
Apa yang ditakutkan Cassie terjadi. Meskipun Andrew tidak terluka tetapi ia justru mengalami hilang ingatan akibat insiden tersebut.
Entah mengapa hati Cassie mengatakan jika ada hal yang menganggu perasaan sehingga justru membuat hatinya sakit. Seolah ingatan masa lalu saat bersama dengan Andrew kembali berputar-putar. Membuat hati dan pikirannya tidak sejalan.
"Apakah masih ada rasa cinta di dalam sini?" tanyanya dalam hati kecil.
Cassie menepuk-nepuk dadanya berulang kali agar perasaan itu segera menghilang. Namun, hasilnya sama saja dan sukses membuatnya semakin sakit.
Devon hanya bisa melihatnya dari balik pintu. sambil sesekali memperhatikan betapa banyak hal yang membuat ia harus merendahkan hati dan ego agar bisa menyelami kedalaman hati Cassie.
"Perempuan memang unik, tidak pernah membuat siapapun berhasil membaca pikirannya."
"Apakah bisa rasa ini menjadi satu dan bersamayam di dalam hatinya?"
Tepukan halus dari Jo membuat Devon hampir berjingkat karena rasa terkejut. Entah mengapa ingin rasanya Devon melempar asisten pribadinya itu ke luar angkasa. Apalagi di setiap kemunculannya selalu saja membuyarkan suasana.
"Sekali-kali bisa nggak sih, jangan buat orang jantungan! Bisa-bisa saya mati muda kalau terus begini!"
Bukannya takut, Jo justru tertawa terbahak-bahak karena hal itu. Sama sekali tidak terlihat ketakutan di dalam wajahnya.
"Jika Tuan ingin melemparkan saya ke luar negeri, apakah Tuan sanggup mengerjakan semua pekerjaan yang datang mendadak?"
Devon memicingkan matanya lalu mengabaikan Jo yang sedari tadi mengomel mirip ibu-ibu yang sedang datang bulan. Sambil memijit pelipisnya Devon mengarahkan langkahnya menuju kamar tidur.
Di sisi lain, penderitaan Andrew tidak hanya sampai di situ. Rupanya ia justru tetap ditahan oleh pihak kepolisian. Pembacaan putusan dari hakim akan diberikan satu Minggu lagi. Meskipun ia dinyatakan hilang ingatan, tetapi tidak merubah keputusan hakim.
"Bagaimana ini, kenapa proses hukum masih terjadi, Pa?"
Tuan Hendra tampak meninggalkan istrinya yang sedang sedih. Ingin rasanya ia memukul suaminya, tetapi apa daya, pikirannya hanya berfokus pada putra semata wayangnya. Bahkan ia tidak mau melihat bagaimana rasanya menjadi seorang ibu.
"Andrew, meskipun kamu tidak suka dengan keadaan ini. Mama berharap kamu tidak akan marah dengan keputusan hakim kali ini."
Mama Eva akhirnya meninggalkan putra semata wayangnya di dalam jeruji besi. Namun, dendam masih membara di dalam hatinya.
Ia berjalan dengan langkah cepat sambil menunggu taksi yang lewat. Tujuan utamanya adalah mengunjungi kediaman Cassie.
"Tunggu pembalasan dari Mama, Cassie. Beraninya kamu kembali dan membalaskan dendam pada putra kesayangan Mama!"
Tidak berapa lama kemudian taksi pun lewat di depan Mama Eva dan ia langsung masuk ke dalamnya dan menyuruh sang sopir untuk menuju kediaman Cassie.
......................
...Apartemen Cassie....
Terlihat jika saat ini Devon sedang bersantai di ruang kerjanya. Setelah beberapa saat lalu ia disibukkan oleh Jo yang terus mengganggu dengan berjuta berkas-berkas penting dari perusahaan.
Memang selama beberapa hari ini, Devon memang tidak masuk kerja. Ia lebih memilih untuk menemani Cassie untuk menenangkan jiwanya, yang mana telah melihat mantan suaminya justru mengalami kecelakaan dan saat ini sedang mengalami amnesia.
Namun, meskipun begitu ia merasa bahagia karena saat ini Andrew sudah mendekam di penjara dan keputusan hakim tidak bisa diganggu gugat. Meskipun dia sudah menggunakan pengacara terkenal, tetapi tidak bisa membantunya untuk keluar dari bilik kesakitan tersebut.
"Rasakan setiap kesakitan itu, baru kamu bisa merasakan bagaimana rasanya kehilangan calon anak kita!"