
Ketika Hel masih sibuk mengejar Peace, ia tertimpa oleh Manah yang membuatnya seketika tersungkur, “Argh!! Sialan kau, Manah!” Ucap Hel yang kesal seraya bangun dengan kesulitan.
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas, Peace berbalik arah dan melompat ke arah Hel sembari berkata, “Matilah, orang sepertimu tidak layak hidup lebih lama!” Sambil melancarkan jurus menggunakan tangan kirinya. Tiba-tiba, Aura Peace mengecil dan malah berpusat ke tangan kiri Peace. Kini, tangan kiri Peace menjadi sangat menakutkan akibat keseluruhan Aura-nya berpindah ke sana. Aura Peace yang telah terkumpul disatu tempat malah semakin menjadi-jadi hingga lantai arena menjadi retak.
Peace pun memukul kepala Hel hingga hancur tak bersisa, angin sampai terdistorsi, disertai oleh gelombang kejut serta angin ribut yang menghancurkan setengah lantai arena. Sementara itu, Manah terlempar hingga kembali ke kursi penonton.
“Ada apa? Bangunlah! Aku bosan menunggumu beregenerasi, segeralah bangun dan kembali bertarung denganku, Hel!” Ucap Peace sambil melompat mundur untuk menyiapkan jurus dengan mengarahkan telapak tangan kirinya ke arah Hel. Dari telapak tangan kirinya, muncullah sebuah pusaran air yang menciptakan air lainnya tanpa henti dari dalam sana menuju tubuh Hel yang masih terbaring dilantai.
Hel pun beranjak bangun dengan kepala yang tiada, ia mengeluarkan jurus yang membuat jari-jarinya mengeluarkan kuku berwarna hitam yang panjang. Kuku-kuku itu pun digerakkan untuk menghalangi Blue Beam yang datang dari jarak 5 meter dengan kecepatan suara dan sampai pada kuku Hel dengan kecepatan cahaya.
Blue Beam yang melaju dengan kencang malah lenyap keberadaannya setelah menabrak kuku Hel, hal ini bisa terjadi disebabkan oleh Hel yang juga memiliki Skill Sehingga dirinya mampu meniadakan Skill maupun sihir yang mengenai kukunya.
“Sejak pertarungan dimulai, aku sama sekali belum serius... Namun kali ini, aku akan lebih serius! Sebaiknya, kau menyerah saja sebelum kematian menjemputmu, Peace! Kau sama sekali tidak mengerti soal dunia ini, dunia Vanaheim, dunia di mana Pemain ber-Level tinggi lebih kuat dibandingkan Pemain ber-Level rendah. Bagaimana pun, kau tak bisa menghiraukan hal ini. Menyerahlah dari sekarang, aku tak memiliki waktu banyak untuk melawan keroco sepertimu, Peace!” Ucap Hel sambil memulai regenerasinya.
“Keroco? Keroco katamu? Tch, menjengkelkan!” Ujar Peace sambil menerjang Hel dengan amarah yang tak tertahankan lagi, Aura-nya semakin membesar, membuat arena perlahan runtuh. Seperti sebelumnya, ia pusatkan seluruh Aura miliknya ke kepalan tangan kiri, lalu ia luncurkan jurus ke wajah Hel dengan tatapan kosong yang dibaliknya memiliki rasa benci dan kekesalan yang teramat besarnya.
Tanpa disangka oleh Peace, Hel terbang dengan kepala yang sepenuhnya telah teregenerasi, ia terbang sebelum pukulan Peace mendarat diwajahnya, lalu ia mengeluarkan jurus yang membuat gravitasi arena menjadi kacau, bahkan arena sampai terjungkal perlahan, membuat Peace dan lainnya terjatuh ke air tepat 100 kilometer di bawah arena.
“Sial! Bisa-bisa aku kalah kalau begini...! E-Eh?” Tiba-tiba, Ares melompat melalui udara ke arena sambil mengangkat Peace supaya pertarungan terus berlanjut, diikuti oleh Aka Manah yang terbang dari belakang, mereka pun sampai dalam kurun waktu di bawah sedetik.
