Gairah Psikopat Cantik

Gairah Psikopat Cantik
Chapter 2


Rupanya sebuah sistem memerlukan waktu pengisian data. Dengan cepat sistem memberikan instruksi pada Cassie.


...[Kluntang ... Klunting]...


...<>...........<>...........<>...


...[Misi Nona selanjutnya adalah waktu untuk meningkatan daya]...


Seketika langkah kaki Cassie terhenti karena ucapan dari sistem yang tersambung di kepalanya.


"Peningkatan daya apa?" tanyanya kebingungan.


...[Kluntang ... Klunting]...


...<>...........<>...........<>...


...[Peningkatan daya diperlukan karena sistem membutuhkan sejumlah energi untuk bisa berfungsi secara maksimal. Perangkat pengisi energi sistem adalah pria. Maka dari itu Nona harus sering berciuman]...


...[Di tambah lagi, Nona belum mempunyai skill dasar sehingga harus mengunakan cara satu ini yang sangat ampuh]...


"Gila!" pekik Cassie dengan raut wajah merah merona.


Mungkin bagi sistem ini adalah cara termudah, tetapi tidak dengan Cassie. Belum sempat ia berpikir, sistem sudah berbunyi kembali.


...[Kluntang ... Klunting]...


...<>...........<>...........<>...


...[Misi penting: Temukan pria tampan dan ajak dia ciuman selama lima menit, selama lima kali]...


...[Batas waktu: 1 hari]...


...[hukuman: kulit Nona akan terlihat keriput dan menua]...


...[hadiah: 10.000 poin sistem, skill senyuman maut, dan 10 poin skill, 10 poin tebar pesona, dan 10 poin kecerdasan]...


...<>...........<>..........<>...


...[Apakah host mau menerimanya?]...


...[Ya/Tidak?]...


Meskipun Cassie merupakan wanita yang sukses semasa hidupnya, tetapi ia sangat anti pada lelaki. Hanya Andrew lelaki satu-satunya yang pernah menjamah dirinya, tetapi justru mengantarkan pada kematian yang tidak terduga dan menghianati cinta suci darinya.


"Bengek, kenapa gue terjebak sistem seperti ini?"


Pemikiran logisnya mengatakan jika permintaan sistem tidak terlalu memberatkan. Akhirnya ia pun menekan tombol, ya.


...[Kluntang ... Klunting]...


...[Baik, Nona telah menerima misi]...


...[Selamat menjalankan misi]...


...[Progres misi (0/1)]...


...[Walaupun ini adalah Bug, tetapi tidak apa-apa selama masih bisa digunakan]...


Akan tetapi, Cassie tidak mendengar dengan jelas ucapan sistem barusan. Lalu dengan cepat ia mencari lelaki yang dekat dengannya.


Hanya dalam radius lima ratus meter, indera penciuman Cassie berfungsi dengan baik. Ia merasa jika tidak jauh darinya ia bisa menemukan lelaki yang mungkin bisa menjadi mangsanya.


Dengan cepat ia mengambil kesempatan itu. Seorang lelaki yang sedang selesai berenang di kolam pribadinya akan menjadi mangsanya untuk pertama kali. Tanpa ragu-ragu Cassie melompat pagar dan sampai di sana.


Cassie menelan salivanya dalam-dalam ketika melihat lelaki tampan berkulit putih tersebut sedang menyesap jus miliknya. Tanpa membuang waktu Cassie mendekati lelaki itu dan duduk di atas pangkuannya.


Tentu saja lelaki itu terkejut dan hampir berontak ketika Cassie mulai mendekatkan wajahnya. Salah satu tangannya meraih kimono mandi lelaki itu agar mendekat.


"Tuan, tolong bantu aku!" ucap Cassie dengan nafas memburu.


Belum sempat lelaki itu berbicara, Cassie sudah lebih dulu mendorong, hingga punggung Brian menyentuh kursi. Terjadilah aksi gila, karena Cassie mencium bibir lelaki asing itu dengan rakus.


Kebetulan Devon sedang mengajak teman bisnisnya ke rumah. Matanya membola ketika melihat aksi keponakannya di kolam renang, begitu pula dengan rekannya.


"Cassie! Mana mungkin! Dia 'kan sudah meninggal!" batin Andrew.


"Maaf, Tuan Andrew sepertinya kita salah tempat. Mari ke ruang kerja saja!" ajak Devon.


Mau berontak tidak bisa, tetapi Brian justru menikmati ciuman dari Cassie. Setelah lima kali berciuman akhirnya sistem kembali berbunyi.


...[Kluntang ... Klunting]...


...[Status]...


...<>...........<>...........<>...


...[Nama: Cassie Emersyn]...


...[Umur: 23 tahun]...


...[Stamina: 6]...


...[Kecerdasan: 35]...


...[Pesona: 60]...


...[Level sistem: Pemula(0/1000)]...


...[Inventaris: dapat menyembuhkan luka dan skill jari ajaib]...


...[Skill: bela diri taekwondo]...


...<>..........<>...........<>...


Cassie masih merasakan detak jantungnya bergejolak tajam. Namun, ia puas karena bisa menyelesaikan misi dengan sempurna.


