Be Continue -
Nih yang gangguin😚