
Tidak suka melihat Cassie menolong Asep, dengan cepat Devon naik ke lantai atas dan membanting pintu kamar tidurnya. Suaranya sangat keras hingga membuat Cassie harus menutup kedua telinganya.
"Apa-apaan ini! Bisa-bisanya Cassie membuat marah!"
Devon tampak melempar tas kerjanya ke sembarang arah. Salah satu tangannya melonggarkan ikatan dasi miliknya. Suara nafasnya saja terdengar mendengkus kesal, terdengar memburu. Mungkin saja jika diibaratkan kedua telinganya sudah pasti mengeluarkan asap.
"Kenapa harus dengan Asep! nggak spadan banget!" Devon yang kesal tampak mondar-mandir ke sana kemari.
Ingin rasanya Devon segera mempersunting Cassie agar bisa secepatnya memiliki keluarga kecil yang bahagia. Ada satu hal lagi yang memperkuat keinginannya yaitu agar tidak ada yang mengganggu hubungan mereka.
Di sisi lain, Cassie sama sekali tidak berniat menjalin hubungan serius. Kehidupan keduanya kali ini hanya demi membalaskan dendam pada kedua manusia berhati iblis itu. Kehidupan di masa lalu telah memberikan banyak pelajaran bagi Cassie. Membedakan manusia yang baik dan bermuka dua.
Ada banyak kemungkinan yang mempengaruhi pribadi seseorang. Salah duanya adalah pengkhianatan dan perselingkuhan. Jika Cassie dulu adalah pribadi yang baik dan tidak mau berpikiran buruk pada orang lain, kini Cassie yang baru hanya mempunyai jiwa balas dendam.
Wajah yang manis dan cantik miliknya mampu memikat banyak lelaki. Namun, hatinya sudah mati untuk sesuatu yang namanya cinta. Menjalin hubungan dengan Devon bukanlah sebuah kesalahan, tetapi sebuah kewajiban. Apalagi Devon adalah asupan energi utama baginya.
Menatap masa depan bersama orang terkasih adalah impian utama saat ini. Sama seperti keinginan Devon adalah bisa segera merajut asa bersama Cassie.
Setelah banyak menimbang ini dan itu akhirnya Devon lebih memilih untuk membawa Cassie pergi ke apartemen miliknya. Entah mengapa jiwa kelakiannya membuatnya begitu.
"Tampaknya, Cassie harus segera diberikan pelajaran!" ucapnya geram.
Sementara itu di lantai bawah Asep yang menyadari posisinya segera menarik diri dan memilih untuk mendekati Mbok Sarinah. Ia tidak mungkin melawan sang pemilik rumah yang notabene sangat kasar dan tegas pada pekerja. Di tambah lagi Mbok Sarinah sudah pernah mengingatkan posisi Asep di rumah itu.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Cassie sambil menarik Asep untuk bangun.
Asep benar-benar tidak berani memandang ke arah Cassie. Bahkan ia pun menyambut uluran tangan dari Mbok Sarinah daripada tangan Cassie. Beruntung, Cassie tidak marah dan paham kenapa Asep bersikap demikian.
Di sisi lain Brian juga tersulut emosi ketika Cassie lebih memilih menolong Asep daripada terus bersamanya untuk sarapan pagi. Gemerutuk giginya dan dentingan garpu yang nyaring benar-benar memberi tahukan jika ia sedang marah.
Bukannya menjauh, Cassie justru menyusul langkah Asep. "Ada apa, Sep? Apa kamu sakit?"
"Ti-tidak, Nona. Hanya saja saya telah melakukan kesalahan. Saya benar-benar minta maaf," ucapnya sambil menunduk.
Cassie tersenyum dan menepuk bahu Asep. "Lain kali kalau kerja yang fokus. Kamu tau sendiri kan kalau Tuan Devon selalu menginginkan sesuatu hal yang sempurna."
"I-iya, Nona."
Entah mengapa Asep tidak berani memandang Cassie. Di sisi lain, Devon yang semula marah justru kembali turun dan langsung menarik tubuh Cassie. Mengajaknya pergi dengan segera meninggalkan Brian dan yang lainnya.
Terkejut tentu saja, tetapi semua hal yang diberikan ataupun terjadi di rumah Devon semuanya murni dari dalam hati dan Cassie sadar akan hal itu. Maka dari itu Cassie teramat hafal dengan segala perilaku pemilik rumah.
Langkah kaki yang terburu-buru membuat Cassie hampir jatuh kalau tidak ditangkap oleh Devon yang selalu siap siaga. "Pinter banget, sih cari perhatian dari--"
Ucapan Devon terpotong ketika Cassie tiba-tiba saja mencium bibir Devon dengan lembut lalu mengulas senyum maut kepadanya. Bagaikan menemukan oase di tengah gurun, Devon benar-benar terjerat pesona cinta dari Cassie dan seketika amarahnya menguap begitu saja.
