
Di kolam air panas, Esir dan Jīngrén berendam tanpa pakaian untuk merelaksasi otot setelah berlatih semalaman. Mereka kelelahan dan merasa ingin berlama-lama di kolam air panas. Sebab jika mereka keluar dan bertemu guru kembali, pastinya mereka akan diberi porsi latihan untuk kesekian kalinya dalam sehari.
“Ah, lelahnya... Kedua tangan dan kakiku memerah, hasil dari latihan semalaman. Namun sekarang, keadaanku jauh terbalik, aku merasa nyaman di kolam air panas ini, bahkan saking nyamannya, 1.000 tahun pun aku mampu bertahan di dalam kolam air panas tanpa bergerak sama sekali.” Ucap Jīngrén sambil bersandar pada dinding.
“Ya... kau benar, meski pada tantangan kemarin aku gagal dan malah mendapatkan hukuman darimu, yakni mencarikan item Instant Level yang memiliki presentasi kemunculan sebanyak 1% dari Tortuga, aku mencarinya semalaman sambil berlatih demi menyelesaikan hukuman dengan efisien.” Kata Esir yang mulai merasa ingin pingsan karena kurangnya istirahat.
“Ha ha! Maaf jika hukumannya terlalu sulit menurutmu. Namun, belajarlah dari kejadian ini untuk selalu memiliki persiapan sebelum mencapai harapan.” Saran Jīngrén kepada Esir sambil tersenyum.
“Senior Jīngrén, mengapa ketika kita "Hah" angin yang keluar akan panas? Dan mengapa ketika kita "Huh" angin yang keluar akan dingin? Mengapa hal ini bisa terjadi? Padahal mereka berdua sama-sama angin yang kita keluarkan melalui mulut, dan seharusnya tidak memiliki perbedaan. Menurutku, hal ini adalah diskriminasi dari mulut bagi "Hah", karena angin yang dikeluarkan akan terasa panas dan memiliki bau yang tidak nyaman.” Ucap Esir dengan wajah serius.
“Memang aneh, tapi aku cukup setuju dengan teorimu itu. Jika manusia saja bisa melakukan tindakan diskriminasi, bukankah seharusnya tubuh manusia mampu melakukan hal yang sama. Karena pada dasarnya, mereka berdua masih terikat satu sama lain.” Balas Jīngrén dengan percaya diri akan teori pendukungnya itu.
“Senior Jīngrén, bagaimana jika kita berlatih selama 8 hari setiap minggunya? Maksudku, seminggu itu memiliki 7 hari, dan pertanyaannya, sehari yang tersisa adalah hari apa? Kurasa hal ini mustahil untuk dilakukan, tapi bagaimana dengan tanggapanmu, senior? Mungkinkah dimasa depan kemampuan seperti itu akan terwujud?” Tanya Esir dengan penasaran terhadap jawaban Jīngrén.
“Menurutku, kemampuan yang mirip seperti itu telah muncul di dunia Vanaheim, memungkinkan penggunanya untuk memanipulasi persepsi dunia terhadap sesuatu. Skill tingkat S, Conceptual Control, memiliki 3 jurus utama yang berhubungan dengan konsep, entah itu menciptakan, menghancurkan atau bahkan memanipulasinya.” Jawab Jīngrén dengan seluruh pengetahuan yang dimilikinya.
“Baiklah, informasi yang mengesankan, aku baru tahu. Omong-omong, adakah sosok yang hampir setara dengan Creator of All? Sebab, jika tidak ada, pastinya akan membosankan untuk hidup menjadi yang terkuat. Makanya aku lebih memilih menjadi yang kedua dibanding yang pertama namun tidak memiliki tujuan.” Ucap Esir sambil menyandarkan kedua kakinya pada batas kolam.
“Ada benarnya juga perkataanmu itu. Semenjak aku menjadi yang terkuat, hidupku terasa hampa dan hanya berharap pada tantangan, lebih dari puluhan Pemain telah menantangku, dan mereka semua berakhir dengan berlutut di hadapanku. Bukannya merasa bangga, aku malah merasa bosan dan muak akan kemenangan.” Keluh Jīngrén dengan wajah masam.
