Gairah Psikopat Cantik

Gairah Psikopat Cantik
Chapter 21


Cacing di perut Devon mulai meronta, menginginkan untuk segera diisi. Oleh karena itu ia pun segera naik ke lantai atas untuk memanggil Cassie. Tidak lupa ia mengetuk pintunya terlebih dahulu karena setiap wanita berhak di hormati.


"Cassie, mau makan malam bareng kah?"


Cassie menoleh ke arah pintu lalu menggeleng perlahan. "Tidak perlu, nanti aku akan turun sendiri!" ucap Cassie.


Sebenarnya ia tidak terlalu ingin untuk pergi keluar. Namun, perasan sebagai manusia biasa kembali menguasai. Apalagi selama ini Devon adalah lelaki yang tidak pernah meminta imbalan, meskipun ia selalu memaksanya.


"Mampukah mematikan perasaan ini?" tanya Cassie pada pantulan dirinya di depan cermin.


Demi menemani Devon, Cassie yang mulai merasa tidak enak hati, akhirnya memutuskan untuk menemaninya makan malam. Keheningan kembali terjadi, saat ini ia diam dan lebih banyak menghabiskan waktu pada makanan di hadapannya.


"Cassie, apakah kamu masih mencintai masa lalumu?"


Sendok dan garpu yang sebelumnya beradu di atas piring kini berhenti seketika. Kedua matanya menatap Devon dengan sejuta pertanyaan.


"Maksud kamu?"


"Maaf jika ucapan dari saya menyinggung perasaan kamu. Akan tetapi jujur sejak pertemuan pertama kita, hati ini sudah memilihmu. Maka dari itu menikahlah dengan saya."


Mood makan Cassie tiba-tiba menghilang. Namun, sistem yang menempel di tubuhnya seketika bereaksi.


...[Kluntang ... Klunting]...


...[Misi datang dan tidak bisa ditolak]...


...<>...........<>............<>...


...[Misi : Menyakinkan Devon jika Nona memang cocok dengannya]...


...[Batas waktu: 2 hari]...


...[Hukuman: Nona akan kehilangan sumber asupan nutrisi selamanya]...


...[Hadiah: skill tatapan maut, skill berburu dan uang 15 juta rupiah]...


...<>..........<>.........<>...


Seketika kedua bola mata Cassie membola mendengarkan permintaan sistem yang tidak masuk akal saat ini. Memang benar, selama beberapa hari ini Cassie belum menambah energi di dalam tubuhnya. Sehingga jika sampai kehilangan asupan energi, ia bisa gagal balas dendam.


"Gila, ini namanya penipuan! Bisa-bisanya kehilangan asupan energi? Jika Devon pergi lalu kemana harus mencari penggantinya?"


Otak Cassie lagi dan lagi dipaksa berpikir keras. Sejauh ini sistem tidak pernah mengecewakan. Akan tetapi ia juga tidak mau kalah karena menjadi budak sistem. Sehingga Cassie akhirnya memilih untuk menerima misi tersebut.


...[Apakah Nona menerima misi/tidak]...


Tanpa berpikir lebih lama lagi, kini Cassie segera menerima misi tersebut.


"Baiklah, misi diterima."


...[Good, kalau begitu sistem pamit]...


Sebenarnya Devon melakukan hal ini karena mengingat usianya sudah tidak muda lagi. Maka dari itu ia pun mempercepat keinginan untuk menikah dengan Cassie. Melihat wanita pujaan hatinya bersedih, hatinya ikut sakit.


Lagi pula saat ini, mantan suami Cassie juga sudah mendekam di penjara. Satu hal yang mendesak adalah peraturan pemerintah yang mengatakan, "Untuk menjaga stabilitas negara, maka para lelaki ataupun wanita lajang harus segera mempersiapkan dirinya untuk memasuki sebuah hubungan yang lebih jelas yaitu pernikahan."


"Dikarenakan saat ini kehidupan para remaja sudah tidak seperti dulu lagi dan semakin meresahkan. Maka dari itu, warga yang melanggar hukum akan dipidana."


Peraturan pemerintah yang baru dirasa sangat menguntungkan bagi Devon tetapi menyiksa bagi Cassie. Ingin rasanya mengumpat tetapi tertahan.


"Ya, Tuhan tolonglah hamba ...."


Jika Cassie harus memilih menjadi manusia biasa tanpa dendam dan terlibat cinta. Brigita justru merasa terancam karena tidak bisa mendapat harta peninggalan Cassie lewat Andrew.


......................


Saat ini Brigita justru merasa tidak baik-baik saja setelah ia dinyatakan bebas. Hasil otopsi dari pihak rumah sakit memang membantunya agar cepat keluar dari rumah sakit, tetapi setelah mengetahui jika Andrew mengalami kecelakaan dan membuatnya hilang ingatan akhirnya membuat kondisi tubuhnya drop.


"Jika sampai lelaki itu lupa dengan hubungan ini maka semua harta yang seharusnya saya dapat akan musnah!"


Brigita menjejakkan kakinya kesal karena hal itu. Tuan Hendra sengaja mengawasi Brigita sejak beberapa hari. Ingin memastikan apakah benar Brigita mempunyai hubungan dengan putranya atau tidak.


"Rupanya apa yang ditakutkan akan terjadi. Sebaiknya Cassie harus mengetahui hal ini agar dia bisa mempersiapkan segala hal maupun kemungkinan terburuk."


Dengan segera Tuan Hendra meninggalkan tempat itu dan pergi menuju mobilnya yang semula ia parkir di depan halaman rumah Brigita. Tujuan utamanya akan pergi ke kediaman Cassie.


Di sisi lain, Mama Eva sudah berada di depan kediaman Cassie. Kilatan dendam bercampur amarah seakan menyeruak di dalam dadanya.


"Kamu tidak akan bisa lepas dari amarah saya, Cassie!" ucapnya penuh amarah.


Wanita paruh baya itu tidak sadar jika saat ini Cassie belum sampai di rumah. Apalagi saat itu ia sedang makan malam bersama Devon. Akan tetapi instingnya mengatakan jika malam ini tidak usah kembali ke rumah.


"Dev ...."


"Hm ... ada apa, Sayang?"


"Malam ini kita nggak usah pulang, ya?"


"Boleh, mau pergi kemana?"


"Hotel aja, yuk!"


"Siap, Sayang."


Kelihaian Cassie dalam memikat lelaki memang sudah tidak diragukan lagi. Apalagi saat ini ia sudah mempunyai banyak skill, sehingga dengan mudah mematahkan hati pria yang jatuh cinta padanya.


"Hm, kalian kira bisa bermain di belakang saya? Jangan harap, Sayang," Ucap Cassie sambil menyeringai.


......................