Gairah Psikopat Cantik

Gairah Psikopat Cantik
Chapter 3


Devon Abimanyu, seorang lelaki tampan yang berusia kepala tiga sedang memandangi wajah Cassie. Dari ujung kaki hingga kepala tidak ada yang terlewat.


"Wajahnya begitu anggun, tetapi sangat kuat dan berkarakter. Bahkan bisa menghajar Tuan Andrew hingga babak belur," gumam Devon sambil terus menatapnya.


"Maaf untuk kejadian barusan, Tuan. Saya siap menanggung resiko atas semua kerugian yang Anda alami."


"Wow, wanita yang unik, sebaiknya menahannya di sini tidak sulit."


"No problem. Sebagai gantinya tinggallah di sini dan jadilah pengawal pribadi untuk Brian."


"Baik, Tuan."


......................


Bayangan Andrew sedang menaiki Brigita berputar seketika, hingga membuatnya kebingungan dan amarahnya meluap-luap. Cassie memegangi kepalanya yang berdenyut kencang.


...[Kluntang ... Klunting]...


...[Misi Utama berhasil, hadiah uang akan segera ditransfer ke akun Nona]...


...<>...........<>............<>...


...[Hadiah: Kecantikan seperti dewi, skill bela diri dan uang 4,8 juta rupiah telah ditambahkan]...


...[Penambahan saldo dalam proses, OTW]...


...<>..........<>.........<>...


"Tunggu dulu, bukankah aku tidak punya rekening?"


...[Tenang, sistem sudah membuatkan nomor rekening. Kartu ATM ada di saku celana sebelah kanan]...


Sontak Cassie merogoh kantong untuk memastikannya. Namun, sesaat kemudian justru terdengar suara seperti benda jatuh di belakang pintu.


Tiba-tiba saja sistem berbunyi.


...[Kluntang ... Klunting]...


...[Misi sampingan hadir dan tidak bisa ditolak]...


...<>...........<>............<>...


...[Misi : Mencuri ciuman dari tuan rumah dan menaklukkan hatinya]...


...[Batas waktu: 2 hari]...


...[Hukuman: Nona akan diusir dan tidak akan mendapatkan tempat tinggal]...


...[Hadiah: Kecerdasan Dewi, skill hacker dan uang 8 juta rupiah]...


...<>..........<>.........<>...


"Beberapa skill yang diberikan sistem sangat berguna. Apalagi jika digunakan untuk menunjukkan kebusukan kalian! Tunggulah karma kalian akan segera datang!"


Cassie tersenyum simpul, tidak ingin membuang waktu ia langsung keluar kamar. Kebetulan ada Devon di sana.


"Tuan, tolong!"


Devon yang mengira Cassie kenapa-napa segera mendekat. Akan tetapi ia begitu terkejut ketika Cassie mencuri ciuman darinya.


Di tambah lagi ritme ciumannya memabukkan. Tangan Cassie bergerilya naik turun. Membuat sang pemiliknya menelan salivanya dalam-dalam dan diam tidak berkutik m


Meski terkesan sangat ganas, tetapi bagi Devon itu sangat menggairahkan. Ciuman sesaat dari Cassie nyatanya mampu membuat cacing di dalam celana Devon bangun. Seperti biasa, setelah puas Cassie segera kabur meninggalkan mangsanya.


"Baru kali ini aku merasakan gadis pemberani seperti itu."


Tanpa sadar, tangannya mengusap bekas bibir Cassie lalu tersenyum simpul. Ternyata dari balik pintu, Brian mengintip.


"Dasar wanita monster! Om aja sampai dibabat juga!"


Sementara itu di dalam kamar, dada Cassie kembang kempis. Rasa-rasanya jantungnya mau melompat keluar. Tindakannya tadi persis seperti penjahat wanita. Dua kali mencuri ciuman dari lelaki asing benar-benar memacu adrenalin.


...[Kluntang ... klunting]...


...[Maaf sistem tidak bisa menerima tindakan Nona, dan hal itu dianggap pelanggaran, apalagi waktunya kurang dari lima menit]...


"What's!" pekiknya kesal.


...[Pemotongan hadiah dilakukan : -20 poin pesona]...


...[Denda : Rp, 1.000.000,00]...


Tentu saja Cassie merasa dibohongi oleh sistem dan ia pun memilih untuk tidur dan mengabaikan sistem berbicara.


"Gila, gue diperdaya sistem! Daripada semakin gila mending gue tidur!"


...[Mengumpat pun bisa memotong hadiah, dan otomatis akan memotong saldo Rp. 1.000.000,00]...


"Ya, Tuhan!" pekiknya sekali lagi.


......................


Keesokan hari, Cassie sudah berniat untuk mendatangi rumah mantan suaminya, yaitu Andrew. Ia sangat yakin jika j*lang tersebut berada di sana.


Benar saja, saat itu Brigita sedang mengalami morning sickness karena hamil muda. Kebetulan semalam ia menginap di rumah Cassie tanpa malu-malu lagi. Apalagi sudah menganggap jika Cassie mati.


"Siapa yang membuat kamu babak belur seperti ini, Mas?"


"Para preman di gang sebelah! Kemarin gara-gara dikejar anjing eh justru nabrak salah satu anggota mereka dan jadinya seperti ini."


