
"Cassie, kau benar-benar sudah berubah jadi iblis!" gumam Andrew sambil memegangi punggungnya yang sakit.
Di luar rumah, terlihat jika kedua belah pihak orang tua sudah sampai sesuai permintaan Cassie.
"Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Rumah ini terlihat sepi."
"Entahlah, sebaiknya kita segera memastikannya ke dalam."
"Iya, aku setuju."
Belum sempat orang tua Andrew masuk, rupanya ada mobil mewah masuk ke dalam pekarangan Rumah Cassie. Tentu saja mereka menoleh secara serentak.
"Loh, besan juga datang kemari?"
"Tentu saja, lagipula ini rumah milik putri kami, Cassie."
Tampak sekali jika kedua orang tua Andrew menunduk. Mereka bukanlah tandingan keluarga Cassie yang kaya raya.
Tanpa rasa curiga ke-empat orang tersebut segera memasuki rumah Cassie. Betapa terkejutnya mereka melihat keadaan Andrew yang memegangi punggung, di sisi lain ada seorang wanita bersimbah darah.
"Andrew!" teriak Mama Eva.
Kedua matanya membelalak ketika putranya kesakitan.
"Kamu kenapa? Ada maling?"
"Mana ada maling, lihat saja pakaian mereka sama. Atau mungkin mereka bertengkar satu sama lain."
Mama Violla menatap tajam ke arah Andrew, menantunya. Sementara itu Mama Eva takut karena menyadari jika ada salah satu putri sahabatnya.
"Astaga, itu Brigita!"
Tentu saja Andrew begitu terkejut karena ibunya mengenal Brigita. "Mama kenal?"
"Ya, kenal lah. Dia putri sambungnya teman Mama."
Pandangan Andrew segera beralih dari kekasihnya dan juga sang Mama. Ada rasa bersalah karena ia justru bermain api di dalam rumah tangganya. Sementara itu kedua orang tua Cassie justru terlihat tidak terima karena rupanya sang menantu memelihara gadis lain.
"Siapa gadis ini, Andrew!" Suara bariton dari Ayah Cassie begitu terdengar lantang.
Belum lagi tatapan dari beliau penuh aura membunuh. Mengintimidasi menantu sampah yang numpang hidup enak pada mendiang putrinya.
Mungkin ini adalah batas kesabaran Ayah Cassie yang sangat mencintai putri semata wayang, tetapi justru meninggal tragis. Dari awal memang beliau tidak menyukai Andrew dan saat inilah waktu yang tepat untuk membuat ia terusir.
"Em, itu, Pa ...." Andrew kehilangan kata-kata.
"Security, cepat usir mereka!'
Sementara itu Mama Eva terlihat ketakutan mendengar teriakan besannya. Beliau tidak mau hidup miskin lagi setelah ini.
"Tunggu dulu, kenapa kalian juga mengusir Andrew. Bukankah lebih baik kita menyelamatkan gadis ini. Lihatlah! Darahnya begitu banyak!"
Tanpa mau mengotori tangannya, Mama Violla segera menelpon polisi dan juga Rumah Sakit. Ia benar-benar tidak mau ada penjahat di dalam rumah putrinya.
"Tega sekali, kau! Tanah makam Cassie masih basah tetapi kau justru membawa wanita lain ke dalam rumahnya!"
Akhirnya kata-kata itu meluncur dari bibir Nyonya Violla. Ia sudah tidak tahan lagi dengan sikap menantunya sama saja tidak berubah.
"Maaf, Pa. Maaf, Ma. Semua ini tidak seperti yang kalian pikirkan!" Andrew masih berkilah.
Tidak lama kemudian, terdengar suara sirene mobil polisi dan juga ambulans. Dengan cepat tenaga medis membawa tubuh Brigita dan juga Andrew untuk dimintai keterangan.
"Tuan, Nyonya tolong jangan bawa anak kami!"
"Lepas! Kalau kalian punya hati, seharusnya tidak melakukan ini pada putri kami!" ucapnya sambil menghempas tangan Mama Eva.
Tuan Hendra memegang bahu istrinya, "Biarkan saja, lagi pula siapa suruh Andrew berulah!"
"Pa! Tutup mulutmu!"
......................
"Tidak apa-apa jika kehilangan daya, yang terpenting mereka akan mendekam di penjara setelah ini," ucap Cassie sambil melihat laporan sistem di kepalanya.
