Gairah Psikopat Cantik

Gairah Psikopat Cantik
Chapter 11


"Bagaimana ini, Pa. Kenapa masalah datang silih berganti?"


"Pikirkan akibatnya sebelum kamu bertindak. Hampir semua hal yang pernah Papa katakan rupanya tidak pernah kau hiraukan!"


"Sekarang bukan waktunya berdebat, harusnya Papa bisa membantu--"


"Membantumu keluar dari situ! Jangan harap!"


"Pa--"


"Ya, sejak dulu Papa salah telah memanjakanmu, sekarang waktunya kau berkaca dan berani mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu sendiri."


Andrew tampak memijit pelipisnya. Ia tidak menyangka kebusukan yang selama ini dipendam satu persatu mulai terbongkar. Belum lagi sikap mertuanya yang justru langsung memecatnya dari jabatan CEO.


"Bagaimana dengan Keluarga Brigita, mereka pasti syok jika mengetahui calon menantunya justru mendekam di penjara. Belum lagi saat ini ia juga sedang keguguran."


Andrew tampak mengacak rambutnya karena kesal. Penampilannya terlihat acak-acakan, sangat kotor dan kumal.


Ia sudah tidak mempunyai muka lagi untuk melamar Brigita, gadis pujaan hatinya. Saat pernikahan dengan Cassie terasa hambar, gadis belia itu datang dan memberikan sejuta kebahagiaan.


Bahkan saat terakhir bertemu ia mengatakan jika di dalam rahimnya ada calon keturunannya. Akan tetapi, semua hancur saat hantu Cassie kembali.


"Tidak mungkin jika dia hantu, bahkan saat tersentuh tangannya masih terasa hangat," gumam Andrew mencoba menolak pemikiran logisnya.


Tuan Hendra paham jika sang putra tidak bisa menerima semua kejadian di luar nalar itu. Beberapa kali bertemu dengan sosok Cassie, ia sangat paham jika menantunya tersebut tidak meninggal.


"Andai saja kamu bisa menjaga nafsu, semua tidak akan bertambah runyam seperti ini. Tahukah kamu, bahkan semua aset milik Cassie yang semula dipinjamkan untukmu, kini sudah ditarik kembali."


"Kenapa bisa begitu, ini sangat tidak adil!"


Andrew tampak mencengkeram erat jeruji besi di depannya. Ingin rasanya segera menemui hantu Cassie. Bak seperti terpanggil, Cassie benar-benar muncul di depan Andrew.


Suara tepukan tangan terdengar menggema di lorong bilik pesakitan tersebut. Langkah kaki yang teratur dan terdengar semakin mendekat membuat Andrew dan Tuan Hendra mengeluarkan keringat dingin.


Menelan salivanya dalam-dalam karena sosok yang mereka bicarakan langsung muncul seketika. Sosok Cassie benar-benar terlihat lain. Auranya sangat berbeda rasa.


"Ca-Cassie, kenapa kau bisa berada di sini?" ucap Andrew tampak terbata.


"Kenapa, tidak? Apakah tempat ini juga milikmu sehingga hanya kau yang pantas berteriak dan bersikap tidak sopan kepada tamu?"


"Tamu, ha ha ha ...."


Terdengar tawa sumbang dari Andrew. Sepertinya ia memang sudah kehilangan akal. Kata-kata yang terlontar sama sekali tidak terlihat kecerdasannya lagi.


...[Sepertinya dia sudah putus asa dengan hidupnya. Apakah Nona ingin melanjutkan balasa dendam?]...


"Tentu saja, iya. Kenapa harus berhenti. Semua yang dimulai harus diakhiri dengan sempurna."


Terlihat aura kejam dari sorot mata Cassie. Kelembutan yang pernah ada di dalam hatinya kini sudah sirna semuanya. Beberapa hal yang tersisa hanyalah dendam dan balas dendam.


"Tertawalah selama kamu mampu. Bersyukurlah saat Tuhan tidak mengambil nyawamu saat ini. Akan tetapi, ingatlah jika ia bisa mengambil nyawamu setiap saat!"


...[Apakah Nona menginginkan pasangan brengsek itu sengsara]...


"Tentu saja sistem! Buat mereka mati dengan tragis! Jika perlu hidup tak mau mati pun segan!" ucapnya penuh kilatan amarah.


...[Baik, dengan senang hati sistem akan membantu, Nona]...


...[Mengakses sistem]...


Di saat yang sama, Tuan Hendra melihat sosok lain yang terlihat di wajah menantunya itu. Akan tetapi, hal itu sangat wajar dan ia bisa menerima semua alasan yang mungkin akan dikemukakan oleh Cassie.