Brigita memegang perutnya yang rata.


"Sayang, kapan kamu mulai menunjukkan pada dunia jika kita berhubungan?"


"Sabar, sebentar lagi."


"Jangan lama-lama, di dalam sini ada buah hati kita."


"Iya, Sayang. Gaun pengantin kita juga sudah siap."


Suara tepukan tangan terdengar menggema di area dapur. Ternyata Cassie sudah berdiri di sana dan menatap kedua pasangan mesum yang sedang berbahagia itu. Sontak keduanya menoleh ke arah sumber suara.


"Cassie? Bu-bukankah kamu sudah meninggal?" ucap Brigita ketakutan.


Tiba-tiba sistem berbunyi.


...[Kluntang ... Klunting]...


...<>...........<>...........<>...


...[Selamat Nona, poin skill membunuh bertambah 50 poin]...


...[Sistem Balas Dendam Dewi Kematian,...


...mulai aktif]...


...<>...........<>...........<>...


...[Misi utama: siksa pelakor dan suami Nona hingga tidak punya celah untuk melawan]...


...[Batas waktu: 1 jam]...


...[hadiah: 200 poin skill membunuh, dan 50 poin skill bertahan, dan uang senilai 25 juta rupiah]...


...<>...........<>..........<>...


...[Selamat bersenang-senang, Nona]...


Cassie tersenyum menyeringai, dengan langkah tegas ia mendekati mereka. "Mungkin, atau yang kalian lihat saat ini memang hantu, dan akan membalas dendam kepada kalian yang tega membunuhnya!"


Tangan Brigita tampak bergetar, begitu pula dengan Andrew yang tidak bisa berkata-kata lagi. Ketakutannya sama dengan apa yang dirasakan oleh Brigita. Apalagi kemarin ia sukses membuatnya babak belur.


"Ma-mau apa, kau!"


"Mau melihat apakah calon anak kalian aman, atau akan berakhir di sama dengan calon anak dari istri sahmu!"


"Ti-tidak!"


"Kamu berbohong, wanita mandul itu tidak mungkin bisa hamil!" elak Andrew yang masih kesakitan.


Langkah kaki Cassie yang lebih cepat membuatnya berhasil meraih tangan Brigita. Menariknya cepat hingga tubuhnya terlepas dari pelukan Andrew.


Bahkan karena terlalu cepat, membuat Ia terlempar ke atas hingga melayang untuk beberapa saat, lalu setelahnya terbanting cukup keras ke area lantai.


"Cassie, cukup!" teriak Andrew yang tidak tega melihat kekasihnya terluka.


"Arggh!" pekik Brigita sambil memegangi punggungnya yang sakit.


Bagaimana tidak sakit jika tubuhnya saja baru terlempar. Tulang-tulang punggungnya seolah retak pada saat yang sama.


Penderitaan Brigita tidak sampai disitu. Rupanya cairan kental berwarna merah pekat sudah mengalir deras di antara kedua kakinya. Tentu saja ia panik dan berteriak.


"A-anak kita, Mas!" ucapnya sesenggukan.


Cassie menyeringai dan berjalan perlahan ke arahnya.


"Rasakan pembalasan dari istri sah! Apa yang kamu dapatkan sebanding dengan luka yang kau torehkan padanya! Ia juga kehilangan anaknya dan kau juga!"


Andrew yang semula hendak memukul Cassie tiba-tiba saja berhenti, ketika mengetahui jika Cassie hamil saat terbunuh kemarin. Kakinya seolah lemas ketika mendapatkan kenyataan itu.


"Ha-hamil?"


Cassie menoleh ke arah mantan suaminya, "Kau pikir istri sahmu mandul, hah! Tahukah kamu kemarin ia datang untuk memberi tahukan kabar baik ini, tetapi kau malah membunuh ia dan calon anaknya!"


Andrew merasa terpukul dan semakin luruh ke bawah. Tangisnya tergugu saat menyadari kesalahannya.


"Kenapa semua ini terjadi?" Andrew tampak menutup kedua tangannya.


"Mas, tolong!" teriak Brigita kesakitan.


Pikiran Andrew seketika bercampur aduk. Tanpa sadar ia justru melempar sebuah tongkat dan mengenai kepala Brigita yang awalnya akan digunakan pada Cassie.


Cairan berwarna merah menyembur ke berbagai sisi. Andrew yang melihatnya seketika beteriak histeris.


"Sa-sayang, kamu kenapa?"


"Mas, kamu jahat!" teriak Brigita sebelum pingsan.


Cassie yang berada di sana segera bertepuk tangan. "Wow, sebuah pertunjukan bagus. Sayang, Nona Cassie tidak bisa melihatnya secara langsung."


Andrew menatap Cassie dengan wajah mengiba. "Maafkan kami, sungguh wanita itu yang menggoda duluan, bukan saya!"


"Semua lelaki sama, selalu mementingkan hasrat dibandingkan perasaan istrinya. Apakah hukuman ini masih kurang? Jika iya, dengan senang hati sistem akan melakukannya!"


Di salah satu tangan Cassie tampak sebuah pisau lipat yang sudah dibumbui racun. "Ulangi perkataan kamu, maka ampunan akan datang. Akan tetapi jika kamu ingkar, maka hantu Cassie akan menerormu!"