
Zico sempat mengutarakan niatnya untuk mengajak Zayyan hidup bersama seperti dulu. Akan tetapi, di hari kedua mereka benar-benar bersama Zayyan risih karena kehadiran mereka dia anggap mengganggu pemandangan. Bahkan, pria itu berdecak sebal ketika melihat Zico dan Agatha yang menghabiskan waktu bertiga bersama Fabian, putranya.
Tidak ingin ambil pusing, malam ini Zayyan memilih masuk ke ruang kerja seolah makhluk paling sibuk di dunia. Padahal, sama sekali tidak ada yang dikerjakan.
Beberapa menit dia menunggu, Zayyan kemudian mengirimkan pesan singkat kepada Zoya untuk membawakan minuman untuknya. "Ck, bagaimana agar dia peka ... kenapa harus dipanggil dulu baru paham?"
Sementara, Zoya yang sedang bercengkrama bersama putra dan kedua saudaranya terpaksa pamit sebentar kalah menyadari ponselnya bergetar. Sadar jika Zayyan tidak bisa dikesampingkan, Zoya tidak ingin mengulang kesalahan seperti kemarin.
"Zoy, mau ke mana?" tanya Agatha ketika wanita itu hendak berlalu.
"Sudah biarkan saja, Agatha ... paling juga paduka yang memanggilnya." Zico yang kini tengah bermain bersama Fabian ikut-ikutan bicara walau tidak diajak.
"Ya sudah sana ... oh iya Bian tidur sama aku boleh ya." Agatha meminta izin pada Zoya kemudian.
Semudah itu Tuhan merubah hati manusia. Sempat ragu dan sedikit tidak terima kala mengetahui Zayyan memiliki anak dari Zoya, kali ini rasa sayang itu tiba-tiba saja menelusup dalam batin Agatha hingga dia merasa bahwa Fabian benar-benar menenangkan jiwanya.
"Jangan, Agatha. Nanti kalau dia sampai nangis bagaimana?Memangnya kamu bisa kasih dia ASI," celetuk Zico tidak setuju dengan keinginan Agatha yang tiba-tiba saja jadi menyukai balita. Padahal, sejak dahulu Agatha adalah wanita yang paling anti perihal anak kecil. Zico hanya khawatir saja jika Fabian ikut Agatha maka malam ini semua anggota keluarga akan dibuat runyam karenanya.
"Norak!! Fabian tuh bisa minum paket dot, bodoh," balas Agatha kesal lantaran Zico minim pengetahuan padahal dia bukan remaja lagi.
"Jangan Izinkan, Zoy ... Agatha emosian. Bahaya nanti Fabian dicekik diam-diam," ucap Zico mengejek sama adik yang hanya memiliki kesabaran setipis kertas koran.
"Tidak akan, Zoya!! Jangan percaya dia ... aku menyayangi Fabian, lagian kalau misal Fabian tidur bersamaku, pasti kalian lebih leluasa."
Zoya memerah mendengar ucapan Agatha. Padahal wanita sama sekali tidak tengah berusaha membuatnya malu sama sekali.
"Malah ngelamun, boleh ya? Aku janji benar-benar akan menjaganya sumpah."
"Baiklah, boleh," ujar Zoya memberikan izin karena memang sejak dahulu Fabian bukan anak yang rewel sebenarnya. Bahkan tidur bersama Mirna tidak akan menjadi masalah, akan tetapi entah kenapa setelah Zayyan datang ke dalam hidupnya Fabian kerap tidak terkendalikan bahkan mengganggu ketenangan papanya.
"Zoya saja kasih izin, kenapa kamu yang repot?" Agatha menjulurkan lidah pada sang kakak yang meragukan kemampuannya menjaga anak.
Zoya hanya tersenyum melihat kedua kakak beradik itu justru ikut-ikutan memperebutkan putranya. Benar-benar suatu hal yang sama sekali tidak dia duga karena sejak dahulu Zoya selalu berpikir kehadiran Fabian akan ditolak mentah-mentah oleh adik kandung Zayyan.
Seperti yang Zayyan minta, Zoya menyempatkan diri untuk membuat minuman terlebih dahulu. Ya walau dia tahu sebenarnya itu adalah alasan sang suami untuk memaksa dia masuk ke ruang kerjanya.
Zoya melangkah perlahan masuk dan melihat Zayyan yang tengah duduk santai menunggunya. Tidak ada pekerjaan sama sekali yang dia sentuh.
"Belum, mungkin sebentar lagi. Masih anteng sama kak Zico," ucap Zoya kemudian sengaja duduk di sofa yang berada tidak jauh dari zayyan.
"Kamu kenapa duduk di sana? Kita suami istri, bukan rekan bisnis," ujar Zayyan sebal lantaran wanita itu tidak duduk di pangkuannya.
"Lalu harus duduk dimana? Di sana tidak ada kursi," ungkap Zoya yang berpikir memang seharusnya dia duduk di sini. Dan juga jarak mereka tidak begitu jauh bahkan suara pelanmasih jelas terdengar.
"Sini," titah Zayyan menepuk pa-hanya sebagai tempat untuk Zoya duduki.
Mau tidak mau, meski dia sebenarnya tidak terbiasa dengan hal-hal semacam ini, Zoya tetap mendekat dan duduk di pangkuan sang suami.
"Kakak sedang apa di sini? Sibuk ya?" tanya Zoya basa-basi padahal sebenarnya dia tahu bahwa sang suami tengah menghindari Zico dan Agatha yang sejak kemarin menjadi sebab Zayyan tidak bisa bebas bermain bersama Fabian.
"Tidak ada, aku lebih tenang sendiri saja," ucap Zayyan seakan manusia paling anti sosial di dunia.
"Jangan begitu seharusnya, kita tuh harusnya bersyukur bisa kumpul lagi, bisa sama-sama lagi kenapa malah lari begini," ucap Zoya mencoba memberikan pengertian kepada sang suami dan menekankan bahwa bersikap seperti itu bukanlah hal yang baik.
"Apanya yang sama-sama kembali? Setiap hari aku bertemu mereka jadi tidak ada yang perlu disyukuri," ucap Zayyan singkat karena memang begitu faktanya.
"Tapi tetap saja jangan jadi cuek begini. Kalau mereka tersinggung bagaimana?" tanya Zoya kemudian dengan suara yang luar biasa lembut karena dia paham suaminya ini pantang sekali jika Zoya kasari.
"Santai saja, Zoya tidak ada sejarahnya Agatha dan Zico tersinggung. Hati mereka berdua kebal persis hati badak, lagi pula yang harus aku syukuri itu adalah kembalinya kamu."
Zayyan tidak sedang dramatis ataupun membuat keadaan semakin menyedihkan. Hanya saja, memang di antara banyaknya hal di dunia yang perlu dia jaga hanya Zoya dan putranya saja.
.
.
.
- To Be Continue -
Hallo, sementara Zayyan up mampir juga ke novel satu ini ya.