Demon Lord Reborn

Demon Lord Reborn
Chapter 08: Desa Penampungan


“Oh, begitu, ya... Baiklah, aku mengerti. Kalau begitu, Astaroth, ayo kita lanjutkan perjalanan kita ke desa penampungan. Namun, ujung-ujungnya akan kubunuh kau, Astaroth! Demi mendapatkan takhta sebagai raja. Ha ha ha... Tidak lucu, ya?” Ucap Peace dengan wajah kecewa.


“...Lelucon macam apa itu? Bahkan roti yang terjatuhpun lebih lucu dari leluconmu itu, Peace.” Kata Astaroth dengan wajah heran. Ucapannya yang menyakitkan, membuat Peace semakin kecewa dan merasa tidak akan pernah mengeluarkan lelucon itu lagi.


“Tuan Peace, mengapa Anda tidak menyebut nama saya barusan? Apa Anda tidak membutuhkan saya untuk menjadi perisai di perjalanan? Tapi jika menyampingkan hal itu, lelucon Anda barusan sangatlah lucu, sampai-sampai, aku sulit menahan rasa tawa... Ha ha ha!” Ucap Gram sambil berguling-guling di tanah layaknya anak kecil.


“Kau ini mengejekku atau apa? Di dunia Vanaheim, tak ada seorangpun yang akan tertawa ketika mendengar lelucon itu.” Kata Peace dengan wajah masam.


“Astaroth, aku sudah tak tahan dengan tempat ini, ayo lekas pergi dari sini.” Ucap Peace dengan wajah datar. Kemudian, Astaroth langsung berjalan ke depan untuk melanjutkan perjalanan, diikuti Peace dan Gram.


Tiba-tiba, di tengah perjalanan yang tenang dan sunyi, muncullah Zombie berukuran normal dengan melompat dari semak-semak mengejutkan Astaroth. Dengan tenang dan santai, Gram melemparkan shuriken esnya ke tubuh Zombie yang membuat Zombie membeku di langit, kemudian, Zombie terjatuh yang membuat tubuhnya hancur berkeping-keping. Karena dibekukan, Zombie tak dapat beregenerasi atau bahkan bergerak sama sekali di tanah.


Pada saat itulah, Gram mengeluarkan jurus yang secara tiba-tiba, menciptakan sebuah sabit berapi digenggaman tangan kanannya. Kemudian, Gram mengayunkan Fiery Scythe ke salah satu bagian tubuh Zombie, meski begitu, api dari Fiery Scythe menyebar ke bagian tubuh lainnya yang membuat Zombie seketika musnah.


[Selamat! Level meningkat menjadi 84. Selamat! Fragment bertambah menjadi 7. Selamat! Skill tingkat B, Adaptation, berhasil didapatkan. Selamat! Skill tingkat B, Eternal, berhasil didapatkan. Selamat! Skill tingkat B, Grow, berhasil didapatkan.] Kata pelayan Gram kepadanya.


“Baiklah, Diamond. Omong-omong, jurusku barusan berasal dari Skill Ashes, dan api dari Fiery Scythe sendiri bisa memusnahkan tubuh, jiwa dan sejarah mereka, kurang lebih mirip dengan jurus Heitari yang biasanya dipakai Bile, monster api berkepala 3.” Ucap Gram sambil tersenyum ramah lalu menghilangkan Fiery Scythe-nya.


“Ya, seperti yang diharapkan darimu, Gram. Kalau begitu, ayo lanjutkan perjalanan kita.” Kata Peace. Kemudian, Astaroth kembali menuntun jalan, diikuti Peace di belakangnya.


“Baiklah, akan kuikuti kalian nanti, setelah menaikkan statistik. Status!” Ucap Gram, setelah berkata demikian, muncullah hologram Status di hadapannya.


...[Status]...


...Nama : ...Gram...


...Umur : 92 tahun...


...Ras : Iblis...


...Skill : Fly, Ashes, Poison King, Destiny, Causality Control, Blue, Adaptation, Eternal, Grow...


...Senjata : Tidak ada...


...Level : 84...


...‹ ›...


...Inventaris Statistik...


...[Keluar]...


Kemudian, Gram menekan tombol Statistik dan memutuskan untuk meningkatkan Strength-nya.


...[Statistik]...


...Fragment : 0...


...AGI : 21 [+]...


...VIT : 21 [+]...


...MP : 210 [+]...


...HP : 310...


...« ‹...


...Inventaris Status...


...[Keluar]...


Ternyata dari balik semak-semak, Peace dan Astaroth mengintip untuk melihat Status dan Statistik milik Gram. Kemudian, Astaroth berkata, “Sayang sekali, kita tidak bisa melihat nama depan Gram karena tertutup oleh tubuhnya.”


