
Rupanya dari kaca spion, Devon bisa melihat jika tadinya ada sebuah mobil yang hendak menabrak mobilnya.
"Kenapa mobil itu sangat familiar?" gumamnya.
Cassie yang melihat hal itu bisa membaca dengan sangat jelas ada kecurigaan di dalam mata Devon. Seketika ekor matanya mampu menembus kaca mobilnya dan melihat jika mobil Andrew ada di belakang.
Senyum Cassie tersungging sempurna, dan mampu membuat sosok yang berada di dalam mobil dan tidak jauh darinya itu seketika merinding. Bulu kuduknya tiba-tiba saja meremang dan membuat ia kehilangan kendali.
...[System balas dendam Dewi Kematian diaktifkan]...
...[Target utama : Mobil Hyundai dengan nomor plat XXX, siap diretas]...
...[Misi pertama : rem blong, done]...
...[Misi kedua : kebocoran bahan bakar, done]...
...[Misi ketiga : semua pintu terkunci otomatis]...
...[Mobil siap diledakkan]...
...[Menghitung mundur, 10, 9, 8, 7, 6, 5, 4 ....]...
"Stop!"
Tiba-tiba saja Cassie berteriak. Secara otomatis Devon menginjak rem mobil dengan spontan hingga terdengar bunyi decitan ban mobil yang beradu dengan aspal.
Cassie menolak pemindaian sistem yang akan membuat Andrew mati dalam satu kali kecelakaan. Meskipun cara itu cukup jitu, tetapi ia tidak mungkin membuat mantan suaminya itu mati dengan cepat.
Masih ada banyak hal yang ingin ia tunjukan sebelum Cassie benar-benar menuntaskan balas dendamnya. Lagi pula, ini bukanlah waktu yang tepat untuk melakukan semua itu.
"Ada apa, Cassie?" tanya Devon panik ketika melihat raut wajah Cassie seputih kertas.
Cassie menggeleng perlahan, bibirnya terkatup sempurna. Baginya menjelaskan hal itu tidak akan ada artinya. Maka dari itu Cassie lebih memilih untuk diam.
Devon yang sangat perasa bisa memahami keadaan Cassie. Ada banyak ketakutan di masa lalunya yang mungkin saja membuat trauma di hatinya.
"Sebaiknya kita tidak usah ke apartemen, apakah kamu mempunyai tempat tujuan lain?"
Cassie lagi-lagi menggeleng. Ada rasa yang tidak nyaman menjalar di dalam tubuhnya. Perdebatan antara alam bawah sadar dan sistem membuat hatinya goyah.
...[Memangnya kenapa, Nona? Bukankah ini adalah keinginan utama untuk Nona balas dendam?]...
"Tapi tidak begini, sistem. Apalagi menghukum ya semudah itu!"
...[Baik, jika Nona memiliki cara lain, silakan! Akan tetapi sistem tidak bisa membantu lagi setelah Nona membatalkan misi ini!]...
Seketika kedua bola mata Cassie terbelalak ketika menyadari sistem memberikan ancaman baginya.
"Kalau begitu lakukan semua misi, kecuali mengunci pintu mobil. Biarkan ia meloloskan diri ketika mobilnya meledak!" ucap Cassie tertunduk.
...[Baik, sistem pengoperasian misi kembali diaktifkan]...
...[Progres loading ... 100% full]...
Tanpa Devon sadari, kini sistem mulai bekerja dan aktif. Sementara itu Cassie tetap terdiam di tempatnya. Devon juga tidak mengatakan apapun lagi kali ini.
Ia terdiam cukup lama dan tidak mau menganggu Cassie lagi. Membiarkan wanita itu dalam dunianya sendiri agar bisa kembali cerita seperti sebelumnya.
Belum terlalu jauh mobil Devon melaju, terdengar ledakan cukup keras hingga membuatnya berhenti lagi. Ia menoleh ke belakang dan memastikan apa yang terjadi di sana. Betapa terkejutnya Devon melihat kejadian mengerikan itu.
"Astaga, apa yang sebenarnya terjadi saat ini?" gumam Devon ketakutan.
Devon tidak menyangka jika mobil yang dikendarai Andrew meledak. Hal itu membuatnya reflek memeluk tubuh Cassie dan mendekapnya agar ia tidak melihat kejadian mengerikan itu.
"Jangan melihat ke belakang! Semuanya akan baik-baik saja!"
Tubuh Cassie mengigil kedinginan. Rasanya ia tidak bisa mencerna perkataan Devon kali ini. Apa yang ia takutkan terjadi dan membuatnya menjadi mesin pembunuh.
"Tuhan, apa yang telah terjadi? Bukankah tadi terjadi pembatalan misi? Kenapa semuanya tetap terjadi?"
Ada perasaan bersalah yang bergelayut di dalam pikiran Cassie. Namun, kepuasan juga terjadi sehingga ia tidak mau menyalahkan semuanya pada sistem.
"Sudahlah, semuanya akan baik-baik saja," doa Cassie di dalam hati.
Memang benar semuanya akan terasa lebih indah setelah misi balas dendamnya terlaksana. Di tambah lagi itu terjadi pada mantan suaminya, Andrew. Hal itu memang sangat pantas terjadi.
"Semoga saja, semuanya akan baik-baik saja!"