Demon Lord Reborn

Demon Lord Reborn
Chapter 06: Zombie II


Ketika masih berlari, Astaroth melihat ada ranting kayu yang baru saja terjatuh dari pohon yang jaraknya dekat dengannya. Tanpa pikir panjang, Astaroth mengambil ranting kayu itu menggunakan salah satu ular di tubuhnya.


“Matilah!” Ucap Zombie yang sudah siap mendaratkan tinju kematiannya ke wajah Peace. Namun sebelum semuanya terjadi, Astaroth melempar batang kayu ke arah Zombie yang membuat fokusnya terbagi, antara meninju wajah Peace atau menghindari batang kayu yang akan menimbulkan rasa sakit terhadap tubuhnya.


Setelah mempertimbangkan hal itu, Zombie memutuskan untuk fokus mendaratkan tinju kematiannya ke wajah Peace. Dengan penuh gairah dan amarah, Heavy Punch berhasil mendarat di wajah Peace dengan baik.


Seketika wajah Peace dibuat babak belur oleh Zombie dan mengeluarkan sedikit darah dari hidung beserta mulutnya. Peace pun langsung terpental setelah menerima tinju kematian. Namun untungnya, tubuhnya masih tertahan oleh pohon yang seketika membuat pohon itu langsung tumbang.


Sayangnya, akibat dari Heavy Punch juga berdampak kepada Zombie, Mana-nya terkuras menjadi 20 yang membuatnya tidak bisa mengeluarkan jurus lagi, dan tulang tangan kanannya seketika patah setelah meninju wajah Peace yang ternyata sangat keras.


Hebatnya, Zombie masih belum menghilangkan kewaspadaannya, karena seketika ia langsung memalingkan tubuhnya ke arah batang kayu itu, dan langsung menghancurkannya menggunakan tangan kiri yang dikepalkan. Setelah Zombie menghancurkan batang kayu itu, tiba-tiba Astaroth muncul dari belakang batang kayu dan bersiap untuk menusuk mata Zombie menggunakan ranting kayu.


“Apa?! Ternyata batang kayu besar itu hanya pengalihan?! Yang benar saja! Tangan kiriku masih belum siap digunakan, sementara itu, tangan kananku masih sakit dan patah, aku harus berbuat untuk mengantisipasi serangan ini? Mungkin satu-satunya jalan adalah menerima serangan ranting kayu itu, lagipula ranting kayu tidak mungkin melukai tubuhku yang hebat ini.” Kata Zombie dari dalam hati.


Tak disangka oleh Zombie, Astaroth melompat ke arahnya lalu menancapkan ranting kayu itu ke mata Zombie yang membuat mata kanannya terluka. Setelahnya, Astaroth mundur dengan melompat ke belakang. Sambil menahan rasa sakit, Zombie melepas ranting kayu itu dari mata kanannya. Beruntung, dengan Skill Grow ia bisa meregenerasi mata kanannya menjadi normal kembali.


“Sialan kau! Aku tidak menyangka kau akan menancapkan ranting kayu itu ke mataku... Aku yakin, pria bertopi fedora itu masih pingsan dan hampir mati, jadi, selagi ia masih pingsan, aku akan melawanmu dengan fokus, ras Ular Cerdas!” Ucap Zombie sambil masih menahan rasa sakit di matanya yang tak kunjung menghilang.


Dengan penuh amarah, Zombie menyerang Astaroth dengan jurus yang membuat Zombie memukul tanah dan membuat batu tajam di bawah tanah keluar. Batu tajam itu seperti mengikuti Astaroth ke manapun ia menghindar. Namun untungnya, Astaroth sempat menaiki pohon yang membuat batu tajam itu tidak bisa menggapainya.


“Menyebalkan... Ras Ular Cerdas, ras pertama yang tercipta di dunia Vanaheim untuk membangun sebuah peradaban, memang sangat menyebalkan. Kecepatan dan kelincahan yang luar biasa adalah bakat murni dari ras Ular Cerdas, jadinya, jurus Taiak Stone-ku yang hanya menghabiskan 25 Mana tidak bisa mengikuti kecepatanmu.” Kata Zombie dengan kesal.


Sambil perlahan menaiki ranting pohon, salah satu ular di tubuh Astaroth tiba-tiba mengeluarkan racun ke kepala Zombie dengan jumlah yang tidak sedikit. Beruntung, Zombie berhasil menghindarinya dengan hanya menggerakkan kepalanya ke kanan. Karena meleset, racun itu terjatuh ke tanah yang seketika membuat tanah meleleh, diikuti oleh batu-batu di bawah tanah yang juga ikut meleleh.