...[Kluntang ... Klunting]...


...<>...........<>...........<>...


...[Misi: berhasil]...


...[Batas waktu: 1 hari]...


...[hadiah: 10.000 poin sistem, skill senyuman maut, dan 10 poin skill, 10 poin tebar pesona, dan 10 poin kecerdasan]...


...<>...........<>..........<>...


...[Selamat bersenang-senang, Nona]...


Seketika tenaga dalam tubuh Cassie meluap-luap. Awalnya sangat lemas, tetapi sekarang sangat kuat dan bersemangat.


Efek kenaikan stamina walaupun hanya satu poin, ternyata itu berdampak besar pada tubuh Cassie. Setelah mendapatkan energi yang full, Cassie segera pergi meninggalkannya untuk mencari tempat tinggal.


Melihat rumah yang besar, Cassie berniat untuk menumpang beberapa hari di sana. Sontak Cassie berbalik menuju lelaki yang sudah menjadi korban keganasannya tadi. Ia memasang wajah imut, tetapi lelaki tadi justru ketakutan.


Bayangan Cassie akan memakannya membuat jiwa kelakiannya hilang. Ia merangkak menjauh sesaat sebelum tangan Cassie berhasil menggapainya.


"Tolong, jangan sakiti aku!" pekiknya dengan raut wajah seputih kertas.


"Ya, ampun kenapa sih orang ini! Baru aja mau dibaikin," gumamnya.


Cassie berjongkok lalu mengulurkan tangannya, tetapi lelaki itu justru semakin menutupi wajahnya.


"Ya ampun, Mas. Aku cuma mau minta ijin tinggal di sini, masa nggak boleh?"


"Ha-ah! Pergi kamu! Aku nggak mau jadi korban kamu lagi!"


Cassie mengulum senyumnya. Ia amat sadar bagaimana tadi ia begitu bergejolak saat berciuman, sehingga membuat lelaki tadi tentu saja trauma.


Sementara itu Andrew mengepalkan tangannya. Ia terbakar api cemburu ketika melihat hal itu.


Devon menatap Andrew penuh curiga, tetapi membiarkannya.


"Tuan Muda, Anda kenapa?" tanya asisten rumah tangga Devon pada Brian.


"Mbok, tolong usir wanita ini, dia monster!"


Mbok Sarinah segera menoleh, tetapi ia tidak melihat monster. Beliau justru melihat Cassie yang sedang memasang wajah manisnya.


"Ya ampun cantik banget, Non. Maaf Nona siapa?"


Cassie mengulurkan tangannya ke arah Mbok Sarinah, "Nama saya Cassie, Mbok."


"Usir dia, Mbok!" teriak Brian dengan raut ketakutan.


Mbok Sarinah kebingungan dan tanpa sengaja berhasil membuka paksa tangan Brian yang semula menutup wajahnya. Kini terlihat jika bibir Brian jontor.


"Astaghfirullah, bibir Tuan Muda kenapa?"


Sorot mata Brian mengarah tajam ke arah Cassie. Belum sempat Brian berucap, Cassie sudah lebih dulu menjelaskan.


"Maaf, Mbok. Tadi saat sampai, Tuan Muda dikeroyok oleh ribuan tawon yang hinggap di bibirnya. Sepertinya para tawon itu justru menyengat dengan brutal."


"Dasar wanita penipu!" teriak Andrew dari belakang dengan tangan mengepal. Terlihat api cemburu di matanya.


Sontak Cassie menoleh, aura membunuhnya bangkit. Sorot matanya memerah dan siap beraksi.


"Lelaki bi*dap! Untuk apa dia di sini!"


Devon bertepuk tangan di belakang. Andrew yang tidak enak hati karena hilang kendali, segera meminta maaf pada Devon. Sementara itu Cassie memperbaiki penampilannya lalu menatap Andrew dengan tajam.


"Maaf, Tuan. Kenapa Anda mengucap kata-kata kotor! Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"


"Cassie, apa kau lupa suamimu ini?" ucap Andrew sambil menunjuk ke arah dirinya.


"Maaf, suami? Saya masih lajang, Tuan. Kalau Anda tidak percaya tanya saja pada dia!" ucapnya sambil menunjuk ke arah Brian.


Andrew pun menarik paksa tangan Cassie. Akan tetapi langsung diputar dan dibanting dalam sekali gerakan oleh Cassie yang sudah ahli bela diri. Semua karena ia sudah pandai membaca situasi yang akan terjadi.


Suara retakan tulang punggung Andrew ketika terbentur lantai begitu nyaring. Skill taekwondo hadiah dari sistem benar-benar berguna untuk Cassie.


"Jangan menyentuh wanita sembarangan! Lagi pula saya tidak mengenal Anda!"


Andrew yang kesakitan dengan punggungnya masih mencoba berdiri. Akan tetapi, Cassie tidak membiarkan mantan suaminya bangkit.


Cassie melompat ke atas lalu berputar dan sukses menghadiahi wajah Andrew dengan sebuah tendangan. Hingga membuatnya memekik kesakitan dan sudut bibirnya berdarah.


"Ini adalah balasan dari rasa sakit seorang istri yang tersakiti!" gumamnya sambil menyeringai.