Gairah Psikopat Cantik

Gairah Psikopat Cantik
Chapter 16


Balas dendam bukanlah sebuah hal yang baik dalam kehidupan. Akan tetapi, sesuatu yang tidak adil dan justru membuat seseorang terluka adalah hal yang salah. Maka dari itu semuanya harus dibalas sesuai perbuatan mereka.


Cassie adalah gadis yang baik. Dibekali ilmu dan pengajaran yang terbaik dari kedua orang tuanya. Namun, takdir membuat ia terpaksa memilih lelaki yang salah.


"Andai dulu mendengarkan semua nasehat Papa mungkin semua ini tidak akan terjadi."


Tangan yang sangat lembut itu terpaksa harus ternoda oleh darah para pendosa.


Setelah mendapat kebebasan bersyarat selama dua hari, kini Andrew bebas berjalan di luar sana. Menghirup udara kebebasan terasa sangat nikmat kali ini. Apalagi dengan dibantu Mama Eva, Andrew berniat mencelakai Cassie sekali lagi.


"Aneh, jika bukan dia yang dimakamkan di sini lalu siapa lagi?"


Mama Eva yang semula berdiri sangat jauh dari putranya kini mulai mendekati dan berjongkok tepat di samping sebelah kanan Andrew.


"Pihak medis juga sudah memastikan jika Cassie benar-benar dikuburkan di sini. Namun, entah mengapa Mama yakin jika yang pernah kita lihat juga adalah Cassie yang asli."


Andrew menoleh ke arah mamanya. "Lalu, apa yang harus dilakukan. Waktu kebebasan dari pengadilan hanya dua hari."


"Tenanglah, untuk hal yang satu ini, cukup percaya pada mama. Selebihnya kamu bisa melakukan aksi balas dendam." Mama Eva tampak tersenyum menyeringai.


Entah mengapa, jiwa keibuannya menghilang bersamaan dengan harta Andrew yang dibekukan oleh pihak Mama Violla, mamanya Cassie. Tangannya terlihat mengepal.


"Awas saja kau Violla, sudah sejak lama hal ini ingin kami lakukan, tetapi sayang putrimu terlalu baik sehingga mudah bagi kami untuk mengelabuinya."


Andrew yang jengah dengan situasi saat ini segera melangkah pergi meninggalkan Mama Eva yang terlalu banyak berpikir. Menyadari jika sang putra justru meninggalkan dirinya membuat ia panik.


"Andrew kamu tuh kebiasaan. Sudah tau mama sedang berpikir, tetapi kamu justru membuat mama kesal!"


"Sorry, waktu dua kali dua puluh empat jam benar-benar membuat setiap detik yang terlewat seperti terbuang sia-sia."


"Dah, cuzz berangkat!"


......................


Asep yang kebetulan membantu Mbok Sarinah memasak menjadi mati kutu. Ia benar-benar merutuki kebodohannya semalam yang membiarkan burung kenarinya lupa masuk dalam sangkar. Alhasil kini untuk menatap Cassie pun tidak berani.


Lain halnya dengan Cassie yang sudah dibekali sistem membaca pikiran saat ini justru tertawa melihat keadaan Asep yang berubah menjadi canggung.


"Aduh, kenapa Non Cassie membuat jantung Asep semakin tidak sehat'!" rutuk Asep di dalam hati.


Akhirnya panggilan Cassie membuat Asep terjingkat.


"Mang Asep, sini dong. Boleh minta tolong ambilin buah jeruk di kulkas?"


"Boleh tunggu sebentar ya, Non."


Tiba-tiba saja sistem berbunyi, dan hampir membuat Cassie tersedak minum.


...[Misi sampingan dan tidak dapat ditolak]...


...[Kluntang ... Klunting]...


...<>...........<>...........<>...


...[Misi : Buat Asep mendapatkan maaf dari Brian sekaligus membuatnya cemburu. Hal ini akan bermanfaat untuk kelancaran misi Nona selanjutnya]...


...[Batas waktu: 1 hari]...


...[hukuman: Tuan Devon semakin cemburu dan kebebasan Nona akan hilang hingga terpenjara]...


...[hadiah: 5.000 poin sistem, skill pendengaran menajam dan penglihatan Dewi]...


...<>...........<>..........<>...


...[Apakah host mau menerimanya?]...


...[Ya/Tidak?]...


"Kenapa harus Brian? Bukankah dengan mengendalikan Devon saja sudah lebih dari cukup? Kenapa harus membuat Brian cemburu?


...[Maaf, Nona banyak bertanya bisa memotong saldo]...


"Astaga, kenapa harus menjadi wanita murahan!" pekik Cassie kesal.


Bagaikan tidak mendengar kemarahan Cassie, sistem justru mengabaikan dan membuat Cassie semakin uring-uringan.


...[Apakah tetap melanjutkan pertanyaan dari sistem?]...


"Sudah, sudah. Sebaiknya tidak bertanya padamu. Lagi pula skill kecerdasan sistem sudah terupdate."


...[Bagaimana, Nona?]...


...[Ya, misi diterima]...


Dengan cepat Cassie mencoba menolong Asep, tentu saja hal itu membuat Devon sekaligus Brian cemburu dengan sikap Cassie yang membantu orang lain.


Padahal saat itu kebetulan Devon baru saja pulang. Badan yang lelah membuatnya tidak ingin menambah permasalahannya. Sehingga ia pun mengabaikan Cassie dan memilih untuk cepat naik ke atas.


"Ada apa sih, wajahnya sudah sewot gitu. Pasti ada hal yang salah," gumam Cassie kebingungan.