Padahal kenyataannya, Cassie sedang melakukan charge pada daya sistem. Ia tidak mau kecolongan lagi dengan kehilangan asupan energi yang sangat lezat itu. Maka dari itu ia pun mengeluarkan jurus buaya betina.
Cassie kembali mencium bibir Devon. Lelaki Asia berkulit putih sebening giok kaca itu terkena racun cinta dari Cassie dan menanggapi ciuman darinya. Secara otomatis pula energi Cassie bertambah.
...<>...........<>...........<>...
...[Peningkatan daya berhasil]...
...[Status daya : 80%]...
...[Hadiah kejutan: 7x voucher gratis spa body dan treatment di Gayatri Spa Bali, uang senilai 20 juta rupiah, skill 7 ekspresi tipuan dan tidak terbaca musuh, skill buaya betina aktif]...
...<>...........<>..........<>...
...[Selamat bersenang-senang, Nona]...
Decapan demi decapan mengalun indah di halaman rumah Devon. Bahkan tanpa malu Devon memperdalam ciumannya. Keduanya tampak saling menikmati satu sama lain. Cassie pun tidak mendengar pemberitahuan dari sistem.
...[Ya, ampun Nona. Bisa nggak sih natural aja, ada sistem yang menyatu di dalam tubuh Nona dan bisa saja konslet jika Nona terlalu berlebihan]...
...[Ya salam, sistem dicuekin. Ya sudah, bye]...
"Kenapa merasa ada yang aneh, sih?" gumam Brian.
Selera makan yang sudah menguap, membuat Brian ingin kembali ke kamar. Kebetulan kaca di tangga mengarah ke halaman rumah. Tempat dimana Cassie dan Devon sedang bercumbu mesra.
Brian yang tidak sengaja melihat aksi mereka semakin terbakar cemburu. Namun, Brian tidak mempunyai kesempatan untuk mengutarakan isi hatinya. Terlebih saat ini Devon sangat mencintai Cassie. Ia pun segera naik ke lantai dua.
Seharusnya kalian tahu dan paham jika mencintai calon istri kakak ipar adalah hal yang tidak boleh dilakukan oleh siapapun. Brian hanyalah sebuah tempat pelarian bagi Cassie. Jika boleh memilih tentu saja Brian tidak akan mau jatuh cinta. Sayang, Cassie adalah wanita pertama yang mencuri ciuman darinya. Sehingga sangat wajar jika Brian pun menaruh hati pada Cassie.
Akan tetapi, jika Tuhan membalikan keadaan, apakah ia akan tetap dan tidak akan pernah mendapatkan haknya? Sungguh, Brian juga tidak pernah mau menjadi pria yang malang.
Brian mengusap gusar wajahnya lalu bergegas pergi kembali ke kamar. Di luar rumah, Cassie dan Devon tampak terengah-engah setelah aksinya tadi. Tampak sekali jika tidak ada persiapan sebelumnya sehingga Cassie justru dan Devon tampak kehabisan nafas.
Salah satu tangan Cassie mengusap sisa-sisa ciumannya, tetapi ditahan oleh Devon. "Kita lanjutkan di apartemen saja!"
"Ha-ah, dasar lelaki psiko!" umpat Cassie kesal di dalam hatinya.
Hampir saja kedua mata Cassie terbelalak karena aksi Devon. Akan tetapi, demi menghindari kebrutalan lelaki di depan rumahnya ia pun menurut.
Sebenarnya Cassie tidak mau terlalu ikut campur dan berpura-pura terlihat patuh. Namun, Devon justru mengikatnya dengan cukup dalam sehingga Cassie tidak bisa memilih dan justru terlihat penurut.
Mobil Devon segera keluar dari kediamannya. Tidak disangka, mantan suami Cassie, Andrew melihat mobil yang dikendarai keduanya.
"Bukankah itu Cassie? Sebaiknya dilakukan saat ini saja sesuai dengan permintaan dari Tuhan!"
Dengan kecepatan cukup tinggi, mobil itu melaju dan hampir saja menabrak mobil Cassie. Beruntung sistem mengetahui hal itu dan merubah arah laju kendaraan Andrew.
Suara decitan mobil terdengar nyaring di telinga. Namun, Andrew sudah lebih dulu membanting stir kemudi dan ia selamat.
"Sial, sebenarnya dia punya apa, sih? Kenapa sama sekali tidak bisa dilukai!" ucapnya geram.