"Jika hal ini bisa membuat jiwamu tenang, maka lakukanlah, Nak. Papa akan selalu mendoakan kebaikan untukmu. Maafkan papa karena memberikan suami seperti Andrew. Maafkan, papa," ucap Tuan Hendra di dalam hatinya.


Meksipun Cassie bisa mendengar isi hati mertuanya, tetapi semua itu tidak akan menyurutkan niat hatinya untuk membuat Andrew membayar semua tindakannya dulu. Dengan cepat sistem memberikan misi kepada Cassie.


...[Kluntang ... Klunting]...


...[Misi utama diterima dan tidak bisa ditolak]...


...<>............<>...........<>...


...[Batas waktu: 1 Minggu]...


...[Hukuman: kehilangan respon Devon, kehilangan gairah pada lelaki]...


...[Hadiah: uang senilai 100 juta, 1 unit Apartemen Penthouse]...


...<>............<>...........<>...


...[Apakah Nona menerima misi?]...


...[Ya/Tidak]...


"Ya, misi diterima."


Cassie tidak membuang waktu, semua berkas maupun rekapan data saat ia terbunuh sudah diterima oleh jaksa. Ia pun mengolah data dan akan digunakan untuk memberatkan Andrew dalam persidangan perdana.


"Semua bukti sudah terkirim. Tidak akan membutuhkan waktu lebih lama lagi untuk menunda sidang."


"Apa maksudmu?"


"Semua rekaman data saat kalian membunuh Nyonya Cassie sudah dikirim kepada jaksa. Semua data sudah diolah dan diproses, jadi nikmatilah waktumu yang tidak begitu lama, karena apa yang kamu tanam maka itulah yang akan kamu tuai!"


Tiba-tiba saja Andrew memegang dadanya yang terasa sesak. Lalu nafasnya mulai tidak teratur dan membuat ia seketika pingsan.


......................


...Ruang perawatan Brigita, Rumah Sakit...


Begitu pula dengan Brigita, meskipun ia belum pulih, tetapi pihak kejaksaan akan mengirimkan surat pemeriksaan sekaligus penangkapan kepadanya.


Saat ini ia sedang melihat berita terkini di internet. Betapa terkejutnya ketika namanya terseret dalam kasus kematian Cassie.


"Apa-apaan ini? Kenapa dia melibatkan dalam kasus pembunuhan Cassie? Siapa pula yang berani menunjukkan berita ini dan membuatnya seketika menjadi viral begini?"


Brigita mencengkeram tangannya dengan erat. Mengigit bibirnya karena sedang menahan amarah.


"Sial, ternyata masih ada orang dibalik perempuan sialan itu!"


"Sebenarnya siapa dia, kenapa banyak sekali yang berhubungan baik dengannya. Bahkan ketika ia sudah meninggal masih ada yang membantunya."


Banyak sekali pemikiran yang mengganggu Brigita, tetapi petugas sudah sampai di ruang rawatnya.


"Mau apa kalian di sini?"


"Maaf, ini surat penangkapan Anda!"


"Apa! No! Kalian jangan bertindak macam-macam! Cepat pergi!"


Meskipun memberontak, tetapi dengan dibantu petugas medis, akhirnya Brigita tetap bisa dibawa pergi.


"Lepas, kalian nggak liat kondisi saat ini, hah!"


Rupanya para petugas kepolisian tidak mengindahkan ucapan Brigita dan menjaganya dengan cukup ketat. Membuatnya dengan cepat masuk ke dalam mobil polisi dan segera membawanya pergi.


Cassie yang melihat dari layar hologram yang tersambung pada CCTV kamar Brigita tersenyum lepas. Apalagi ketika melihatnya meronta tetapi tidak bisa.


"Bersiaplah menerima semua kejutan dari sistem. Rasanya sangat tidak sabar melihat kau dan dia membalas semua perbuatan kalian di masa lalu. Sayang, ada orang tua yang harus menanggung semua tindakan kalian. Ck, sungguh miris!"


Setelah melihat mantan suaminya berselingkuh, rasa respect padanya menurun drastis. Sehingga ia pun tidak akan bisa hidup tenang selama rasa dendamnya belum terpenuhi. Beruntung ada sistem yang membantu dalam setiap langkahnya.


...[Kluntang ... klunting]...


...[Hadiah kejutan karena telah membuat Tuan Andrew terkena serangan jantung ringan dan Nona Brigita tertangkap sudah ditransfer ke dalam akun Nona]...


...[Hadiah kejutan senilai uang lima belas juta, dan juga undangan makan malam spesial dengan Tuan Devon sudah meluncur]...


...[Selamat bersenang-senang, Nona]...


"Tunggu dulu, sejak kapan hadiah berupa surat undangan?"