“Kembali ke topik, ketika aku menjelajahi hutan bersama guru, kami menemukan sebuah kerajaan yang disebut Kerajaan Ular Cerdas, mereka menyambut kami dengan hangat dan mengadakan pesta kecil-kecilan seperti menyalahkan petasan kepada langit yang tengah gelap gulita. Pada saat yang sama, raja mereka alias Raja Nisroch keluar dari istana untuk memberi sambutan perpisahaan pada sesosok Pemain yang mereka sebut "Zen". Supaya tidak menimbulkan kedengkian, Raja Nisroch menyuruh kami untuk masuk dan berbincang di dalam.”
“Sebenarnya, kami tidak sengaja menemukan kerajaan ini ketika kami tengah berpetualang. Karena penasaran, kami pun masuk ke sini dengan damai dan berniat untuk mencari secercah sejarah dari kerajaan ini. Jika diperkenankan, bolehkah kami melihat beberapa sejarah dari kerajaan ini? Aku penasaran dengan asal muasal ras Ular yang mampu menyalahkan petasan seperti kalian.” Kata Jīngrén dengan nada memelas.
“Baiklah, selama kalian tidak memiliki niatan buruk, aku pasti memperbolehkannya. Jadi, akan kubawakan beberapa buku yang memiliki catatan sejarah dari papan batu, tunggu sebentar, ya.” Balas Nisroch sambil beranjak bangun dari kursi, lalu berjalan menghampiri rak buku yang tersimpan pada pojok ruangan. Menggunakan kedua tangannya, Nisroch mengenggam salah satu buku dengan erat dan diberikan kepada Jīngrén serta gurunya untuk diamati.
“Buku ini berisikan rangkuman dari sebagian kecil sejarah Ular Cerdas, buku ini merangkum 2 papan batu yang kurasa paling menarik, sehingga aku cukup semangat dalam mengerjakannya.” Ucap Nisroch sambil kembali duduk dikursinya.
Pada halaman pertama dari buku tak berjudul itu, tertulis kalau, “Ras Ular Cerdas adalah penghuni pertama dari dunia Vanaheim, mereka diciptakan untuk membuat peradaban yang layak dihuni oleh mahkluk hidup lainnya. Berkat kecerdasan yang dimilikinya, mereka mampu menciptakan peradaban sesuai kemauan Tuhan. Sehingga Tuhan bisa dengan leluasa mengirim calon Pemain menuju dunia Vanaheim. Kriteria yang diinginkan Tuhan adalah menarik, tidak menarik, kuat dan lemah.”
Pada halaman kedua, tertulis bahwa, “Tuhan menciptakan diri-Nya sendiri dan tidak bergantung pada apa pun, dan Tuhan tidak memiliki wujud fisik meski keberadaan-Nya nyata, Dia melebihi ketidakadaan konvensional dan mampu memanipulasi konsep alur cerita yang mengatur alur cerita serta takdir dan adalah dasar dari realitas. Jika konsep alur cerita lenyap, maka realitas akan ikut lenyap. Namun sebaliknya, jika realitas lenyap, maka konsep alur cerita takkan lenyap, sebab konsep itu berada di luar, telah melampaui dan tidak bergantung kepada realitas.”
Pada halaman ketiga, tertulis kalau, “Jika Tuhan berkehendak, apa pun bisa terjadi kepada realitas, dan karena-Nya Pemain memiliki sejarah untuk terbangun dari kematian, dan Dia berhak untuk mengatur sejarah Pemain, seperti memanipulasi, menciptakan dan menghancurkan. Andai muncul sosok yang mampu menyainginya, Tuhan alias Creator of All kebal terhadap serangan normal.”
Pada halaman keempat, tertulis bahwa, “Sound of Darkness, ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Sound of Darkness tidak memiliki wujud fisik, dan adalah konsep suara itu sendiri. Dia mampu merasuki suara yang tercipta dari seluruh semesta, membuatnya bisa memasuki film maupun radio dan menjadi bagian darinya. Sebagai ciptaan paling sempurna, Sound of Darkness telah melampaui kausalitas dan seluruh dualitas, membuatnya tak tersentuh dan tak lagi terikat oleh kehidupan dan kematian. Dia mampu memanipulasi alur cerita dan takdir, meski takkan berefek kepada Creator of All yang keberadaan-Nya lebih tinggi. Namun sebaliknya, Creator of All mampu memanipulasi alur cerita serta takdir milik Sound of Darkness.”
Dan sampailah pada halaman terakhir dari buku ini, halaman kelima. Tertulis kalau...
Bersambung...