Gairah Psikopat Cantik

Gairah Psikopat Cantik
Chapter 8


Setelah berhasil memaki kedua mertuanya, maka saat ini Cassie pun berjalan keluar. Seketika perutnya terasa keroncongan, apalagi para cacing membelit perutnya yang rata.


Saat merasa kelaparan seperti ini, sepertinya Cassie merasa kebingungan. Tiba-tiba saja banyangan bibir Devon yang lezat membuatnya bergelora.


"Kenapa tidak menemui lelaki tampan itu? Bukankah dia sumber energi kamu?" gumamnya.


"Tunggu dulu, seharusnya hadiah karena menaklukan dia sudah diberikan, bukan?"


Cassie kembali bertanya pada dirinya sendiri sambil mengingat apakah sistem sudah memberikan hadiah untuknya. Saat ia hendak bertanya, rupanya sistem jauh lebih sensitif.


...[Kluntang ... Klunting]...


...[Selamat karena Nona berhasil menyelesaikan misi sampingan dengan sempurna]...


...<>...........<>...........<>...


...[Misi sampingan : berhasil]...


...[Hadiah sudah masuk akun]...


...<>...........<>...........<>...


...[Nama: Cassie Emersyn]...


...[Umur: 23 tahun]...


...[Saldo: Rp 60.800.000,00]...


...[Level sistem: Beauty (15.000/100.000)]...


...[Kecerdasan : 45]...


...[Pesona: 60]...


...[Inventaris: pesona kecantikan Dewi]...


...[Skill: 250 poin skill membunuh, skill hacker, kecerdasan Dewi, 10 poin tebar pesona, 50 poin skill bertahan, skill bela diri, skill senyuman maut]...


...<>...........<>..........<>...


...[Selamat bersenang-senang, Nona]...


Seketika senyuman Cassie kembali terbit. "Setelah ini tidak perlu menumpang lagi dan sebaiknya membeli sebuah rumah baru."


...[Nona ingin rumah]...


"Ya, tentu saja. Memangnya mau terus-terusan numpang di rumah orang ?"


^^^[Jangan bilang begitu, Nona. Tuan Devon sangat baik, jangan-jangan sudah jatuh cinta padanya]^^^


"Yasalam. Dah, lah gue mau lanjut cari makan, bye"


Tidak mau ambil pusing akhirnya Cassie pergi makan siang di sebuah resto. Pada saat yang sama, kebetulan Devon juga mau makan siang di luar. Jangan lupakan Ken yang selalu setia kemanapun Devon pergi.


"Ken, ke resto biasanya aja, ya?"


"Baik, Tuan," jawab Ken patuh.


Tidak lama kemudian mobil berwarna putih itu akhirnya masuk ke dalam area parkir. Tanpa antri, Devon justru langsung memberikan sebuah kartu pada Cassie dan duduk di hadapannya.


"Pelacakan Ken memang sangat akurat, untung bisa menemukannya di saat yang tepat," gumam Devon bahagia.


"Apa ini?" tanya Cassie kebingungan.


"Ini namanya black card. Apa kamu belum pernah melihatnya?"


Cassie menggeleng. "Lagipula kenapa Tuan memberiku ini?"


"Mulai saat ini kamu adalah wanitaku!" gumam Devon.


"Sudahlah, ambil saja. Lagipula kamu rupanya justru keasyikan di sini daripada istirahat di rumah? Apakah kau sudah baikan?"


"Sudah, Tuan. Makanya mencoba udara di luar biar nggak bosen."


"Kalau mau nggak bosen, kenapa tidak melamar kerja di kantorku?"


"Ha-ah? Melamar kerja?"


Devon mengangguk setuju. Dia memang tidak ingin mengatakan motif yang sesungguhnya karena takut jika Cassie menolak. Apalagi ia sedang menyelidiki dirinya. Di sisi lain, Ken baru saja berhasil menyusul Devon.


'Ya, Tuhan wanita pujaan Tuan Devon memang sangat cantik,' gumamnya.


Melihat mata Ken yang tidak berkedip ketika menatap Cassie, dengan segera Devon menginjak kaki Ken hingga membuatnya mengaduh. 'Rasakan! Beraninya kamu menatap calon wanitaku!'


"Aduh!" pekik Ken ketika kaki jenjang Devon menginjak salah satu kakinya.


Tentu saja Ken mengaduh. Sebagai asisten yang serba ada, dia selalu saja mendapatkan perlakuan yang beragam. Akan tetapi apapun perlakuan Devon padanya, Ken adalah tipe setia pada majikan.


"Kamu kenapa, Mas?"


Ucapan Cassie yang terlihat iba pada Ken membuat hati dan jantung Devon memanas. Ken yang peka segera undur diri dan memilih menjauh dari meja Tuan-nya.


"Nggak apa-apa, Mbak. Saya cuma mau nganter kunci mobil sama Tuan Devon."


"Oh. Nggak makan bareng dulu, kayaknya kamu juga belum makan siang."


