
"Selamat, Anda mendapatkan sebuah remisi masa tahanan dari pengadilan. Sesuai dengan permintaan Ibu Eva maka selama dua hari Anda juga mendapatkan kebebasan bersyarat. Akan tetapi selama itu pula Anda harus wajib lapor."
Seketika kedua mata Andrew tampak berbinar setelah mendapatkan pembacaan hasil sidang oleh hakim. Rupanya ia bisa menghirup udara bebas selama dua hari.
"Terima kasih banyak, Pak Hakim."
Dengan senyuman menyeringai kini Andrew melangkah keluar dari ruang sidang. Mama Eva bergegas memeluk putra semata wayangnya itu.
"Maaf, Mama cuma bisa membantumu selama dua hari. Lakukan apapun yang membuat kamu puas. Kalau perlu bikin mati sekalian si Cassie. Mama nggak menyangka jika ia bisa berbuat sekeji ini pada kita."
"Iya, Ma. Nggak apa-apa, terima kasih. Dua hari pun sudah cukup untuk membuatnya jera."
Di belakang sana terlihat Tuan Hendra menghela nafasnya perlahan. Ia sangat yakin jika sesungguhnya Cassie tidak meninggal. Hanya saja bukti yang selama ini dikumpulkan masih belum cukup, sehingga beliau harus ekstra bekerja keras.
"Semoga saja, dengan keluarnya Andrew selama dua hari ini, ia tidak membuat masalah lebih runyam lagi."
Selepas memeluk mamanya, Andrew hendak mengalami ayahnya. Akan tetapi bukannya menerima beliau justru menepis tangan Andrew.
"Jangan buat masalah lagi. Ingat kebebasan kamu kali ini bersyarat!"
"Iya, Pa. Makasih sudah datang ke sini."
Meskipun tidak pernah cocok dengan Tuan Hendra, Andrew masih menghormati kedua orang tuanya itu. Ia pun segera bersiap melakukan dua rencana untuk mantan istrinya, Cassie.
Di sisi lain, Cassie dan Andrew tampak masih berada di bawah selimut yang sama. Keduanya bahkan saling berpelukan meskipun sang Surya telah mengintip di balik ranting dan pepohonan.
Cahaya yang masuk sempat mengusik Cassie, hingga akhirnya ia memutuskan untuk bangun. Sempat terkejut karena ada sebuah tangan yang memeluknya. Senyuman Cassie terbit, karena dengan tidur semalam bersama Devon membuat kekuatannya kembali pulih.
[Kluntang ... Klunting]
[Pengisian daya berhasil, kini daya Nona sebesar 90%]
[Selamat karena kinerja sistem meningkat dan lebih stabil untuk 2x24 jam]
[Selamat beraktivitas, Nona]
"Makasih, sistem karenamu, di kehidupan kedua ini lebih bermakna."
[Sama-sama]
Setelah cukup berbincang, Cassie menoleh dan tersenyum. "Terima kasih, Tuan Devon. Tidur denganmu semalaman rupanya mampu mengisi dayaku. Semoga saja kamu sehat selalu."
Meskipun hanya berpelukan dan masih berpakaian utuh, tetapi energi positif yang berada di tubuh Devon mampu mengalir dengan sempurna ke tubuh Cassie. Hal itu pula yang membuat Cassie terlihat bersemangat, sementara Devon justru terlihat pucat dan letih.
Akan tetapi sebagai manusia biasa, Devon bisa mengisi dayanya sendiri dengan istirahat cukup dan makanan-makanan sehat. Melihat Devon masih tertidur pulas, Cassie memilih keluar dari kamar dan kembali ke kamarnya sendiri.
......................
Di atas kursi panjang itu terlihat seorang gadis yang memandang lepas bunga-bunga mekar di depannya. Mungkin gadis itu berharap di malam itu sang kekasih datang dan membawakan sebuket bunga untuknya.
"Cassie, kamu cantik sekali."
Pemuda itu tampak begitu polos karena selama ini dia memang jomblo. Namun, sepertinya Tuhan sedang berbaik hati dan mengabulkan doanya agar bisa berkencan dengan gadis pujaan hatinya, Cassie Emersyn.
Tiba-tiba hujan mulai turun, pemuda itu bergegas membuka payung untuk sang gadis. Cassie tampak bahagia karena hujan turun, seketika ia pun memejamkan mata berniat menikmati rintik air hujan.
Merasa aneh karena tubuhnya sama sekali tidak basah, membuatnya membuka mata. Tanpa disangka ada seorang pemuda memegangi payung untuk gadis tersebut.
"Kenapa tubuh ini nggak kehujanan?"
Dengan debaran jantung yang berdisko, gadis tersebut mendongakkan wajahnya. Ternyata seorang pria tampan datang dan tersenyum ke arahnya.
"Ngapain hujan-hujanan di sini? Pulang yuk, nanti masuk angin."
"Ya, Tuhan. Terima kasih karena telah mengirim pangeran kemari," batin sang gadis.
Tangan yang kokoh itu akhirnya menggenggam jemari kecil milik sang gadis dan menuntunnya pulang. Sayang, tiba-tiba saja terdengar suara benda diketuk dengan sangat keras hingga membuatnya terjatuh dari atas tempat tidur.
"Asep, bangun! Bantuin Bibi sekarang!"
"Iya, Bi. Sebentar, ya."
"Eh, buset cuma mimpi. Ya Tuhan, gini amat jadi jones. Untung di dalam mimpi masih bertemu Nona Cassie."
Asep segera membetulkan penampilannya lalu mencoba bangkit. Meskipun pantatnya masih panas tetapi ia harus membuka pintu agar bibinya nggak marah-marah, tetapi masih ada bagian tubuhnya yang tidak tertutup sempurna akibat bermimpi tadi.
Di sisi lain, Cassie yang baru saja bangun tidur pun melintasi kamar Asep. Melihat Mbok Sarinah disana, ia pun menyapanya.
"Mbok, ngapain di sini?"
"Ini bangunin Asep, Non. Bibi kerepotan di dapur eh dia asyik ngorok."
Cassie mengulum senyum. Tepat bersamaan dengan itu Asep membuka pintu. Naas, burung kenari miliknya mengintip dari celah resleting.
Kedua wanita itu bersamaan melihat ke arah Asep yang asyik mengucek matanya. Ia sendiri tidak sadar jika karena mimpi manisnya tadi, burung kenarinya menegang.
Cassie segera memalingkan wajah dan permisi pergi. Sementara itu Mbok Sarinah segera menepuk bahu Asep.
"Asep! Bisa nggak burung kenari kamu ditutupi dulu! Non Cassie malu melihat kamu kayak gitu!"
"Emangnya dia ada di sini, Mbok?"
"Buka matanya dan liat. Nona Cassie langsung ngibrit liat kenari kamu!"
Sontak Asep menunduk melihat aset berharganya dan menutup dengan kedua tangannya. "Astaga, gara-gara mimpi ketemu Nona Cassie, dia jadi tegang. Mana dia liat lagi! Yasalam, ilang sudah keperjakaan urang!"