Pada akhirnya, pertarungan antara Peace dan Ares melawan Hel dan Manah pun dimulai. Dengan kondisi arena yang terbalik, mereka berempat masih bisa berdiri tegak sambil bertatap-tatapan dengan penuh intimidasi. Peace berdiri tepat di samping Ares, sementara itu, 5 meter ke depan, Hel dan Manah juga berdiri bersebelahan, mereka berdua tampak serasi.
“Pha pa pa pa pa pa! Akhirnya aku mendapatkan kesempatan untuk bertarung. Hel, kaulah lawanku! Jangan takut, ya! Aku akan bermain-main terlebih dahulu, setelah bosan akan kuhabisi kau, Hel!” Ucap Ares sambil menodongkan pedangnya ke arah Hel menggunakan tangan kanan.
“Jagoan nih anak... Huh, baiklah jika itu maumu, aku akan menyerang terlebih dahulu, namun terimalah konsekuensinya setelah kau menantangku, Siyah Peace!” Tutur Manah sambil berjalan menghampiri Peace dengan Aura yang meledak-ledak, seakan-akan menggambarkan suasana hatinya saat ini.
Di sisi lain, Ares melihat Manah yang terlalu fokus dengan Peace, ia melupakan kehadiran Ares yang tengah haus akan pertarungan, membuat kesabaran Ares lenyap dan memutuskan untuk menerjang Manah tanpa sepengetahuannya.
Dengan kecepatan yang amat cepat, Ares menusuk mata kanan Manah menggunakan pedangnya, sehingga Manah kehilangan sebelah matanya.
“Argh!! Sialan kau, Ares! Curang!” Ucap Manah dengan panik dan kaget, ia tak menyangka kalau tiba-tiba Ares akan menyerangnya dari kiri.
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas, Peace berlari menghampiri Manah sambil mengambil bongkahan batu yang tercipta dari lantai arena. Ia genggam batu itu erat-erat sambil melompat ke arah Manah, dan dengan sekuat tenaga, ia lontarkan batu itu ke kepala Ares.
“HAA!! AKU BUTUH LEVEL, SIALAN! AKU MUAK TERUS-TERUSAN DIRENDAHKAN!!” Batu itu pun mendarat tepat di atas kepala Manah, membuat kepalanya hancur bersimbah darah. Kemudian, Peace mengarahkan telapak tangan kirinya ke arah Manah yang terkapar tanpa kepala. Telapak tangan kiri Peace memunculkan api yang semakin lama membesar, Peace mengeluarkan jurus dengan memusatkan seluruh api yang dimilikinya ke telapak tangan kirinya. Tanpa perlu basa-basi, Peace langsung melepaskan Heitari dengan jarak semeter dari arah Manah.
"Jangan mengabaikan aku di sini!" Ucap Hel sambil mengeluarkan jurus yang membuat arena berputar-putar layaknya wahana mematikan, Peace dan Ares berusaha untuk bertahan untuk tetap berdiri di arena, sementara itu, Hel hanya santai memandangi mereka berdua. Manah pun beranjak bangun sambil mengangkat bongkahan batu yang membebaninya itu. Kemudian, ia lemparkan batu itu ke arah Peace, namun untungnya, Peace masih sempat menghindar, sehingga ia tidak jadi terjatuh.
“Sialan, Hel bisa mengacaukan arena dengan hanya sebuah jurus, apa-apaan ini?” Ujar Peace dengan heran, sebab ia tidak menyangka kalau Hel memiliki kemampuan sehebat ini.
Tak peduli akan apa yang dihadapinya, Peace menerjang Hel dengan kecepatan cahaya. Namun dengan mudah, Hel menahan pukulan Peace menggunakan kukunya yang tajam itu.
Ketika Manah ingin membantu Hel dengan menerjang Peace, ia malah diterjang terlebih dahulu oleh Ares, Ares menancapkan pedangnya ke jantung Manah yang membuatnya kesakitan.
“Hiraukan saja temanmu itu, Manah! Yang lebih penting sekarang adalah nyawamu. Sword of Mercy, pedang tingkat A yang sangat kuat ini berada di bawah genggamanku, apalagi pedang ini mampu meniadakan apa pun, termasuk peniadaan sihir itu sendiri. Alhasil kau tidak akan bisa meniadakan satu pun sihir dari pedang ini, kau paham?” Ucap Ares sambil tersenyum lebar.