
“Beliau-beliau... Jika kau tahu, aku baru saja mengeluarkan sebagian kecil dari kekuatan Satan Mode. Namun, kau berbicara seakan-akan kekuatan Satan Mode telah mentok, tidak lebih dari itu, konyol sekali. Ha ha ha ha ha ha ha!” Ucap Esir sambil melakukan sikap setengah badan, menyembunyikan Sayf Shaytan dibalik tubuhnya dan melakukan sikap Waki-gamae.
Berlari sebanyak 4 langkah yang diawali oleh kaki kiri, kemudian ia terjang Freya selayaknya kilat. 2 meter sebelum sampai pada posisi Freya, Esir melompat sambil memegang Sayf Shaytan di atas kepalanya dalam garis lurus dan menebas kepala Freya hingga mengeluarkan banyak darah memakai sikap Migi Jodan.
Tak ingin memberi kesempatan, Esir berbalik arah kepada Freya sambil memegang Sayf Shaytan di atas kepala pada sudut 45° ke samping dan 45° ke bawah. Pinggul sedikit diputar, hanya mengikuti garis yang dibentuk oleh lengan dan kaki kiri. Kemudian, Esir menebas titik buta atau punggung Freya hingga berlumuran darah memakai sikap Hidari Jodan.
“M-Mustahil... Bagaimana bisa kau menembus baju zirahku yang telah diperkuat dengan mudah? Omong kosong macam apa ini?” Freya memalingkan tubuhnya ke belakang sambil melakukan sikap setengah badan, menyembunyikan Sword of Mercy dibalik tubuhnya dan melakukan sikap Waki-gamae.
“Bagaimana bisa sesosok dewi melakukan teknik manusia dengan sempurna? T-Tidak, lebih tepatnya bagaimana bisa dia mengetahui teknik itu? Mungkinkah dia sempat mempelajari teknik itu ketika aku memperagakannya?” Ucap Esir dari dalam hati yang keheranan serta kebingungan akan hal itu.
Freya menerjang Esir sambil melayangkan serangan pada dadanya. Merasa serangannya berhasil, Freya memalingkan tubuhnya kembali ke arah Esir, tepat sebelum Freya menyadari kalau Sword of Mercy terpental jauh dari posisinya saat ini. Sword of Mercy terpental akibat bilahnya bertemu dengan bilah Sayf Shaytan yang mampu membalikkan serangan layaknya pegas.
“Semuanya terkait dengan hukum 3 Newton yang berbunyi, ketika suatu aksi diberikan pada suatu benda, maka benda tersebut akan memberikan reaksi yang sama besar dan berlawanan arah dengan aksi yang diberikan. Sejak awal, aku telah merencanakannya. Semua sesuai dengan rencanaku, tak peduli betapa kuatnya kemampuan meniru gayamu itu, aku mampu menangkalnya dengan cara apa pun.” Ucap Esir sambil berpaling ke arah Freya.
Esir memegang Sayf Shaytan di atas kepala pada sudut 45° ke samping dan 45° ke bawah. Pinggul sedikit diputar, hanya mengikuti garis yang dibentuk oleh lengan dan kaki kiri. Kemudian, Esir layangkan tebasan Sayf Shaytan pada lengan kiri Freya memakai sikap Hidari Jodan.
Sementara itu, Freya menanggapinya dengan meninju tebasan Sayf Shaytan memakai tangan kiri dan menahannya sekuat tenaga supaya berhenti sebelum mengenainya. Rencananya pun berhasil, tebasan Sayf Shaytan lenyap dengan meninggalkan bekas luka ringan pada kepalan tangan kanan Freya.
“Kemampuanmu benar-benar tak bisa diremehkan. Sebenarnya, siapa kau? Untuk sekelas manusia, kemampuanmu mampu setara dengan sesosok dewi, bahkan kau sanggup melukaiku. Pencapaian yang begitu luar biasa, tak bisa diraih oleh kebanyakan manusia.” Ucap Freya yang kagum terhadap Esir, sebab ia mampu bertarung dengan setara bersamanya.
“Senangnya dipuji oleh dewi... Ha ha! Padahal, dipuji oleh kedua orang tua saja aku tidak pernah merasakannya... Meski begitu, aku telah bahagia di sini, dipakai untuk pekerjaan yang menyenangkan.” Balas Esir yang kembali teringat akan masa lalunya.