“Strength... 21, Agility... 21, Vitality... 21, Mana Point... 210, Health Point... 310, orang ini benar-benar luar biasa. Astaroth, kurasa cukup untuk mengawasinya, ayo lekas pergi dari sini, sebelum ia mengetahui keberadaan kita, walaupun aku sendiri yakin, bahwa dia telah mengetahui keberadaan kita di sini.” Ucap Peace dengan kagum terhadap sosok Gram lalu pergi dari semak-semak untuk melanjutkan perjalanan.


“Mereka mencurigaiku, ya? Sampai-sampai mengintip dari semak-semak. Hmm... Bagaimana caranya, ya... Tapi, bukan saatnya untukku memikirkan hal itu, aku harus segera mengikuti mereka, jika tidak, aku bisa ketinggalan.” Kata Gram dengan lirih lalu berjalan mengikuti jejak Peace dan Astaroth yang tercetak di tanah.


Di perjalanan, Peace bertanya kepada Gram, “Gram, apa kegunaan Destiny dan Causality Control? Dilihat dari namanya, mereka nampak sangat kuat.”


“Destiny adalah Skill yang memungkinkan penggunanya untuk memanipulasi takdir, namun, setelah Skill Destiny diaktifkan lalu digunakan, Skill Destiny tidak akan bisa digunakan lagi dan harus ditunggu selama 5 tahun untuk menggunakannya kembali, hal ini juga terjadi kepada Skill Causality Control, yang memungkinkan penggunanya untuk memanipulasi sistem sebab-akibat.” Jawab Gram sambil memalingkan wajahnya ke arah Peace.


“Skill yang luar biasa kuat, walaupun setelah digunakan, dibutuhkan waktu selama 5 tahun untuk menggunakannya kembali. Namun, apa tidak ada cara untuk mempersingkatnya? Jika secara mutlak harus menunggu 5 tahun, lama juga, sih.” Tanya Peace.


“Tentu saja ada, meskipun membutuhkan waktu yang lama. Jika kita terus menggunakan Skill yang memiliki waktu untuk digunakan kembali, semakin lama, Skill itu akan mengeluarkan kebangkitan aslinya yang biasa disebut Awakening. Manfaatnya adalah, meniadakan waktu untuk digunakan kembali dan memperkuat Skill dengan cara yang bermacam-macam.” Jawab Gram.


“Oh, begitu, ya. Omong-omong, dari mana kau mendapatkan Skill Destiny dan Skill Causality Control? Seharusnya dari monster yang sangat kuat, 'kan?” Tanya Peace.


“Skill Destiny dan Causality Control kudapatkan dari monster berlevel 20, namanya Wizard, dia kutemukan di pulau Whiteland, pulau yang terletak cukup dekat dari pulau tempat kita berada, pulau Simba. Omong-omong, saya melihat ada sebuah desa dari arah depan, selain itu, matahari juga nampak mulai terbenam, sebelum gelap, lebih baik kita menetap di sana terlebih dahulu.” Ucap Gram.


“Ya, kau benar, ada sebuah desa dari arah depan. Tentu saja, desa itu adalah desa penampungan. Omong-omong, aku akan pergi ke sana terlebih dahulu, kutunggu kalian di sana.” Kata Astaroth yang langsung berlari menghampiri gerbang desa penampungan.


Sementara itu, para ular yang berjaga di luar gerbang kebingungan seraya berkata, “Siapa dia? Mengapa tubuhnya dibaluti ular dengan hidung panjang yang menonjol...? J-Jangan bilang?! D-Dia adalah... Tuan Astaroth!” Ucap salah satu penjaga gerbang yang berbentuk ular sambil menghampiri Astaroth dengan rindu.


“Ya! Kau benar, dia adalah Tuan Astaroth! Raja dari para Ular Cerdas dan adalah raja dari kerajaan Ular Cerdas!” Kata penjaga gerbang di sebelahnya sambil menghampiri Astaroth dengan rasa rindu yang tak tertahankan.


Mereka bertigapun bertemu setelah sekian lamanya. Dengan kedua tangannya, Astaroth memeluk tubuh kedua penjaga gerbang yang berbentuk ular itu, sementara itu, kedua penjaga gerbang bertengger di pundak Astaroth.


“Tuan Astaroth! Lama tak jumpa! Aku bahkan sempat lupa tentang bentuk tubuhmu yang hebat itu! Namun, siapa mereka berdua, mengapa mereka berjalan ke sini bersama Anda? Apa jangan-jangan?! Anda ditawan oleh mereka?!” Tanya salah satu penjaga gerbang yang bertengger di pundak kanan Astaroth dengan heboh.


“Yang, jangan berkata demikian kepada kedua temanku, mereka datang ke sini sebagai aliansi, aliansi untuk meruntuhkan tembok pertahanan pemain sialan itu! Chronus!” Jawab Astaroth.


Bersambung...