'Duh, Mbak Cassie ini nggak peka atau emang sengaja biar saya dikirim ke Antartika sama Tuan Devon! Tega!' gumamnya setengah ketakutan.


Tentu saja Devon menatap Ken dengan hunusan tajam. Membuat jiwa kisminnya meronta.


"Nggak Mbak, saya makan di kantor saja, permisi!"


Kurang dari sepuluh detik, Ken sudah menghilang dari tempat tersebut. Cassie yang melihatnya justru tertawa lepas. Sebenarnya ia hanya ingin melihat apakah Devon benar-benar sudah terpikat padanya atau belum. Ternyata Devon lelaki yang dingin tetapi mudah ditaklukkan.


...[Kluntang ... Klunting]...


...<>............<>...........<>...


...[Waktu pengisian daya]...


...[Energi yang tersisa 55%]...


...[Batas waktu 1 hari]...


Kedatangan sistem yang tiba-tiba tentu saja membuat Cassie ingin murka. Padahal ia sudah memesan menu mahal agar tidak perlu lagi mengisi daya dengan ciuman.


Akan tetapi sistem sudah terpogram sempurna. Jika tidak berciuman dengan sumber energi, takutnya ia akan pingsan dan non aktif selamanya.


"Tuhan, sebenarnya tidak ingin mengeluh, tetapi kenapa pengisi daya harus ciuman!"


...[Nona tidak bisa menolak, karena cara ini adalah paket sempurna untukmu. Bahkan dengan begitu Nona bisa mendapatkan partner hidup yang jauh lebih berkualitas daripada mantan suami yang baj*ngan itu]...


"Nah, Lo sistem kamu mengumpat, hukumannya adalah membayar semua menu makan siangku bersama Devon!"


...[Astaga, sejak kapan sistem diperintah?]...


"Sejak saat ini, apakah kau tidak sadar jika terkena BUG!"


...[BUG! Astaga, Nona mengadi-ngadi. Baiklah demi kerja sama kita yang seiman maka sistem akan memberikan hadiah pada Nona]...


...[Kluntang ... klunting]...


...[Hadiah persahabatan : uang senilai 15 juta, silakan Nona lihat M-Bangking dan chek saldo]...


"Terima kasih, sistem. Kamu baik sekali. Love you Sistem Balas Dendam Dewi Kematian!"


Beruntung percakapan antara Cassie dan sistem tidak dapat terdeteksi oleh Devon. Lagi pula pikiran Devon sudah berkelana sampai Kepulauan Maldives. Ia membayangkan jika setelah ini bisa liburan bersama Cassie.


Saat keduanya masih asyik makan siang. Rupanya ada salah satu sahabat Brigita yang berada satu lokasi dengan Cassie. Ia menajamkan kedua matanya untuk melihat apakah itu benar Cassie atau bukan.


"Ya, Tuhan. Apakah ini bukan mimpi?"


"Kamu kenapa, Sayang?"


"Cubit, tanganku dong! Please!"


Tanpa curiga, Miko mencubit tangan Mini dan membuatnya hampir berteriak. Beruntung ia segera menutup mulut.


"Jangan keras-keras, dong!" Maki Mini pada Miko.


"Abisnya kamu lucu, nggak ada apa-apa kok minta dicubit!"


"Sayang, lihat ke arah sana, deh! Gue nggak mimpi Lo. Di sana ada Cassie yang meninggal beberapa hari yang lalu."


"Hust, pamali ngomongin orang yang meninggal!"


"Tapi, Say!"


Melihat kekasihnya meragukan ucapannya, Mini segera menghubungi Brigita. Benar saja, ia terkejut.


"Berarti yang melukaiku kemarin adalah Cassie yang asli? Bukankah dokter sudah memastikan jika ia meninggal? Bahkan kita saja datang ke pemakamannya!"


"Makanya itu, kamu hati-hati. Atau mungkin Cassie mempunyai saudara kembar?"


"Entahlah, untuk memastikan hal ini, sebaiknya kamu tanya langsung sama Pak Andrew!"


"Dia lagi di penjara, mana mungkin bisa bertanya padanya."


"Ya, tanya saja calon ibu mertua kamu. Atau Kedua orang tua Cassie saja, gimana!"


Ketika kedua manusia tidak bermanfaat itu saling ghibah, maka sistem memberikan misi pada Cassie.


...[Kluntang ... Klunting]...


...[Misi utama diterima dan tidak bisa ditolak]...


...<>............<>...........<>...


...[Teman ja*ang ada di sini. Ia sedang menyusun rencana untuk balas dendam dengan Nona]...


...[Misi: Bereskan sampah yang duduk di kursi 28]...


...[Batas waktu: 1 jam]...


...[Hukuman: rambut Nona akan kriting, dan bau badan]...


...[Hadiah: 250 pesona Dewi, skill menembak, motor Honda Scoopy warna putih]...


...<>............<>...........<>...