Beberapa tahun sebelum kedatangan Peace, Esir muda tengah melatih kemampuan bela diri Aikido dengan menghajar samsak bersama seorang remaja berambut hitam panjang, bermata tajam serta berwarna hitam dengan celana putih yang sepadan dengannya.
“Hei, Esir! Bagaimana jika kita memulai tantangan? Jika kau berhasil mendapatkan 100 tinju dalam kurun waktu 50 detik, akanku berikan apa pun yang engkau mau. Namun sebaliknya jika kau gagal.” Seru remaja itu sambil tersenyum dengan semangat.
“Ha ha! Menarik juga, ya. Aku menyetujuinya, selama hadiah berlangsung, Jīngrén. Sebenarnya, aku sedikit bosan setelah melatih kemampuan bela diri Aikido-ku semalaman, jadinya aku butuh hiburan yang menantang.” Jawab Esir sambil membalas senyuman Jīngrén.
“Oh, baiklah kalau begitu, Esir. Kurasa tak perlu berlama-lama lagi, kita mulai saja tantangan ini dalam hitungan... 3... 2... 1,5... 1!” Ucap Jīngrén dengan penuh gairah karena penasaran akan seberapa jauh kemajuan Esir sebagai juniornya.
Esir mampu memberikan sebuah tinju yang cukup keras, hingga samsak terombang-ambing dan malah membuatnya sulit untuk ditinju. Esir berkata dari dalam hati sambil merenungkan kesalahannya, “Sialan, bisa-bisanya aku membuat kesalahan yang cukup fatal. Aku harus menurunkan tenaga supaya kejadian yang sama tak terulang lagi.”
00:02’00"00
Esir melayangkan tinju keduanya pada samsak dengan tenaga yang lebih rendah dari sebelumnya. Namun sayangnya, tinju Esir gagal dan meleset dari samsak yang terus terombang-ambing akibat kesalahan dari tinju pertamanya.
“Andai aku mampu memanipulasi waktu, pastinya akan kuulang kejadian ini menjadi lebih baik... Ah, aku jadi teringat dengan perkataan guru yang berbunyi, “Daripada mengulang kejadian dari awal supaya dipandang baik, aku lebih memilih memperbaikinya meski dipandang buruk. Begitulah sosok pria yang sesungguhnya, menerima kritik dan tidak lari darinya.” Ucap Esir dari dalam hati yang teringat akan perkataan dari gurunya.
00:03’00"00
Pada detik ketiga, Esir meluncurkan kedua tangannya kepada samsak yang mulai melambat, sehingga kedua tangan Esir mampu mendarat dengan baik pada samsak. Esir berkata dari dalam hati dengan lega, “Ya, baik sekali! Dalam kurun waktu 3 detik, aku mampu memberikan 3 tinju pada samsak dengan sempurna. Kini, aku harus mempercepat setiap tinjuku.”
00:04’00"00
Kemudian, Esir melayangkan 4 tinjunya dalam kurun waktu sedetik, membuat Jīngrén merasa bangga kepada Esir yang jauh berkembang dari hari-hari sebelumnya. Jīngrén berkata dari dalam hati sambil tersenyum, “Andai guru melihat ini, pastinya dia akan bangga padamu, Esir. Kemarin, kau hanya mentok pada 2 tinju dalam kurun waktu sedetik. Namun kini, kau telah melampauinya dengan sempurna.”
00:44’00"00
Kini, Esir telah mengayunkan tinjunya kepada samsak sebanyak 80 kali dalam kurun waktu 40 detik. Dan sebentar lagi, Esir akan mendapatkan hadiah dari Jīngrén karena berhasil menyelesaikan tantangan ini dengan sempurna, ia sangat percaya akan hal itu.
00:48’00"00
4 detik telah berlalu, Esir yang bersemangat berubah menjadi kelelahan setelah melakukan 8 tinju dalam kurun waktu 4 detik, sehingga hasilnya menjadi 88 tinju yang telah dilayangkannya kepada samsak. Terpaut jauh dari tujuan, padahal waktu tersisa 2 detik lagi.
“Terasa mustahil... Benar-benar mustahil... Tidak, katakanlah mungkin jika harapanmu belum usai. Dan memang seharusnya, “Sesosok pria tidak menyerah jika harapannya belum benar-benar usai.” Ucap Esir yang semangatnya kembali membara.
Bersambung...