"Terima kasih sistem. Berkatmu semua balas dendam ini terasa begitu menyenangkan."
...[Sama-sama, Nona]...
Padahal sesungguhnya ia tidak sakit, hanya sedang membutuhkan asupan energi untuk memaksimalkan kinerja sistem balas dendam Dewi Kematian.
"Jika kamu percaya kehidupan kedua itu ada, maka kamu satu server dengan Cassie."
Rupanya Devon membuat jiwa manusia Cassie perlahan terasa.
...Di kamar Devon....
Devon masih membayangkan betapa nikmatnya ketika berciuman dengan Cassie. Wanita manis itu memang penuh teka-teki, tetapi cukup membuat Devon berubah.
"Gila! Tubuhku benar-benar tidak bisa bergerak! Bagian yang disentuh gadis ini seperti disetrum! Kekuatan pesonanya begitu luar biasa," gumam Devon.
Cassie terlihat malu-malu, ditambah lagi ia tadi begitu memaksa. Belum lagi tatapan Devon seolah mengunci pergerakan tubuhnya.
Kini kecanggungan terjadi di antara dua insan berbeda gender tersebut. Sesekali Cassie melirik ke arah Devon, begitu pula sebaliknya.
Manik mata Cassie seolah melihat hal mengganjal di cela paha Devon. Di sana ada bagian yang menonjol di antara kedua kaki Devon. Seketika sistem aktif dan membisikkan sesuatu pada Cassie.
...[Ehem, deteksi sistem mulai aktif]...
...[Nona jangan banyak bergerak, Tuan di depanmu sedang dalam mode aktif. Jika tersentuh sedikit saja maka secara otomatis naga api di dalamnya akan membakar tubuhmu]...
Sontak saja Cassie ketakutan dan menarik kembali tangannya dari kedua paha Devon. Cassie pun tidak sadar sejak kapan tangannya nakal sampai berjalan di paha Devon.
...[Pengetahuan tambahan, kondisi Tuan Devon saat ini sangat sensitif. Sedikit saja mendapatkan sentuhan wanita, maka cacing Tuan Devon akan menggeliat, berubah menjadi keras dan besar seperti naga api. Ini dinamakan respons fisiologis]...
"Bengek! Dasar sistem mesum!" pekik Cassie kesal.
Benar saja, wajah Devon sudah memerah, karena mendadak kebingungan untuk menjinakkan naga api miliknya. Ia juga terkejut karena hanya dengan berdekatan dengan Cassie, ia sudah berubah bentuk dan mulai aktif.
Saat ini, tatapan Devon seolah lain kepada Cassie berubah aneh. "Jika bukan karena bagian yang disentuh Cassie seperti sedang di setrum, mana mungkin ia akan bereaksi seperti ini."
...[Kluntang ... klunting]...
...[Nona tidak usah khawatir, sistem tahu cara mengatasi hal ini, bahkan membuat Tuan Devon sangat puas terhadap Nona]...
"Jangan berpikiran macam-macam, sistem! Aku bukan wanita penggoda!"
Bayangan berduaan bersama lelaki seketika membuat ingatan masa lalu Cassie bangkit. Sebuah kenangan bagaimana dulu Andrew sangat mencintainya. Sontak Cassie menggelengkan kepala secara cepat.
"Ada apa, Cassie?" tanya Devon terkejut.
Ia benar-benar khawatir dengan sikap Cassie yang tiba-tiba pucat, tiba-tiba kebingungan.
"Eh, tidak apa-apa," ucap Cassie Sontan.
Jujur saja, detak jantung Cassie sedang berdisco saat ini. Belum lagi perhatian Devon melemahkan kekuatan sistem balas dendamnya.
Saat keduanya terasa canggung dalam berucap, beruntung Mbok Sarinah datang untuk memanggilnya sarapan pagi. Tampak beliau mengetuk pintu kamar pemilik rumah terlebih dahulu.
Akan tetapi, suara cemprengnya membuat cacing dalam perut Cassie meronta. Wajar, karena ia belum sarapan.
"Tuan Besar, makannya sudah siap!"
"I-iya, Bik. Sebentar lagi aku turun."
"Baiklah kalau begitu, Tuan Besar. Simbok turun dulu."
"Ya, jangan lupa ajak Brian sekalian!"
Devon menoleh pada Cassie. "Kamu istirahatlah dulu di sini, biar nanti Mbok Sarinah yang akan membawakan sarapan untukmu."
"Em, baik, Tuan."