“Hah...? Racun yang luar biasa, walaupun racun itu cepat menghilang, bahkan dalam hitungan beberapa detik saja.” Ucap Zombie sambil menengok ke arah tanah yang meleleh dengan terkejut.


“Oi, Zombie! Perhatikan aku di sini! Sejak kau memukul Peace, aku sangatlah kesal. Berani-beraninya kau memukul temanku satu-satunya... Akibatnya, rasakanlah kepedihan dari racunku ini. Kau akan menderita dan mati perlahan setelah terkena racunku yang bahkan bisa meniadakan regenerasimu itu. Rasakanlah!” Kata Astaroth dengan kesal yang perlahan terbang dari ranting pohon.


Tiba-tiba, semua ular di tubuh Astaroth menjadi aktif, dan yang di dalam jubah perlahan keluar sambil membuka mulutnya. Dan inilah, jurus pamungkas yang membuat para ular mengeluarkan racun dari mulut mereka ke arah Zombie. Kecepatan racun itu secepat cahaya, sehingga tidak ada kesempatan untuk Zombie menghindarinya.


“Sial... Nampaknya ini memang takdirku... Jika saja aku punya Skill Destiny milik Wizard, pastinya akan kuubah takdir ini. Ayah, ibu, istri dan kedua anakku... Selamat tinggal. Aku akan pergi dari dunia ini, dunia Vanaheim selamanya...” Ucap Zombie yang sudah pasrah.


Toxic Hell pun menghujani tubuh Zombie dengan racun yang membuat tubuhnya berhenti beregenerasi dan perlahan meleleh. Meski begitu, kesadarannya belum menghilang dan hanya rasa sakit yang ia rasakan.


“Astaroth... Tak kusangka, penakut sepertimu memiliki Skill hebat seperti itu... Kira-kira, apa nama Skill-nya, ya... Emerald.” Kata Peace yang sedang bersandar di bawah pohon sambil tersenyum dengan wajah yang masih babak belur. Peace menambahkan, “Oh, ya... Setelah mati, pemain dan monster akan pergi ke mana?” dengan lirih kepada Emerald.


[Saya akan menjawabnya. Astaroth memiliki Skill tingkat A, Poison King, yang didapat dari monster ular berlevel 5 yang membuatnya bisa mengeluarkan dan memanipulasi racun sebebasnya. Sementara itu, jika pemain dan monster mati, mereka akan hidup kembali di dunia Vanaheim, namun semuanya akan dimulai dari awal. Khusus untuk monster, semua ingatan mereka dikehidupan sebelumnya akan menghilang.]


“Oh, begitu, ya... Terima kasih atas penjelasanmu yang berguna itu, Emerald.” Ucap Peace sambil beranjak bangun lalu membenarkan posisi topi fedoranya yang sempat kacau ketika dipukul. Setelahnya, Peace menghampiri tubuh Zombie yang hampir sepenuhnya meleleh, dan hanya menyisakan bagian kepala yang perlahan akan meleleh juga.


Astaroth pun berhenti terbang lalu terjatuh di semak-semak, ia langsung menghampiri Peace setelahnya seraya berkata, “Bagaimana? Aku kuat, 'kan? Pada saat itu, aku tidak berani melawan balik Bile karena tidak memiliki motivasi dalam bertarung... Dan aku juga takut, sih.”


[Sekedar pemberitahuan, Astaroth bisa terbang karena Skill Fly yang didapatnya setelah membunuh monster burung berlevel 1, Strix.]


“Oh, aku paham... Astaroth, kuakui perbuatanmu barusan sangatlah hebat, namun kita tidak perlu merayakan pertarungan tadi terlalu lama. Kita harus pergi ke desa penampungan secepat mungkin.” Ucap Peace yang perlahan wajahnya membaik.


...[Status]...


...Nama : Astaroth...


...Umur : 129 tahun...


...Ras : Ular Cerdas...


...Skill : Poison King, Fly, Adaptation, Eternal, Grow...


...Senjata : Tidak ada...


...Level : 37...


...‹ ›...


...Inventaris Statistik...


...[Keluar]...


Setelahnya, ia langsung menekan tombol Statistik dan memutuskan untuk meningkatkan Agility-nya sebanyak 7 kali.


...[Statistik]...


...Fragment : 0...


...STR : 1 [+]...


...AGI : 37 [+]...


...VIT : 1 [+]...


...MP : 100 [+]...


...HP : 100...


...« ‹...


...Inventaris Status...


...[Keluar]...


“Yosh, selesai. Kalau begitu, saatnya kita melanjutkan perjalanan kita ke desa penampungan.” Ucap Astaroth sambil berjalan memasuki pepohonan, diikuti oleh Peace.